Kategori
Artikel

Kita harus meyakini, bahwa agama yang kita peluk, adalah agama yang paling benar.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta – “Kita harus meyakini, bahwa agama yang kita peluk, adalah agama yang paling benar.

Akan tetapi,
KEYAKINAN itu jangan sampai membuat kita menilai agama lain salah, dan memaksa saudara kita yang berbeda dengan kita, harus seperti kita.

Inilah bibit radikalisme dalam arti negatif dan ekstrimis tumbuh”.

 

“Untuk itu, kita dituntut untuk rendah hati, untuk bisa membuka sedikit ruang toleransi dengan saudara-saudara kita yang mempunyai tafsir dan cara pandang yang tidak sama dengan kita”.

 

Allah adalah Dzat yang Maha Sempurna, tidak terbatas.
Sedang manusia adalah makhluk yang terbatas.

Ketika manusia akan menafsirkan kehendak Allah yang tertulis dalam Alquran, maka makhluk yang terbatas tidak akan mampu memahami secara komprehensif maksud dari Yang Maha Tidak Terbatas.

 

“Kita hanya berupaya semaksimal mungkin, berupaya sesempurna mungkin.
Karenanya, wajar jika kemudian muncul banyak tafsir.

Kita harus rendah hati dan mengakui keterbatasan kita”.

 

Dari sikap rendah hati tersebut, untuk untuk terus memelihara, menjaga, dan merawat kehidupan berbangsa dan bernegara.

Masyarakat Indonesia terlahir dalam keadaan berbeda, sehingga Indonesia tumbuh sebagai bangsa yang majemuk.

 

Masyarakat Indonesia juga dikenal sebagai umat yang religius di mana agama mempunyai tempat istimewa sejak ratusan tahun lalu.

KEYAKINAN KEBERAGAMAN YANG KUAT MENJADI PONDASI DALAM MERAWAT KEMAJEMUKAN BANGSA.

GESEKAN DALAM KEBERAGAMAAN JIKA TIDAK DIANTISIPASI BISA MENJADI ANCAMAN SERIUS DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA.

📧
“Mari kita perbaiki diri kita untuk menjadi lebih baik dan bermanfaat, baik bagi diri, keluarga maupun masyakarat luas”.-

 

Sebagai mayoritas, umat Islam harus mengayomi dan melihat keragaman dari sisi positif.

“Keragaman adalah given dari Allah SWT.
Ini merupakan sunnatullah dan ejawantah dari kasih sayang Allah pada hamba-Nya.

Banyak hikmahnya bisa kita petik dari keragaman yang kita miliki ini.
Yakinlah, Allah tidak akan memberikan hal negatif pada kita.

Bahkan murka Allah pun, sebenarnya juga bentuk dari kasih sayang Allah pada kita”.

 

Dakwah adalah mengajak.
Karena itu, apa pun alasannya, tidak diperbolehkan untuk menghujat, apalagi mengutuk orang yang memiliki pandangan berbeda.

 

Jika ada saudara kita salah, harus kita kasihi, kita ajak, kita dakwahi untuk menuju jalan yang diridhai Allah.

Bahkan, kita pun harus mengayomi saudara yang berbeda pendapat dengan kita, bahkan walau kita tidak satu iman sekalipun.

 

INTINYA,
SETIAP MANUSIA HARUS KITA MANUSIAKAN

(Rn)