Kategori
Artikel

Kelembutan Profetik

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com , JAKARTA —Kelembutan Profetik

Peristiwa kekerasan di Prancis, yang dipicu penggunaan gambar kartun Nabi Muhammad SAW sebagai media pembelajaran, mengundang gelombang protes terhadap respons Emmanuel Macron yang dinilai simplistis dan sarat prasangka keagamaan.

Tidak hanya seruan boikot produk yang semakin meluas, bahkan di beberapa negara tindak kekerasan menguat.

Peringatan Maulid Nabi kali ini seperti mendapatkan momentum bagi sebagian umat untuk menunjukkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW dengan caranya sendiri.

Persoalannya, apakah cinta Nabi harus ditunjukkan dengan gerakan perlawanan kepada penista dengan kekerasan dan sumpah serapah?

Tak kurang dari Grand Syeikh Al-Azhar Mesir, Syekh Ahmad Al-Thayeb, mengutuk pembunuhan itu.
Namun, pada saat yang sama beliau juga menegaskan bahwa menghina agama dan simbol sucinya dengan dalih kebebasan berekspresi ialah standar ganda intelektual dan undangan terbuka untuk kebencian (AlArabiya, 21/10/2020).
Kekerasan bernuansa agama Kekerasan bernuansa agama sedang mengalami eskalasi.

Pada dekade terakhir peningkatan kekerasan sektarian dan ketegangan antaragama sangat terasa.
Mulai ekstremis yang mendorong jihad global, perebutan kekuasaan Sunni-Syiah di Timur Tengah, penganiayaan Rohingya di Myanmar, sampai pada wabah kekerasan Islam Kristen di Afrika dan di berbagai belahan dunia lainnya.
Dengan kasatmata, banyak negara mengalami insiden permusuhan yang dimotivasi kebencian agama, kekerasan massa terkait dengan agama, dan terorisme.

Bagaimana agama yang seharusnya mendukung perdamaian, cinta, dan harmoni malah dihubungkan dengan intoleransi dan kekerasan?

Ilmuwan sosial berbeda pendapat dalam hal ini.

Cavanaugh berpendapat, ketika para ekstremis menggunakan teks-teks teologis untuk membenarkan tindakan mereka, ‘kekerasan agama’ sama sekali bukan agama, melainkan penyimpangan terhadap ajaran-ajaran inti.

Sementara itu, Dawkins percaya, karena agama mendorong kepastian dan menguduskan martir, agama sering menjadi akar penyebab konflik (Muggah dan Velshi: 2019).

Agama, jika berada di tangan yang salah, rentan terhadap pembengkokan interpretasi kitab suci untuk membenarkan atau bahkan memberikan dorongan terhadap tindakan kekerasan.
Kekerasan yang terinspirasi oleh intoleransi agama dapat mencakup intimidasi, pelecehan, dan keterlibatan dalam terorisme.
Biasanya muncul ketika keyakinan yang mendefinisikan identitas kelompok secara mendasar ditantang.
Semacam balasan oleh komunitas in-group terhadap komunitas out-group.
Dalam banyak kasus, kekerasan terjadi atas bantuan para pemimpin agama fundamentalis.

Mereka ini, di atas mimbar-mimbar keagamaan dan di berbagai platform media sosial, dengan lantang meneriakkan ujaran-ujaran kebencian kepada liyan.
Beberapa peneliti menyebutnya sebagai rasa terancam dari komunitas inferior.
Semacam kecemasan sosial, yang apabila dikombinasikan dengan eksklusi politik dan budaya, serta ketimpangan sosialekonomi, dapat meningkat menjadi kekerasan fisik yang ekstrem.
Memang para pemimpin agama sering dikritik karena dipandang tidak cukup melakukan berbagai upaya membendung kekerasan bernuansa agama.
Karena itu, diperlukan peran yang lebih nyata, tidak sekadar mengutuk secara terbuka setiap terjadi tindakan ekstremisme.
Seluruh komunitas iman harus terlibat secara aktif, misalnya dengan membantu rekonsiliasi kaum miskin dan terpinggirkan pascakonflik.
Para pemimpin agama semestinya berusaha memediasi perjanjian damai dan mempromosikan penyelesaian masalah nirkekerasan.
Bukan sebaliknya, mengipasi nyala kekerasan sektarian.
Di era turbulensi dan ketidakpastian seperti sekarang ini, aksi bersama dari komunitas keagamaan yang berbeda dapat menawarkan penangkal penting guna mencegah kekerasan bernuansa agama.
Komunitas agama dapat dan memang seharusnya menawarkan prinsip-prinsip pokok kearifan beragama yang mendorong harmoni sosial.
Saat ini penyebaran nilai empati, kasih sayang, pengampunan, dan altruisme lebih dibutuhkan.

Upaya-upaya untuk mengembangkan kesabaran, toleransi, pemahaman, dialog, dan rekonsiliasi lebih penting daripada polarisasi primordial dan anonimitas berbahaya yang kini banyak disediakan media sosial.

Kelembutan Nabi

Di tengah perilaku kekerasan bernuansa agama yang semakin marak, dendam kesumat yang diperturutkan, sikap lemah lembut seharusnya menjadi pilihan.
Kelembutan hati Muhammad Rasululllah merupakan model paripurna bagi siapa pun. ‘Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.
Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu’
(QS Ali Imran:159).

Ekman (1999), salah seorang psikolog paling terkenal dalam studi emosi, berpendapat bahwa kelembutan ialah emosi dasar yang sering kita abaikan.
Padahal, dengan kelembutan, kepedulian, kasih sayang, empati, dan keakraban dapat secara bersama-sama memberikan rasa aman dan perhatian.
Kelembutan lebih terkait dengan tindakan memberi dan merupakan ekspresi cinta yang paling autentik.
Sebuah kasih tulus yang tidak membedakan suku, ras, dan agama.
Dengan kelembutan, ekspresi kasih menjadi semakin bermakna, terbebas dari beban-beban masa lalu, atau kepentingan pragmatis sesaat. Kelembutan menjadikan kita manusia yang bermartabat.
Namun, tidak semua orang tahu bagaimana menawarkan kelembutan sejati.
Di sini diperlukan kedamaian batin, kematangan emosi, dan pengetahuan diri yang baik.
Karena mencintai dengan sepenuh hati dan menghormati dengan lembut, mengharuskan kita menawarkan yang terbaik dari diri sendiri.
Ini tidak akan pernah terjadi jika kita sudah melarikan diri dari diri sejati.

Terjebak dalam konstruksi pemikiran negatif, yang sadar atau tidak, dibentuk media sosial yang tidak memiliki redaktur.
Sering kali kehalusan budi tidak dipelajari dari buku, tetapi dapat dilihat dan dialami di masa kanak-kanak.

Kelembutan ialah ikatan paling kuat yang kita miliki, mempererat ikatan batin yang kuat dan sehat antara orangtua dan anak.
Jenis dukungan emosional yang paling penting bagi seorang anak.
Bekal kelembutan kasih ini lalu kita teruskan dalam aneka bentuk kegiatan sepanjang rentang kehidupan.
Ini menunjukkan kelembutan harus selalu hadir sepanjang hidup seseorang karena kepedulian dan kelembutan kasih ialah tanda-tanda pendidikan emosi yang berhasil.
Kelembutan perlu terus diekspresikan dalam berbagai kesempatan.

Orang bijak dan berkomitmen untuk menebar kasih tahu benar bahwa kelembutan pada hakikatnya ialah kedekatan.
Bagaimana mewujudkan perasaan dekat satu sama lain.

Semacam keinginan untuk menikmati bahasa kasih dan menyenangkan hati orang lain.

Mari kita ganti benci dengan cinta.
Benci hanya melahirkan amarah, sementara cinta memunculkan kelembutan dan rasa kasih.
Orang saleh berhati lembut.
Mengajak ke jalan Tuhan dengan kehalusan budi.
Bukan dengan kekerasan dan sumpah serapah yang menyakitkan hati.

@garsantara