Karangan Bunga

 

Oleh : Agnes Marcellina

 

Busur News Com,Jakarta- Dalam setiap acara perkawinan, kematian, perhelatan apapun, saya tidak suka melihat bunga bunga papan berderet sepanjang jalan yang mengganggu karena bukannya indah tetapi so ugly karena yang terlihat adalah bunga plastik, busa, styrofoam, kertas, papan kayu dan hanya sedikit sekali bunga aslinya. Semua itu adalah SAMPAH dan sampah itu yang akan mengotori bumi karena banyak sekali unsur plastik, busa dan styrofoam disitu yang tidak bisa hancur dalam tanah.

Negara kita sudah sangat kesulitan dalam mengelola sampah maka papan papan bunga yang sering kita temui malah menambah keruwetan masalah sampah.
Saya sangat menghargai sekali mereka yang dalam undangan mencantumkan ” Tidak menerima karangan bunga dan semua sumbangan akan disumbangkan untuk kegiatan sosial / disalurkan kepada panti asuhan dan rumah jompo” .

Sekalipun tidak disumbangkan jauh lebih baik tidak menerima karangan bunga daripada membuang uang hanya untuk membeli SAMPAH.

Kabarnya Ahok menerima lebih dari 1.000 karangan bunga bahkan juga kabarnya 6.000 entah mana yang benar tapi yang pasti uang yang dikeluarkan untuk sampah tersebut seharga paling tidak 500 juta ke atas bahkan mungkin bisa mencapai miliar. Coba bayangkan kalau seandainya uang tersebut dipakai untuk membantu orang miskin atau untuk program yang bisa lebih berguna untuk kepentingan orang banyak, akankah lebih bermanfaat?

Menurut saya :
– Orang orang yang percaya bahwa “sampah” tersebut adalah murni dari orang per orang atau kelompok dengan jumlah ribuan saya katakan NAIF. Mereka adalah orang orang yang terlalu polos untuk selalu mempercayai apa yang mereka lihat tanpa bekal pemahaman yang lebih dalam mengapa, apa, bagaimana dll. Kalaupun ada yang murni kiriman fans, jumlahnya tidak akan sebanyak itu.

Rupanya alam pun bereaksi dan tidak suka dengan kiriman sampah tersebut sehingga pada siang hari, hujan deras dan angin kencang mendera Jakarta dan merobohkan “sampah sampah” tersebut.
– Ahokers sedang menghibur diri atas kekalahan pilihan mereka dengan cara yang justru tidak simpatik, masa uang dihambur hamburkan hanya untuk menimbun “sampah”. Seolah ingin menunjukkan bahwa kelompok ini memang punya uang, segala bisa gua beli dengan uangku, beli sampah bisa, beli sembako bisa, beli suara bisa…

– Pencitraan yang terus akan dibangun seolah menunjukkan bahwa Ahok dicintai dan disayang oleh warga seperti yang ditulis di “sampah sampah” tersebut dengan kata kata we love you. Propaganda-propaganda tersebut akan terus bergaung di media sehingga pada akhirnya orang mempercayai sesuatu yang sebenarnya tidak nyata. Ibarat iklan sebuah produk yang berhasil membangun image dan dipercaya sebagai produk yang bagus padahal biasa biasa saja, contoh kopi merk kopi luwak. Saking hebat iklannya sekarang di kampung kampung orang mau minum white kopi luwak.

Ahok pun demikian, ada rencana yang sedang digarap dan suatu saat nanti akan keluar pernyataan ” rencana Tuhan”, padahal jelas sebuah skenario.

-Well tapi biarlah… untuk sementara waktu biarlah mereka larut dalam hiburan, hiburan dengan cara mereka sendiri…

(Riena)