Kategori
Artikel

Keteladanan adalah perilaku yang mudah untuk diucapkan dengan kata-kata tapi teramat sukar untuk dijalani

 

Oleh: Dhedi Razakbb

Busurnews.com, JAKARTA —Keteladanan adalah perilaku yang mudah untuk diucapkan dengan kata-kata tapi teramat sukar untuk dijalani, apalagi di zaman sekarang.
Keteladanan membutuhkan prasyarat-prasyarat yang cukup berat seperti keluasan ilmu, konsistensi, sinkronisasi, dan tentu saja niat yang benar untuk meraih keridhaan Allah SWT.
Perilaku utama harus bermula dari diri sendiri. Rasulullah SAW menyatakan dengan kalimat pendek, ”Mulailah dari diri sendiri.”
Bagaimana rakyat akan percaya kalau para pemimpinnya tidak pernah mengamalkan segala hal yang digembar-gemborkannya.
Perilaku ini sangat dicela Allah SWT.

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

”Apakah patut kamu menyuruh manusia berbuat kebaikan sedangkan kamu sendiri tidak melakukannya, padahal kamu membaca Kitab. Apakah kamu tidak mempunyai akal?”
(QS al-Baqarah: 44).

Dalam tafsirnya, Mahmud Yunus mengatakan, ”Tidak layak kita menyuruh orang berbuat baik tapi kita lupakan diri sendiri.
Kita suruh orang beramal saleh tapi kita berbuat maksiat, kita suruh orang berlaku jujur tapi kita sendiri korup, manipulatif, dan curang.
Orang-orang seperti itu dipertanyakan oleh Allah.
Apa kamu tidak berakal?”
Orang yang berakal adalah orang yang selalu melakukan apa yang dianjurkannya itu secara konsisten.
Tidak ada lagi jarak antara teori dan praktik.

Krisis keteladanan membuat masyarakat sering apatis dan masa bodoh terhadap pemimpinnya.
Rakyat disuruh hidup sederhana sedangkan pejabat dan para pemimpin lebih dulu menaikkan gaji.

Rakyat disuruh berhemat, mengencangkan ikat pinggang, sedangkan di sisi lain pejabat dan para pemimpin menikmati kemewahan dengan berbagai tunjangan yang telah lebih dulu dinaikkan.

Bagaimana bisa dalam kondisi seperti ini rakyat memberi hormat kepada para pejabat.
Setiap orang membutuhkan keteladanan yang konsisten dan dilandasi niat yang transenden, untuk memotivasi diri agar hidup tidak kehilangan energi.
Rasulullah SAW adalah manusia yang tidak bersifat muluk-muluk, namun beliau konsisten dengan keteladanannya dan pengaruhnya diakui dunia

 

@drr