Kategori
Artikel

Kenormalan baru atau new normal menjadi term baru yang akrab di telinga kita di masa pandemi ini.

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Kenormalan baru atau new normal menjadi term baru yang akrab di telinga kita di masa pandemi ini.
Berbagai aspek kehidupan berusaha menyesuaikan dengan keadaan agar kehidupan bisa berjalan normal.
Para pekerja bisa kembali bekerja, guru dan murid bisa terus belajar.

Intinya bidang ekonomi, politik, sosial, hingga pendidikan bisa kembali normal setelah sempat mengalami jeda beberapa saat meskipun yang menjadi titik tekan yaitu bagaimana agar masyarakat bisa beraktivitas normal dan mampu mencukupi kehidupan sehari-hari, tetapi bisa terhindar dari virus korona.

Dalam bidang pendidikan, lembaga pendidikan formal seperti sekolah dan universitas tak lagi hanya mengandalkan tatap muka langsung.
Namun, peran teknologi menjadi sangat vital.
Tatap muka tetap penting dalam proses belajar mengajar sehingga tidak bisa dinihilkan sama sekali.
Hadirnya kenormalan baru ini membuat sekolah dan universitas harus berbagi peran dengan ruang sekitar.
Bapak Pendidikan Nasional jauh-jauh hari telah mengingatkan kita tentang konsep

Sistem Trisentra dalam buku Ki Hadjar Dewantara bagian I Pendidikan (1977: 70) dituliskan,
‘Di dalam hidupnya anak-anak ada tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya, yaitu: alam keluarga, alam perguruan dan alam pergerakan pemuda’.

Alam keluarga Sejak awal bapak pendidikan kita telah menempatkan keluarga sebagai pusat pendidikan.
Sejak lahir, anak tumbuh besar bersama keluarga. Keluargalah yang menjadi titik tumpu anak dalam belajar. Orangtua bisa membentuk anak menjadi anak yang baik, cerdas, atau sebaliknya anak yang nakal. Sejak hadirnya adab kemanusiaan, hidup keluarga memengaruhi tumbuhnya budi pekerti dari tiap-tiap manusia. Selama masa pandemi covid-19 ini, kita diingatkan kembali pesan Ki Hadjar Dewantara bahwa setiap rumah bisa menjadi sekolah sehingga visi misi pendidikan tak sekadar menjadi kewajiban tunggal sekolah, tetapi menjadi satu tarikan napas bersama. Selama belajar di rumah, anak belajar secara daring. Orangtua juga ikut hadir baik membantu menjelaskan hingga membantu mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Banyak orangtua tersadar bahwa tugas mengajari anak bukanlah pekerjaan yang mudah. Butuh pengetahuan yang cukup dan cara dalam mengondisikan anak hingga mau tekun belajar. Selain menyampaikan pesan tentang pentingnya pendidikan keluarga, beliau menyampaikan kritik terhadap sistem sekolah ‘model barat’. ‘Apabila sistem pendidikan dapat memasukkan alam keluarga itu ke dalam ruangannya, maka Ibu Bapak itu terbawa oleh segala keadaannya, akan dapat berdiri sebagai guru (pemimpin laku adab), sebagai pengajar (pemimpin kecerdasan fikiran serta pemberi ilmu pengetahuan) dan sebagai contoh laku kesosialan; niscayalah bersatunya alam keluarga, alam perguruan dan alam pergerakan pemuda itu akan dapat lebih berhasil daripada sistem sekolah model barat, yang kita alami zaman kini’. Alam perguruan Meskipun teknologi hadir dalam sendi pembelajaran, bukan berarti teknologi mengganti sekolah atau universitas secara keseluruhan. Ada materi yang tidak cukup diberikan tanpa perantara guru atau dosen. Mereka butuh bimbingan langsung hingga latihan sehingga tercipta karya yang baik. Sekolah juga merupakan ajang bagi siswa untuk berinteraksi. Belajar mengatur emosi hingga mempraktikkan teori yang didapat baik melalui eksperimen terhadap tumbuh-tumbuhan dan hewani hingga interaksi sosial bersama teman. Anak yang hanya cerdas secara pikiran tidak akan mampu menghadapi tantangan zaman yang membutuhkan keterampilan kolaborasi dan komunikasi. Beliau melanjutkan, ‘sistem sekolahan selama masih ditujukan kepada pencairan dan pemberian ilmu dan kecerdasan pikiran, akan selalu bersifat zakelijk atau tak berjiwa, dan oleh karenanya akan terus sedikitlah pengaruh pendidikannya atas kecerdasan budi pekerti dan budi kesosialan’. Alam pergerakan pemuda Ki Hadjar Dewantara mendefinisikan alam pergerakan pemuda sebagai pergerakan pemuda-pemuda yang pada zaman kini terlihat sudah tetap adanya (geconsolideerd), harus diakui dan dipergunakan untuk menyokong pendidikan. Kehidupan selalu berkembang secara dinamis. Begitu juga dengan gaya hidup dan pola pikir siswa. Siswa Indonesia bisa dikategorikan sebagai generasi Z (kelahiran 1996-2010) dan generasi Alfa (kelahiran 2010-2019). Inilah yang menjadi tantangan sekolah dan universitas.

Selain tugas utamanya dalam mencerdaskan pikiran siswa, mereka harus menemukan pola pengajaran terhadap mereka.
Di situ saya sampaikan bahwa generasi ini sudah sangat akrab dengan teknologi, terutama gawai.
Kecepatan mereka dalam mengoperasikan teknologi untuk mencari informasi dan melakukan komunikasi secara instan sangat luar biasa.
Tanpa perlu diajari, mereka bisa mempelajarinya sendiri.
Oleh sebab itu, mereka tidak hanya menjadikan guru dan buku di sekolah sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi gawai yang ada di tangan akan menjadi tempat berselancar sebagai sumber belajar.
Di sini guru punya tantangan tersendiri untuk menghadirkan proses belajar yang kreatif dan atraktif agar siswa tertarik menyimak pelajaran.
Jika tidak, yang ada siswa akan merasa bosan dan mengantuk karena karakter siswa pada dua generasi ini mudah bosan.

Pada akhirnya, kenormalan baru dalam pendidikan harus dihadapi dengan cara pandang dan sistem yang baru juga.

Salah satunya dengan menerapkan konsep Sistem Trisentra Ki Hadjar Dewantara.

Bisa jadi gagasan ini merupakan pemikiran old, tetapi sangat relevan untuk diterapkan di masa new normal.

@drr