Kategori
News

Jangan Mudah Menuduh Makar

Busur News Com,Jakarta

Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Anton Tabah Digdoyo, sedih atas mudahnya aparat menggunakan pasal makar pada tokoh-  tokoh yang kritis pada pemerintah dan kini menangkap Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khoththoth dan Kawan -Kawan.

Apalagi penangkapan itu atas dasar laporan masyarakat,”
Memangnya kasus makar delik aduan kok dasarnya laporan masyarakat?

Polisi harus extra hati-hati  menuduh sesorang atau kelompok melakukan kejahatan makar apalagi kasus kasus sebelumnya .
Tuduhan makar selalu mentah dan sulit pembuktiaannya.

Bahkan Sri Bintang Pamungkas yg sudah ditahan 5 bulan akhirnya dilepas. Kemudian Habib Rizieq Sihab batal menjadi tersangka.

“Belum lagi tokoh-tokoh yang pernah diumumkan melakukan makar, antara lain Jenderal Kivlan Zein, Rahmawati Hata Taliwang, Ratna Sarumpaet, dan lain-lain. juga batal diperiksa, kok ini tiba-tiba Khoththoth dan kawan-kawan,”jelasnya.

“Pasal tentang makar sudah cukup,jelas di KUHP harus mengandung 4 unsur secara akumulatif tentang perbuatan makar yaitu ada rencana makar, ada kekuatan yang  akan digunakan untuk makar ada alat untk makar dan ada cara yg digunakan. Intinya perbuatan makar itu sudah ada ,”kilahnya.

“Unjuk rasa berapapun jumlahnya itu bukan makar termasuk yel-yel spanduk-spanduk dan lain-lain menuntut turunkan Presiden itu bukan makar, tapi itu expresi kebebasan yang jamak dilakukan bangsa bangsa se- dunia,”tuturnya.

“Yang patut ditabyakan justru yang sudah jelas kasusnya dan sudah jadi terdakwa, yaitu Basuki Thajaja Purnama alias Ahok, dengan bukti banyak dan mengulang-ulang kesalahannya,malah tidak ditangkap-tangkap,”kata Anton Digdoyo.

“Kasus penistaan agama derajat keresahan di masyarakat sangat tinggi dan dapat memecah belah NKRI, malah tersangkanya tidak ditahan,”pungkasnya.

“Rakyat pun bertanya apakah penahanan 20 hair ke depan terhadap m Khotot dan kawan – kawan atas tuduhan makar jelang pilkada DKI putaran kedua ini bukan hanya untuk membungkam tokoh-tokoh kritis?
Seperti menjelang pilkada putaran pertama dulu,”tutupnya(Riena).