Kategori
Artikel

Iblis akan Goda Manusia dan Bagaimana Cara Menghindarinya?

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –Iblis akan Goda Manusia dan Bagaimana Cara Menghindarinya?
Iblis berjanji akan menggoda umat manusia hingga hari kiamat kelak

Jalan panjang manusia dalam meniti kehidupan tentulah banyak onak dan duri.
Fitrah manusia untuk mengikuti kata hatinya agar menjalani kehidupan yang sesuai dengan petunjuk Allah SWT kerap diganggu godaan setan.
Simaklah janji iblis kepada Allah SWT setelah diusir dari surga karena menolak sujud kepada Nabi Adam AS.

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Ia (iblis) berkata: ‘Disebabkan karena Engkau telah menyesatkan saya, aku benarbenar akan duduk (menghadapi) mereka di jalan Engkau yang lebar lagi lurus. Kemudian, aku pasti akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.”
(QS al-A’raf: 16-17).

Kata “duduk” yang diungkapkan iblis dalam ayat tersebut menunjukkan kesungguhan sekaligus kesadaran akan kemampuannya, etan memilih duduk dalam ucapannya yang bernada sumpah itu agar merasa senang.

Ia ingin menggoda dan menjerumuskan manusia setiap saat tanpa letih atau bosan.
Setan selalu awas dan aktif setiap saat.
Penyebutan keempat arah iblis datang untuk menggambarkan dia menggunakan segala cara, tempat, dan kesempatan untuk menjerumuskan manusia.
Untuk melawan godaan iblis, Allah SWT melalui Rasulullah SAW mensyariatkan kepada kita untuk membaca surat al-Fatihah setiap melakukan sholat.
Dalam sehari, setidaknya kita membacanya 17 kali.
Ada satu ayat dalam surat tersebut yang bermakna agar kita mendapatkan hidayah.
“Ihdina as-shirath al-mustaqim.”

Pertanyaannya ialah apa yang dimaksud dengan ihdina al-shirath al-mustaqim?

Secara tekstual, ayat keenam dari QS al-Fatihah itu berarti “tunjukkan kami jalan yang lurus”.
Ayat ini menjadi dua bagian. Pertama yakni Ihdhina.
Di dalam bahasa Arab, kalimat ini merupakan fi’il ‘amr yang berfungsi sebagai permohonan. Ihdhina berasal dari kata hidayah.
Jamaknya disebut hudan.
Hidayah tak sebatas mengandung satu makna. “Maknanya bisa satu, dua, tiga atau empat.
Kalau semua (hidayah) dikumpulkan, maka menjadi jamak dan disebut dengan hudan.
Allah SWT menerangkan kepada seluruh hamba-Nya, permohonan utama seorang hamba adalah hi dayah.
Hidayah itu akan mengantarkan hamba kepada tingkat tertinggi dalam kehidupan.
Secara bahasa ada beberapa makna hidayah.
Salah satunya, yakni adh-dhilalah.
Artinya bimbingan Allah lewat hati dengan lembut.
Mengajak kita untuk sampai kepada kebenaran.
Hidayah juga di maknai sebagai semua bentuk kebajikan yang diharapkan.
Kesuksesan, kebahagiaan hingga rumah tangga tenang.
Tidak hanya itu, hidayah bisa dimaknai dari sumbernya.
Sumber hidayah yakni Allah, Alquran, dan Rasulullah SAW.
Hidayah bukanlah monopoli orang Muslim.
Allah SWT memiliki otoritas penuh menentukan kepada siapa hidayah tersebut diberikan.

وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ ۗ أَلَيْسَ اللَّهُ بِعَزِيزٍ ذِي انْتِقَامٍ

“Barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada seorang pun dapat memberinya petunjuk. Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak seorang pun dapat menyesatkannya…”
(QS az-Zumar [39]: 36-37).

Dalam menafsirkan ayat ini, Sayyid Qutb menjelaskan, Dia mengetahui siapa yang berhak menerima kesesatan lalu Dia menyesatkannya. Dan, Dia mengetahui siapa yang berhak menerima petunjuk lalu Dia menunjukkannya. Jika Dia telah memutuskan, tidak ada yang dapat mengubah apa yang dikehendaki-Nya
Hak ini yang harus kita raih agar layak mendapatkannya.
Setelah meraihnya, dekaplah dia jangan sampai lepas.
Sungguh mahal untuk bisa kembali ke kampung akhirat dengan status husnul khatimah.
Wallahu a’lam.

 

@garsantara