Kategori
Artikel

Ikhlas, mudah diucapkan namun tak mudah dilakukan

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA—Ikhlas, mudah diucapkan namun tak mudah dilakukan.

Ikhlas secara sederhana diartikan sebagai semua tindakan hanya karena Allah semata.
Ikhlas juga diartikan upaya membersihkan amal dari berbagai kotoran hati.

Bahkan, dalam berbagai kesempatan, M Qurais Shihab sering kali memberikan satu gambaran tentang ikhlas dengan sebuah gelas yang dipenuhi air putih.
Tak ada sedikit pun yang ada dalam gelas itu selain murni air putih belaka, tanpa tercampuri apa pun.
Itulah yang disebut ikhlas.

Di dalam Alquran pun ada satu surah yang disebut surah al-Ikhlas (surah ke-112 dengan 4 ayat).
Perintah tentang ikhlas dalam beramal dan beribadah juga banyak kita temui (QS al-An’am; 162; QS al-A’raf: 29; QS al-Ghafir: 65; QS al-Bayyinah: 5; QS al-Kautsar: 2; dan QS az-Zumar: 2).

Syekh Muhammad Nawawi Banten di dalam kitabnya Nashaihul ‘Ibad (2010, hal. 58) membagi keikhlasan ke dalam tiga tingkatan.
Pertama, tingkatan paling tinggi, yaitu membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia), tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya selain menuruti perintah Allah, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta, dan sebagainya.

Pada tingkatan pertama ini, orang yang melakukan ibadah tidak memiliki tujuan apa pun selain hanya karena menuruti perintah Allah semata.
Orang yang beramal dengan keikhlasan tingkat ini sama sekali tak terpikir olehnya balasan atas amalnya itu.
Pun ia tak peduli apakah kelak di akhirat Allah akan memasukkannya ke dalam surga atau neraka. Ia hanya berharap ridha Allah semata.

Kedua, tingkatan menengah yaitu melakukan perbuatan karena Allah agar diberi imbalan akhirat, seperti dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga.
Pada tingkatan kedua ini, orang yang beramal melakukan amalannya karena Allah, tapi di balik itu ia memiliki keinginan agar dengan ibadahnya kelak di akhirat ia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah.
Beribadah dengan niat dan motivasi seperti ini masih dikategorikan sebagai ikhlas.
Hanya saja, bukan ikhlas yang sesungguh-sungguhnya ikhlas.
Ini diperbolehkan mengingat Allah dan Rasulullah sangat sering memotivasi para hamba dan umatnya untuk melakukan amalan tertentu dengan iming-iming pahala besar dan kenikmatan di akhirat kelak.
Ketiga, tingkatan paling rendah, yaitu melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian duniawi, seperti kelapangan rezeki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan.
Tingkatan keikhlasan yang ketiga ini adalah tingkat keikhlasan yang paling rendah.
Orang yang beribadah dilakukan karena Allah, tapi ia memiliki harapan akan mendapatkan imbalan duniawi dengan ibadahnya itu.
Sebagai contoh orang melakukan shalat dhuha dengan motivasi akan diluaskan rezekinya; aktif melakukan shalat malam dengan harapan akan mendapatkan kemuliaan di dunia; memperbanyak istighfar agar mendapat keturunan, dan lain sebagainya.

Lalu, bagaimana jika seorang yang beribadah dengan motivasi selain ketiga hal di atas?

Orang yang demikian itu disebut riya yang tercela, bukan ikhlas.
Maka, jauhilah dan tinggalkanlah!

Wallahu a’lam.

 

@garsantara