Kategori
Artikel

ketika daerah yang dihuni Nabi Musa dan kaumnya dari golongan Bani Israil kekurangan air. Sumber air

 

Oleh:Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta – Pada suatu ketika daerah yang dihuni Nabi Musa dan kaumnya dari golongan Bani Israil kekurangan air.

Sumber air dari sumur, sungai, dan danau sudah mulai mengering.
Hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi air yang ada di sungai, sumur, dan danau akan habis menguap begitu saja oleh panasnnya terik matahari.

Karena sudah lama tidak turun hujan, permukaan tanah mulai belah, tanah-tanah ringan berterbangan menjadi debu, pohon rindang daunya sudah banyak yang berguguran.
Bahkan,
Di antara pohon yang lebat dengan buah dan daunnya sudah telanjang tinggal batangnya saja.

Sementara,
Binatang-binatang ternak terlihat mulai sempoyongan menahan kelaparan dan kehausan.
Terutama, bagi hewan herbivora sudah banyak yang bergelatakan karena makanan pokoknya, rumput, sudah kering.

Dari sekian banyak makhluk di bumi yang Allah SWT ciptakan, hanya manusialah yang masih mampu bertahan.
Manusia masih bisa hidup dengan menggunakan akal pikirannya untuk melawan rasa haus dan lapar.
Sementara,
Untuk Hewan dan Tumbuhan sudah banyak yang mati karena kemarau panjang.

Mereka kaum Nabi Musa sudah tidak kuat lagi dengan cobaan yang Allah SWT berikan dengan menurunkan kemarau panjang.
Untuk itu,
Setiap umat Nabi Musa berkumpul menuju rumah Nabi Musa, tujuannya yang tak lain untuk meminta agar Allah segera menurunkan hujan.

“Karena kalau terus seperti ini kita tidak sanggup lagi.
Untuk itu, mari kita temui Nabi Musa,”
katanya di antara kaum Bani Israil.

–. Berbodong-bondonglah Bani Israil menuju rumah Nabi Musa.
Masing-masing di antara mereka menuntut sambil penuh harap agar Nabi Musa bisa menyelesaikan permasalahan kemarau panjang yang menimpa negerinya.

“Wahai Musa, tolonglah doakan kami kepada Tuhanmu supaya Dia berkenan menurunkan hujan untuk kami,”
pinta salah satu kaum Nabi Musa yang ada di dalam rombongan itu.

Mendengar jawaban itu,
Nabi Musa yang sedang fokus beribadah menemui umatnya.
Setelah mendengarkan beberapa keluhan kaumnya, Nabi Musa berangkat menuju tanah lapang untuk minta diturunkan hujan.
Jumlah mereka kurang lebih 70 ribu orang.

Kisah Nabi Musa berdoa meminta hujan ini diabadikan dalam Alquran surah
al-Baqarah ayat ke-186.

Allah SWT merespons doa perminta Nabi Musa dengan berfirman.

“Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi.
Akan tetapi, bersama denganmu ini, ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama 40 tahun.
Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini.
Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya.”

–. Mendengarkan firman Allah SWT, Nabi Musa kembali berkata,
“Wahai Tuhanku, aku adalah hamba-Mu, suaraku juga lemah, apakah mungkin suaraku ini dapat didengarnya, sedangkan jumlah mereka lebih dari 70 ribu orang.”

Mendengar perkata itu, Allah SWT kembali berfirman,

“Wahai Musa, kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka.”

Menuruti apa yang diperintahkan Allah, Nabi Musa lalu berkata kepada kaumnya.
“Wahai seorang hamba yang durhaka yang secara terang-terangan melakukannya sampai 40 tahun, keluarlah kamu dari rombongan ini karena kamulah hujan tidak diturunkan Allah SWT.”

Mendengar seruan dari Nabi Musa itu, si fulan yang durhaka berdiri sambil melihat ke kanan dan kiri.
Akan tetapi,
Dia tidak melihat seorang pun yang keluar dari rombongan itu.
Si fulan tetap saja memendam kesalahannya meski ia niat bertobat.

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah durhaka kepada-Mu selama 40 tahun.
Walaupun demikian, Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan ketaatan maka terimalah tobatku,”
begitu doanya.

–. Beberapa saat selepas itu, awan bergumpal di langit, setelah itu hujan pun turun dengan deras.
Melihat keadaan demikian, Nabi Musa berkata.

“Tuhanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah di antara kami tidak ada seorang pun yang keluar mengakui dosanya?”

Seketika, hujan pun lebat.
Umat Nabi Musa bergembira atas turunnyan hujan yang sudah lama dinantikan.
Sementara,
Nabi Musa tetap berdialog dengan Allah SWT untuk meminta dijelaskan mengapa hujan diturunkan sebelum Musa melihat orang berdosa itu keluar dari kerumunan.

Dari penjelasan itu, Allah SWT berfirman,

“Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga disebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab tidak menurunkan hujan kepada kamu.”

 

Karena masih penasaran, Nabi Musa tetap ingin Allah SWT memberitahu siapa umatnya yang Allah SWT maksud telah melakukan dosa secara terang-terangan selama 40 tahun.

Untuk itu, ia berkata.
“Tuhanku, sebenarnya siapakah gerangan dia?

Perlihatkanlah dia kepadaku siapa sebenarnya hamba-Mu itu?”

Namun,
Allah SWT tidak menuruti permintaan Nabi Musa untuk menunjukkan hambanya yang berdosa itu.
Allah SWT berfirman.

“Wahai Musa, dulu ketika ia durhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka aibnya.

Apakah sekarang Aku akan membuka aibnya itu ketika dia telah taat kepada-Ku?

Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu.
Apakah sekarang Aku harus menjadi pengadu?”

Dengan menurunkan hujan itu bahwa Allah telah mengabulkan doa orang berdosa yang meminta dihapuskan segala dosanya.
Allah memaafkan dosa orang misterius yang dilakukan selama 40 tahun meski dengan tobat sekejap.

Untuk itu,
Sebagai umat Islam kita tidak boleh putus asa untuk terus meminta diampuni dari segala dosa karena Allah SWT sangat cinta terhadap orang-orang bertobat.

 

Maka tidak ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami,
Kecuali Mengatakan:

SESUNGGUHYA KAMI ADALAH ORANG-ORANG YANG ZALIM.
(QS al-A’raf [7]:5).

(Rn)