KITA HARUS MALU KEPADA BANGSA KOREA YANG NYARIS TIDAK MEMILIKI SUMBER DAYA APA PUN,

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BisirNews.Com,Jakarta –  KITA HARUS MALU KEPADA BANGSA KOREA YANG NYARIS TIDAK MEMILIKI SUMBER DAYA APA PUN,

TETAPI MEREKA MEMILIKI PENGETAHUAN DAN IMAJINASI UNTUK MENJADI BANGSA BESAR.

*Iklim Investasi di Indonesia*

Perfektif yang lebih luas tentang perekonomian dunia yang tengah terjadi.
Dunia sekarang sudah berubah.

Semangat perdagangan bebas yang didengung-dengungkan sejak pertemuan para pemimpin Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik sudah dilupakan.

Organisasi Perdagangan Dunia pun hanya hadir untuk menyelesaikan sengketa-sengketa perdagangan yang terjadi.
Paradigma tentang terjadinya globalisasi sudah harus kita tinggalkan.

 

DUNIA JUSTRU SEDANG MENGARAH KE YANG NAMANYA DEGLOBALISASI.

Semangat yang muncul ialah
nasionalisme,
populisme, dan
proteksionisme.

 

APA INDIKATOR DARI PERUBAHAN BESAR ITU?

 

Itu bisa dilihat dari keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa.
Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump pun cenderung melihat ke dalam.

AMERICAN FIRST merupakan bukti nyata dari yang namanya NASIONALISME, POPULISME, DAN PROTEKSIONISME.

Perubahan itu tentu bukanlah sebuah malapetaka.
Itu harus dilihat sebagai tantangan yang mewajibkan kita untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.

Kita harus lebih cerdas dalam membaca keadaan dengan melihat apa yang menjadi kepentingan bangsa ini ke depan.

APA TANTANGAN INDONESIA KE DEPAN?

📍 PERTAMA ialah jumlah penduduk Indonesia yang akan mencapai 300 juta jiwa pada 2050 yang akan datang.

📍 KEDUA, dengan jumlah penduduk kelima terbesar di dunia itu, akan banyak warga yang akan tua sebelum kaya.

 

Kondisi itu akan membawa persoalan KETIGA,
📍 yaitu beban negara untuk memberi pelayanan kesehatan menjadi semakin berat.
Untuk menjawab tantangan tersebut, negara harus lebih pintar melihat potensi yang dimiliki.

Semua potensi harus dioptimalkan untuk kepentingan negara karena tanggung jawab untuk melindungi segenap kehidupan warga ada di tangan negara.
Hal itu hanya akan bisa kita lakukan kalau kita selalu mendahulukan sikap rasional daripada emosional.

Terutama dalam bernegosiasi tidak bisa kita hanya menggunakan sikap ‘pokoknya’.

Kita harus cerdas agar kita bisa menangkap ikannya tanpa membuat keruh air kolamnya.
Di sinilah kita sering kali tidak memiliki kesabaran.

APALAGI KETIKA KEPENTINGAN POLITIK PRIBADI LEBIH MENONJOL DARIPADA KEPENTINGAN NEGARA.

 

Akibatnya kepentingan jangka panjang dikorbankan untuk kepentingan jangka pendek.
Salah satu contohnya dalam penanganan persoalan PT Freeport Indonesia.

Kita harus mengakui,
Perusahaan itu merupakan pembayar pajak terbesar negeri ini.
Freeport juga memiliki deposit mineral yang besar, yang nilainya diperkirakan mencapai US$100 miliar.

Potensi yang ada di Freeport tentu bisa kita manfaatkan untuk memikul beban pembiayaan kesehatan negara pada 2050 nanti.
Namun,
Cara yang dilakukan untuk menjadikan Freeport sebagai aset jangka panjang tidak bisa dilakukan dengan cara emosional seperti sekarang.

 

Harus dipakai cara yang lebih elegan sehingga tidak muncul kesan
HOSTILE TAKEOVER.

Mengapa?

Karena kita tidak bisa hanya mengandalkan kepada Freeport saja. Kita membutuhkan
‘Freeport-Freeport’
Yang lain karena beban jangka panjang kita sangat besar.

 

Kalau kita membuat
‘partner-partner’
Tidak nyaman untuk berinvestasi di Indonesia, potensi lain yang kita miliki, tidak akan bisa kita optimalkan untuk kepentingan bangsa.

Kepentingan Politik jangka pendek itu bisa mengganggu minat berinvestasi di Indonesia.

 

Kita begitu ngotot untuk mengambil alih kepemilikan Freeport di Grasberg, tetapi tambang emas Wabu di sebelahnya, yang sudah diserahkan kembali oleh Freeport ke Indonesia, tidak segera kita eksploitasi.

 

Inilah yang seharusnya membuat kita segera berbenah diri.
Waktu yang kita miliki untuk menjadi bangsa kuat dan mandiri tidak lama lagi.

Sementara itu,
Kita belum selesai dengan persoalan diri sendiri, yakni membangun masyarakat yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga sarat dengan imajinasi untuk menghasilkan karya besar.

 

Dalam perubahan besar ini,
Kita jangan mencari musuh yang tidak perlu.

Energi itu harus dipakai untuk tujuan yang produktif, bukan hanya untuk berkelahi.

(Rn)