Kata Kepemimpinan yang Belum Matang : Demokrasi Indonesia

Para pemimpin sesungguhnya memang tidak selalu benar setiap saat, juga tidak khawatir untuk melakukan suatu yang baru. Sebagaimana yang dirasakan bila melakukan hal yang cukup baik untuk diri, juga sekitar yang membawa kedalam kehidupan yang nyata. Bukan menarik ke hal fantasi dengan permainan berkonsep opera sabun yang berdampak buruk dalam dunia nyata. Pemberitaan miring bukan lagi penyebab suatu sumber menjadi patah arang, buktinya kini, pemberitaan miring bisa diubah menjadi hal yang menguatkan. Fenomena yang terjadi dalam masyarakat, goncangan yang berupa hadiah yang dapat mengantarkan si empunya ke panggung lebih tinggi, harapan yang berlebihan namun nyata terlihat.

Oleh Zuliana

Indonesia sendiri merupakan negara yang menerapkan sistem demokrasi dalam sistem pemerintahannya. Namun, dalam penerapan demokrasi di Indonesia sendiri mengalami beberapa kali perubahan sesuai dengan kondisi politik dan juga kepemimpinan. Budaya dalam dunia kepemimpinan yang didominasi oleh laki laki yang sering kali  disangsikan, kini para wanita pula haus akan kedudukan dan peperangan bisa jadi karena pemahaman akan pemimpinan yang salah kaprah, semakin distandarkan dan setara tidak juga buat air semakin jernih, semakin mudah terbaca semakin dalam makna yang terkandung. Bukan serta merta apa yang tertulis, seorang pemimpin akhirnya paham sebuah tempat kosong tanpa ada maksud tetap berada di zona kenyamanan semata, proses akan selalu membawa kedalam situasi yang tidak nyaman. Bisikan bisikan kebisingan mulai menghantarkan sebuah pemikiran yang lebih terbuka luas, apa jadinya raga manusia tanpa pemahaman mengenai kepemimpinan?

Kedewasaan adalah prioritas utama. Walau kepemimpinan bukan ditentukan oleh gender, namun secara alamiah laki-laki seharusnya dapat menjadi contoh teladan dalam skala kecil dalam rumah tangga, Proporsi pemahaman mengenai pendidikan yang terbaik pada generasi saat ini untuk siap untuk jadi orang tua, paham akan adanya pemimpin masa depan dan bertransformasi ke arah yang lebih maju dalam skala mikro. Sudahkah kita siap sepenuhnya menjadi maju?, kalaupun ini bukan menjadi hal pokok untuk merasa ‘baik-baik saja’ hari ini, menutup bobroknya karakter yang memang belum juga mengenal diri, berkaca kembali mengenai aturan-aturan yang mudah berubah, Keroposnya tulang inti dari memahami keinginan dan kebutuhan terhadap produk yang tersedia di pasar terkadang tidak cukup berimbang dengan hal yang benar-benar bisa meningkatkan kualitas diri menjadi pribadi yang lebih baik sebagai individu akan menjadi penyakit kronis. Memang disana selalu ada pilihan.

Dalam sisi sejarah, masyarakat Indonesia masih didominasi dan mempercayai bahwa kepemimpinan adalah segala satu dijatuhkan oleh satu orang dalam mengambil keputusan, hal ini akan semakin jauh tertinggal dibelakang dan sulit untuk bergerak maju, pemahaman akan mental kepemimpinan modern dengan serta merta melampirkan hal  secara berimbang dan memiliki visi bersama yang lebih baik untuk masa depan. Meski menjadi pemimpin adalah kedudukan yang paling dilematis dan menanggung segala tanggung jawab, namun disana masih ada saja pemimpin yang hanya ingin dilayani sebagai raja.

Hukum yang berlaku pun dikorbankan, saling menyalahkan, timbul perasaan bersalah, dan sulit memaafkan a la ibu ibu sudah biasa. Memang tidak ada standar untuk menjadi cukup terlihat seperti seorang ibu, pola didik yang sebaiknya lebih terbuka, menjadi mudah dirasuki oleh paham paham yang salah dan terlalu terbawa perasaan, alih alih ingin menunjukan standar keluarga yang baik dan benar. Bukankah pemimpin juga berasal dari wanita?

Kepemimpinan yang disangsikan, telah berubah menjadi sebuah robot robot yang data menyerang diri sendiri, disana bukan ada yang 100% benar maupun salah, bukan ajang adu domba yang sering kali ditemui dalam proses demokrasi kebangsaan. Hal kecil yang damat terlihat, kepemimpinan yang disalah artikan adalah sebuah kedudukan, bukan serta merta pertanggung jawaban yang dapat menjadikan teladan, bagaimana menjadi pemimpin itu sangat sulit, tindakan yang benar saat dilakukan pada waktu yang salah bisa menjadi kesalahan fatal. Kepemimpinan seharusnya bukan mencari bukti atau menjadi pembuktian, namun menjernihkan pikiran kearah yang lebih baik.

Perbedaan demokrasi dan juga reformasi dengan demokrasi sebelumnya, yang dimana pemilu yang dilaksanakan di tahun 1999-2004 sendiri jauh lebih demokratis daripada tahun sebelumnya. Rotasi kekuasan yang juga dilaksanakan dari mulai pemerintah pusat sampai dengan tingkat desa. Sebuah pola rekrutmen politik untuk dapat mengisi posisi-posisi jabatan yang dilakukan secara terbuka. Namun kemampuan birokrasi tidak akan membawa dampak apapun dimasa depan, tak juga membawa pemahaman sepenuhnya. Seorang pemimpin yang seharusnya sadar dalam kehati hatian untuk menggunakan bahasa sehingga tidak menjerumuskan jutaan orang ke jurang kesalahan bisa jadi yang paling dicari, bukan mengenai kepercayaan namun Literasi yang harusnya sudah terbangun kuat, apalagi dalam menggunakan media sebagai fasilitas penyampai informasi bukan perkara mudah, disana jadi penentu baik atau buruknya seorang individu dan suksesnya program pembelajaran yang berlaku. Budaya mempermalukan diri maupun menghardik satu sama lain, emosi meledak ledak adalah satu kendala yang tidak ringan, cuitan demi cuitan mesti nya lebih berbobot. Media digital memang bersifat universal, bila tidak terbiasa kita tidak mampu membudayakan ciri adat ketimuran yang juga akan hilang dalam satu dekade. Lebih bersiap diri kedalam industri digital 4.0 yang terus bergerak dengan mengharap tidak ada satupun yang tertinggal dibelakang atau membuka alur kesenjangan yang sesungguhnya.

Perkembangan untuk demokrasi pada periode ini sendiri telah meletakkan banyak sekali hal-hal mendasar. Seperti pemberian masyarakat hak-hak politik secara menyeluruh, presiden yang secara konstitusional ada kemungkinan untuk menjadi seorang diktator. Dan dengan adanya maklumat Wakil Presiden, maka nantinya akan memungkinkan nya terbentuk beberapa partai politik yang kemudian menjadi sebuah mala peletak bagi sebuah sistem kepartaian yang ada di Indonesia untuk masa-masa selanjutnya yang akan datang dalam sejarah kehidupan politik.

Pemimpin yang memiliki pengetahuan hukum dan bersedia merealisasikannya untuk memberikan perlindungan sesungguhnya memang sudah sangat jarang, bila semua sudah di berikan label, semua jadi tak tahu menahu akhir ceritanya. Pengetahuan hukum yang minim hingga kurang paham jelas jelas menggrogoti mental sportifitas dalam diri individu, jelas saja keadilan sosial untuk seluruh rakyat tak pernah tercipta. Tanpa ada hukum yang benar dan pasti semua akan terlihat fana, bukan suara vokal di jalan jalan besar yang di butuhkan untuk mencari cari perhatian publik, namun pembuktian kearah nyata yang membangun kepempiminan demokratif secara tepat dan berguna.

Sumber :

Elecodelospasos

Merdeka

Kontan