ICMI : Ahok Effek Dan Kepemimpinan Nasional

 

Busur News Com ,Jakarta – Berbagai media tanya kenapa akhir-Akhir ini makin sering terjadi penyerangan oleh kelompok tertentu ke kelompok lain ?

Memaksakan kehendak seperti ansor di berbagai daerah melarang mubaligh atau ulama tertentu dan banser ansor semalam menyerang kediaman salah satu tokoh ormas Islam di Jakarta.

Menurut Anton Dikdoyo ,bahwa  intinya ada pada kepemimpinan nasional
Kenapa era ini banyak terjadi ketidak harmonisan sosial dimana- mana. Era-era sebelumnya kok tidak?

“Pemimpin harus bisa memanage dengan baik arif  dan adil ,”tegasnya.

“Misal di penegakan hukum, bukti- bukti korupsi yang menimpa beberapa elit politik termasuk terdakwa Ahok apa sudah ditegakkan ?”katanya.

“Kasus e.ktp yang sudah terang benderang juga melibatkan Ahok tak diprioritaskan
Sampai penyidiknya (novel baswedan) malah jadi  korban ,”kilahnya.

“Belum lagi  kampanye uang, kampanye sembako kubu Ahok juga didiamkan? “paparnya lagi.

“Negara dan bangsa manapun dimanapun kapanpun pasti kacau bahkan hancur jika hukum tidak ditegakkan.
Atau  hanya tegak untuk orang-orang lemah tapi tak berdaya untuk pejabat-pajabat?”jelasnya

Dalilnya pasti dan tegas sabda Nabi saw :
Negara dan bangsa akan hancur jika hukum tumpul untuk  pejabat tajam untuk orang-orang lemah.

“Demi AllAh jIka putri tunggalku mencuri pasti kupotong tangannya”
(Bukhory juz 4/123).

“Ahok efek” pengaruhi kasus penistaan Islam dan penghinaan terhadap pribumi merajalela ,”pungkasnya.

Apalagi jika  Ahok bebas atau dihukum ringan NKRI akan hancur ber keping-keping.
NKRI tinggal tonggak-tonggak sejarah yang meranggas .
Itu yang diinginkan RRC dan Singapura dengan jadikan  Ahok pintu masuk.

Memang saat ini rakyat sangat rasakan penegakan hukum kacau  kasus-kasus penistaan agama marak dimana-mana ,efek sidang Ahok terlama dan termahal sudah hampir masuk bulan ke 6.

Aparat penegak hukum harusnya cepat dan tegas menindak kasus-kasus penistaan agama itu delik umum bukan delik aduan.

Jika tidak  cepat dan tegas NKRI akan hancur tinggal sejarah yang meranggas,”tutup Anton Digdoyo.

(Riena).