Kategori
opini publik

Ki Hajar Dewantara : Pendidikan Di sekolah Untuk Memperkuat Karakter Siswa

 

 

Oleh : Dr. Dhedi Rochaedi Razak, S.HI, M.

 

Busur News Com ,Jakarta –Pendidikan karakter seperti yang diutarakan Ki Hajar Dewantara, adalah program pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui empat dimensi pengolahan hidup, olah rasa, olah pikir, olah hati dan olah raga.

Pendidikan karakter harus menjadi roh atau poros dalam pengelolaan pendidikan nasional.

Pemerintah, tengah mengarahkan basis pendidikan karakter sebagai ketahanan nasional bangsa –

“Ada lima penerapan nilai utama dalam pendidikan karakter religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas.

Kita mengarahkan sekolah untuk fokus memberi prioritas pada nilai-nilai itu, dalam setiap pembelajaran, pengembangan budaya sekolah maupun dengan masyarakat,”

Lima nilai tersebut merupakan preferensi dan pilihan yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dengan melihat apa yang dibutuhkan bangsa Indonesia ke depan.

Mencontohkan nilai religius sangat penting diterapkan karena adanya persoalan mengenai agama yang belum dipahami secara baik, sehingga memunculkan persoalan.

“Adanya masalah religiusitas kenapa agama sepertinya belum dipahami dengan baik, sehingga banyak perkelahian, permusuhan pembakaran gereja, pembakaran masjid, dan lainnya, berarti ada masalah dengan religius.

*Itu sebabnya kita ingin membuat nilai di mana faktor religius benar-benar membantu seseorang untuk berkorelasi dengan Tuhan, sesama manusia dan alam semesta*,”. –
Pendidikan karakter tidak bisa hanya diterapkan dalam sekolah melalui kegiatan intrakulikuler ataupun ekstrakulikuler.

Harus ada peran masyarakat seperti orangtua, lembaga pemerintahan serta komunitas.
Implementasi pendidikan karakter di sekolah tidak mudah.

Dalam hal pendidikan karakter di sekolah, selama ini dianggap hanya tanggung jawabnya guru Bimbingan Konseling (BK) ataupun guru agama.
Padahal pendidikan karakter semestinya melibatkan kongnitif, perasaan dan aksi dari siswa.

“Harus ada aktor lain yang terlibat, pendidikan karakter harus dikawal oleh banyak pihak baik di dalam dan di luar sekolah,”.

Perlu ada sinergi antara pihak sekolah dengan orang tua dalam penerapan pendidikan karakter.

*Terutama di sekolah, para guru sebagai role model bagi peserta didik membutuhkan pelatihan dan penguatan*. –

Berhasil atau tidaknya pembentukan karakter siswa tidak lepas dari peran guru sebagai role model.
Terlebih belakangan muncul persoalan radikalisme dan kekerasan di kalangan pelajar.

Dibutuhkan guru yang punya motivasi untuk berkembang dan belajar.

Sehingga perubahan tersebut dapat disikapi sebagai masalah.

 

(Riena)