Kategori
Artikel

Kekhawatiran hilangnya hak kontrol pemerintah atas tiga BUMN tambang yang bergabung dalam INALUM Persero tidak beralasan.

 

Oleh : Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta -Kekhawatiran hilangnya hak kontrol pemerintah atas tiga BUMN tambang yang bergabung dalam holding BUMN tambang PT Indonesia Asahan Alumunium (INALUM) Persero tidak beralasan.

Pasalnya,
Pemerintah masih akan tetap menjadi pemegang saham tertinggi dalam tiga BUMN itu karena memiliki saham seri A atau sering disebut SAHAM DWIWARNA.

Pertama, Saham dwiwarna adalah kunci bagi pemerintah untuk tetap memegang kendali terhadap BUMN yang bergabung dalam holding.

Tiga BUMN yang akan melebur ke Inalum ialah
PT Aneka Tambang (Antam) Tbk,
PT Bukit Asam (PTBA) Tbk, dan
PT Timah Tbk.

“Saham seri A mengendalikan empat hal, yakni penunjukan komisaris maupun direksi.
Jadi nanti itu tetap dari pemerintah, bukan dari Inalum”.-

Kedua, ialah perubahan struktur permodalan. Ketiga, perubahan anggaran dasar yang akan langsung dikendalikan pemerintah

keempat mengenai divestasi.

“Jadi katakanlah kalau ada pertanyaan ‘bisa tidak Inalum menjual’, tidak bisa.
Tetap (kendalinya) itu di pemegang saham seri A”.

Penjelasan meski saham pemerintah di perusahaan anggota holding dialihkan ke Inalum, tetap ada saham dwiwarna di setiap perusahaan anggota holding.

Pemerintah saat ini memegang saham mayoritas di ketiga BUMN tambang yang juga sudah go public tersebut, yaitu 65% di Antam, 65,02% di PT BA, dan 65% di Timah.

“Jadi walau 65% saham pemerintah dialihkan, tetap ada saham pemerintah seri A satu lembar yang kita sebut saham dwiwarna.

Kendali pemerintah terhadap Antam, Bukit Asam, Timah, dan Freeport itu double cover”.

Kendali berlapis itu,
Yakni dari pemerintah langsung yang memiliki saham dwiwarna dan melalui Inakum yang 100% dimiliki negara.

“Jadi sudah dobel kepemilikan pemerintah ini”.

SIAPKAN EKSPANSI
–. Pembentukan holding BUMN tambang bertujuan meningkatkan kapasitas usaha dan pendanaan, mengelola sumber daya alam mineral dan batu bara, meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi, dan meningkatkan kandungan lokal serta efisiensi biaya dari sinergi yang dilakukan.

Dalam JANGKA PENDEK,
Holding baru ini akan melakukan serangkaian aksi korporasi, di antaranya
📍 pembangunan pabrik smelter grade alumina di Mempawah, Kalimantan Barat,
📍 pabrik ferro nickel, dan
📍 pembangunan PLTU di lokasi pabrik hilirisasi bahan tambang sampai dengan 1.000 Mw”

Dalam JANGKA MENENGAH,
Holding BUMN pertambangan akan melakukan
akuisisi dan eksplorasi wilayah penambangan,
Integrasi, dan
Hilirisasi.

Dengan begitu, holding tersebut akan memiliki aset yang besar dan menjadi salah satu perusahaan yang tercatat dalam 500 Fortune Global Company.

“Keberadaan holding pertambangan akan memberi manfaat bukan hanya bagi perusahaan holding dan anak perusahaan anggota holding, melainkan juga bagi pemerintah dan masyarakat”.-

(Rn)