Kategori
Artikel

Ikhtiar menemukan serum, atau dalam bahasa kita ikhtiar menemukan vaksin covid-19, demikian berliku

 

Busurnews.com, JAKARTA —Ikhtiar menemukan serum, atau dalam bahasa kita ikhtiar menemukan vaksin covid-19, demikian berliku.
Persis seperti perlombaan lari, saat vaksin mulai ditemukan, virus mematikan itu juga bermutasi menjadi kian ganas di Inggris.
Suasana tersebut mirip usaha yang kerap hampir sukses, tapi seolah kembali lagi ke titik nol.

Apakah kita akan mundur?
Jelas tidak.
Seperti gambaran Camus, serum itu pasti ketemu.
Vaksin itu pasti ampuh.
Lalu, virus-virus itu bakal pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sama ketika dia dulu datang tanpa permisi.

Namun, sebelum sampai virus itu pergi, perang melawan covid-19 bak dongeng dalam novel The Plague (Sampar), sekaligus juga perang melawan keraguan, melawan ketidakpercayaan.
Tak semua senang, nyaman, percaya pada kehadiran vaksin.
Saat sebagian besar orang berupaya ‘meratakan’ kurva korona dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan, masih ada yang amat yakin bahwa covid-19 hanyalah rekayasa.
Pagebluk itu konspirasi, begitu kira-kira keyakinan mereka.

Survei menunjukkan masih ada sekitar 28% warga tidak takut tertular oleh covid-19.
Yang takut, lalu mengambil langkah-langkah disiplin ketat, ada sekitar 71%.
Persentase warga yang tidak takut tertular oleh covid-19 menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan survei sebelumnya pada 7-10 Oktober 2020. Ketika itu, persentase mereka yang tidak takut tertular covid-19 baru 16%.
Sebaliknya, proporsi warga yang takut tertular oleh covid-19 mengalami penurunan dari 84% pada survei 7-10 Oktober 2020 menjadi 71% dalam survei 16-19 Desember 2020. Kecenderungan kekhawatiran pada covid-19 itu pada gilirannya berpengaruh terhadap kesediaan untuk mengikuti vaksinasi covid-19.
Menurut survei tersebut, ada 40% warga yang menyatakan takut tertular oleh covid-19 menyatakan bersedia divaksinasi, sementara hanya 29% warga yang menyatakan kurang/tidak takut pada covid-19 yang bersedia.

Dengan kata lain, semakin tinggi keyakinan warga bahwa mereka tidak akan tertular korona, semakin rendah keinginan mereka untuk bersedia divaksinasi.
Penurunan proporsi warga yang merasa takut tertular oleh covid-19 itu juga ‘konsisten’ dengan penurunan tingkat keyakinan publik tentang jumlah kasus yang terinfeksi oleh virus korona.

Pada awal Oktober 2020, sekitar 82% warga yakin bahwa jumlah kasus positif covid-19 semakin banyak.
Namun, proporsi tersebut menurun menjadi 65% dalam survei terakhir (16-19 Desember 2020), saat kian banyak orang mulai tidak takut terhadap covid-19.
Kondisi itu mirip juga dengan novel AJournal of the Plague Year karya Daniel Defoe yang berkisah tentang wabah penyakit pes di London pada 1665.
Novel tersebut menampilkan rentetan peristiwa mengerikan yang membuat pembacanya dapat menyimak kekagetan pada masa awal wabah dan penyebaran virus baru saat itu.

Defoe menceritakan Kota London memberlakukan serangkaian aturan baru, seperti pelarangan perayaan publik serta penutupan restoran dan tempat minum–serupa dengan di dunia nyata saat ini ketika wabah virus korona melanda.
Defoe menulis bahwa tidak ada ‘yang lebih fatal terhadap penduduk kota ini daripada kelalaian warganya sendiri yang tidak memedulikan aturan’, padahal mereka bisa berdiam di rumah.

Defoe menambahkan, “Saya melihat penduduk lainnya menaati aturan dan banyak yang hidup oleh karenanya.” Tiga gambaran di atas (novel Sampar karya Camus, survei SMRC, dan novel karya Defoe) menjadi cermin bahwa ‘akhir cerita bahagia’ kemenangan melawan wabah kerap diganjal kebebalan sikap. Keberhasilan menaklukkan covid-19 harus diawali dengan kemenangan melawan keraguan, ketidakpercayaan, kengeyelan.

Jika keyakinan, kepercayaan, dan ‘kepasrahan’ sudah bisa direbut, sama seperti tulisan novel Defoe, ‘Ketika waktu itu tiba, penyebaran wabah melambat, cuaca musim dingin muncul dengan udara bersih serta dingin yang menusuk, sebagian besar mereka yang jatuh sakit telah pulih, kota mulai sehat, warga mulai sembuh’.

 

@drr