:Iri hati merupakan salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya

 

Oleh: Dhedi Razak

Busirnews.com, JAKARTA —:Iri hati merupakan salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya

Hasad atau iri hati merupakan salah satu penyakit hati yang membahayakan.
Tidak hanya untuk pelakunya, tetapi juga orang lain.

Anggota Komisi Fatwa pada Dar Al Iftaa Mesir, Syekh Dr Ahmad Mamduh, menyampaikan penjelasan tentang sifat hasad atau iri hati dan bagaimana menyembuhkannya. Dia menjelaskan, persoalan iri hati ini disebutkan dalam banyak ayat suci Alquran dan hadits dan ada cara untuk mengatasi sifat tercela itu.
Syekh Mamduh menyarankan agar rutin membaca surat Al Falaq dan An Naas.
Selain itu, ucapkan dzikir pagi dan sore secara rutin.
Seorang Muslim harus senantiasa berdzikir sepanjang waktu. Juga, yang tak kalah penting, adalah lakukan sholat wajib lima waktu tepat pada waktunya.

Dalam fatwa Dar Al Iftaa Mesir sebelumnya, disebutkan bahwa cara menyembuhkan sifat iri hati adalah dengan membentengi diri dengan ruqyah dan doa agar terhindar dari kejahatan dan sifat hasad.
Doa adalah salah satu ibadah terbaik sebagaimana riwayat Nu’man bin Basir.

عن النعمان بن بشير رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه وآله وسلم: «الدعاء هو العبادة»، ثم قرأ: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾.
Rasulullah SAW bersabda, “Doa adalah ibadah.” Lalu beliau berkata, “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina’.”
(QS Ghafir 60)
Lalu, tidak ada salahnya meminta ruqyah dari orang yang saleh.

عن السيدة عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها قالت: “كان رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم يأمرني أن أسترقي من العين”

Hal ini sebagaimana hadits riwayat Muslim dari jalur Aisyah. “Rasulullah SAW pernah memerintahkan agar aku meruqyah seseorang karena terkena Al-‘Ain.”

عن أسماء بنت عميس قالت: يا رسول الله، إن ولد جعفر تسرع إليهم العين؛ أفأسترقي لهم؟ فقال: «نعم؛ فإنه لو كان شيء سابق القدر لسبقته العين»

Dalam hadits lain, dari Asma’ binti ‘Umais, dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Bani Ja’far terkena Al-‘Ain, maka apakah boleh aku meruqyah mereka?”. Maka beliau SAW menjawab, “Ya, sekiranya ada sesuatu yang mendahului takdir, niscaya Al-‘Ain akan mendahuluinya.” (HR Ahmad dan Tirmidzi, dihasankan Al Arnauth)
Ibnul Jauzi menjelaskan dalam Kasyful Musykil min Hadits As-Shahihain, menjelaskan, Al-‘Ain adalah pandangan yang disertai anggapan baik yang bercampur dengan kedengkian. Orang yang memandang tersebut mempunyai tabiat yang buruk seperti angin panas memengaruhi apa yang dikenainya.
Sehingga, orang yang dikenainya atau dipandangnya akan mendapat bekas atau terpengaruh.

Ibnu Katsir memaparkan, orang yang terkena ‘Ain, yakni ketika musuh atau orang-orang dengki memandangnya lalu pandangan tersebut memberikan pengaruh sampai mengakibatkan sakit.

@drr