Kategori
Artikel

Kendala pembelajaran era pandemi ialah ketersediaan internet, peran orangtua sebagai guru, dan bahaya covid-19.

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews, JAKARTA — Kendala pembelajaran era pandemi ialah ketersediaan internet, peran orangtua sebagai guru, dan bahaya covid-19.
Spirit kemerdekaan mengajarkan kesatuan dan gotong royong antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Guru, orangtua, dan masyarakat harus bekerja sama dalam pembelajaran daring atau pembelajaran tatap muka. Sekolah, keluarga, dan masyarakat Sekolah harus menyediakan internet dan laptop untuk guru mengajar daring. Guru datang ke sekolah seperti biasa. Guru mengajar di ruang kelas masing-masing melalui laptop. Belajar daring hanya satu sampai tiga jam sehari. Kepala sekolah melakukan evaluasi pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebulan sekali. Di daerah yang tidak ada internet, guru datang seminggu sekali ke kantor desa atau tempat yang disepakati. Siswa belajar mandiri melalui buku belajar. Siswa mengisi soalsoal latihan, baik pilihan ganda maupun esai. Guru hadir menjawab segala pertanyaan atau kesulitan siswa selama belajar mandiri di rumah. Kurikulum tidak perlu berubah, tetapi perlu disederhanakan jika dianggap perlu. Perbedaan pembelajaran di era pandemi dengan era normal ialah pada cara mengajar, bukan pada materi. Akan tetapi, jika karena kendala tertentu materi tak tuntas, bisa dimaklumi. Selaiknya sekolah swasta menurunkan biaya bulanan karena pembelajaran dilakukan di rumah, sekolah negeri juga diharapkan memberikan keringanan kepada orangtua yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan. Sekolah harus menghindari putus sekolah karena kesulitan ekonomi. Orangtua menyediakan internet, laptop, dan ruang belajar. Mereka mengingatkan anak untuk belajar dan mengerjakan tugas-tugas dari guru. Mereka membimbing anak mengerjakan tugas yang sulit. Mereka juga memberikan motivasi agar anak tetap bersedia belajar mandiri melalui buku-buku belajar. Orangtua meringankan beban anak yang bosan karena belajar dari rumah. Mereka menguatkan jiwa anak, bukan melemahkan. Layaknya guru, orangtua harus mengajarkan anak tanpa kekerasan, paksaan, dan harus menyenangkan. Orangtua mengatur waktu kapan anak belajar dan kapan mereka bermain. Orang tua harus belajar menjadi guru yang digugu dan ditiru. Para orangtua yang anaknya di sekolah swasta hendaknya (tetap) membayar iuran bulanan tepat waktu dan tepat jumlah. Meski pandemi, sekolah tetap harus membayar gaji guru dan staf. Beberapa sekolah dan pesantren hanya menerima sekitar 70% pembayaran dari jumlah siswa mereka. Bahkan, ada yang mengundurkan diri dan pindah ke sekolah yang lebih murah pembayarannya. Perangkat desa, dari kepala desa, RT, dan RW, menyediakan internet gratis bagi warga miskin untuk belajar jarak jauh. Kepala desa bekerja sama dengan provider tertentu untuk internet gratis atau diskon internet. Jika tidak, bisa juga menggunakan dana desa.

Pada jam belajar dan jam-jam tertentu, anak-anak belajar bersama di tempat yang ditentukan. Misal, tempat ibadah, aula desa, atau sekolah. Warga bisa dimobilisasi melakukan gerakan mengumpulkan telepon seluler (HP) bekas layak pakai untuk siswa dari keluarga miskin. Melalui program penyediaan internet dan HP ini, diharapkan pembelajaran dari rumah dapat dilakukan di semua desa. Pandemi tidak boleh melemahkan semangat menuntut ilmu atau belajar anak-anak dan generasi muda. Bagaimana daerah yang tidak ada internet, tetapi tidak melakukan pembelajaran tatap muka? Siswa belajar mandiri melalui buku belajar di rumah masing-masing dan didampingi orangtua. Masyarakat bisa menyiapkan tempat untuk anak-anak berkumpul seminggu sekali. Guru datang ke sana untuk mengajar dan memeriksa tugas-tugas siswa. MI/Duta Gotong royong Beragam kendala dan kesulitan belajar dari rumah tidak bisa seluruhnya dimintakan solusi kepada pemerintah. Apalagi, sampai meminta Mendikbud Nadiem Makarim diganti. Pemerintah telah membolehkan dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk membeli kuota dan membayar gaji guru honorer. Pemerintah juga tetap membayarkan tunjangan profesi guru (TPG), tunjangan hari raya (THR), gaji ke-13, kartu Indonesia pintar (KIP), dan seterusnya. Sousi atas masalah pembelajaran di era pandemi ini ialah kesatuan dan gotong royong guru, orangtua, dan masyarakat. Setiap pihak bekerja sesuai perannya masing-masing seperti dijelaskan di atas. Kerja pendidikan yang selama ini hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah harus diubah menjadi tanggung jawab bersama. Koentjaraningrat (2004: 66) dalam Kebudayaan: Mentalitas dan Pembangunan menulis ‘rakyat mengerjakan suatu proyek berdasarkan gotong royong dengan rasa rela karena yakin bahwa proyek itu bermanfaat bagi mereka. Mereka akan melakukan kerja bakti dengan sungguh-sungguh dan bukan kerja rodi.’ Di era pandemi, orangtua harus berperan sebagai guru di samping mencari nafkah dan mengurus soal-soal domestik. Hal ini tidak mudah karena tingkat pendidikan dan pengetahuan orangtua sangat beragam. Belum lagi sebagian orangtua tidak ada di rumah karena harus bekerja di luar rumah. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan pembantu rumah tangga. Demikian pula kepala desa dan jajarannya bisa membentuk komunitas-komunitas belajar, di samping penyediaan internet di wilayahnya. Dengan demikian, siswa tidak berhenti belajar hanya karena ketiadaan internet atau pandemi. Komunikasi kepala desa dengan kepala sekolah mutlak diperlukan untuk efektivitas pembelajaran jarak jauh ini.

Jiwa gotong royong yang menjadi budaya masyarakat desa harus ditumbuhkan kembali di era pandemi ini.
Di bulan kemerdekaan ini, mari kita tumbuhkan semangat kesatuan dan jiwa gotong royong.
Dengan demikian, di era pandemi, dan bertepatan dengan bulan nasionalisme ini, semoga menjadi momentum lahirnya era gotong royong yang mulai redup di tengah masyarakat–untuk tidak mengatakan sudah hilang.

@drr