Kategori
Artikel

Jawa Timur, khususnya kota Surabaya, peningkatan jumlah kasus positif covid-19 masih terbilang tinggi.

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –Jawa Timur, khususnya kota Surabaya, peningkatan jumlah kasus positif covid-19 masih terbilang tinggi.
Data yang dilansir pemerintah kemarin menunjukkan ada penambahan 467 kasus anyar sehingga total ada 26.940 penderita virus korona.
Pasien yang sembuh memang bertambah menjadi 7.637 orang, namun mustahil disangkal bahwa ancaman covid- 19 tetaplah mencemaskan.
Terlebih lagi, total pasien yang meninggal mencapai 1.641 orang.
Situasi lain yang mengharuskan kita untuk tetap mengedepankan keseriusan ialah adanya tanda-tanda peralihan episentrum korona dari Ibu Kota ke daerah lain.
Daerah itu ialah Jawa Timur yang belakangan menunjukkan peningkatan kasus secara signifikan.

Bahkan, untuk pertama kalinya sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama pada 2 Maret silam, Jawa Timur mencatatkan kenaikan kasus positif tertinggi nasional pada Minggu (31/5), yakni 244 orang.
Jumlah itu melebihi kenaikan di DKI Jakarta pada hari yang sama.
Kini, jumlah penderita korona di Jawa Timur tercatat 4.922 orang.
Data merupakan bukti nyata, sangat nyata, bagi kita semua untuk tetap waspada.

Data tersebut merupakan petunjuk yang sangat jelas bagi kita semua untuk tidak main-main dengan korona, apalagi pejabat walikota Surabaya menjadikan pandemi sebagai manuver politik.
Tingginya lonjakan kasus di Jawa Timur jelas tidak bisa dianggap sepele.

Beda dengan Jakarta dan sekitarnya, jumlah penduduk di wilayah itu jauh lebih banyak.
Wilayah Jawa Timur juga jauh lebih luas sehingga upaya penanganan akan lebih sulit.
Oleh karena itu, saatnya pemerintah membagi fokus pencegahan dan penanganan penularan virus covid-19 ke Jawa Timur.
Menambah bantuan sarana dan prasarana kesehatan mesti secepatnya dilakukan sehingga pemerintah daerah setempat bisa lebih cepat melakukan upaya-upaya pencegahan dan penanganan.
Penyikapan yang tepat juga mutlak ditunjukkan masyarakat.
Kesadaran untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungan tak boleh lagi di abaikan karena itulah modal awal untuk mencegah penyebaran korona.

Kepatuhan pada protokol kesehatan seperti menggunakan masker, rutin mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak tak boleh ditawar-tawar.
Kesadaran dan kepatuhan itu telah terbukti menjadi kunci keberhasilan beberapa daerah dalam menghambat penularan covid-19.
Tak ada sedikit pun keraguan bahwa Jawa Timur juga akan berhasil menekan penyebaran korona jika masyarakatnya bersikap yang sama.

Kepada para elite dan pejabat, kita mengingatkan untuk betul-betul mengutamakan kepentingan penanganan covid-19.
Tanggalkan kepentingan, apalagi kepentingan politik, yang hanya memicu ketidakkompakan di tengah situasi sulit.
Buang jauh-jauh ego pribadi dan saling menyalahkan yang hanya memantik disharmoni dan buruknya koordinasi dalam menangani pandemi.
Disharmoni dan buruknya koordinasi itulah yang secara telanjang dipertontonkan para pejabat di Jawa Timur terkait dengan penggunaan dua buah mobil tes virus korona dengan metode polymerase chain reaction (PCR) dari pusat.
Sungguh, sangatlah tak patut ketika masyarakat diharuskan taat, tatkala korona merajalela, para pejabat justru sibuk dengan silang pendapat yang tak perlu.

Ancaman virus korona masih sangat nyata.
Ancaman itu bahkan masih ada di daerah-daerah yang telah sukses menekan penularan dan bersiap menapaki tatanan kenormalan baru, apalagi di wilayah yang tingkat penyebarannya masih tinggi.
Tiada secuil pun alasan bagi kita semua untuk mengendurkan kewaspadaan.
Di mana pun, protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus covid-19 masih harga mati yang mutlak kita perjuangakan.

@drr