Kategori
Artikel

Hotel Tentrem milik Grup Sidomuncul kembali menjadi pembicaraan.

 

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –Hotel Tentrem milik Grup Sidomuncul kembali menjadi pembicaraan.
Apabila sebelumnya hotel mereka di Yogyakarta heboh karena dipilih Presiden AS Barack Obama sebagai tempat menginap, kali ini hotel dan mal mereka di Semarang menjadi pembicaraan karena menggunakan teknologi video mapping untuk menghadirkan suasana laut di langit-langit mal.

Teknologi video mapping yang menakjubkan membuat seakan ada akuarium laut raksasa di dalam mal.
Apalagi ikan-ikan yang ada begitu beragam mulai dari ikan hiu, ikan pari, dan berbagai ikan laut lainnya yang berwarna-warni. Mal Tentrem belum sepenuhnya beroperasi karena baru sekitar 10% penyewa yang sudah melakukan kegiatan bisnis. Namun, karena pembicaraan melalui media sosial, banyak orang ingin datang hanya untuk melihat video mapping akuarium raksasa itu. Empat hari pekan lalu kebetulan merupakan hari libur panjang. Pemerintah menetapkan Jumat sebagai cuti bersama sehingga libur Tahun Baru Hijriah berlanjut hingga Minggu. PT Jasa Marga mencatat lebih dari 490 ribu kendaraan keluar dari Jakarta untuk memanfaatkan liburan. Lima bulan wabah covid-19 membuat banyak orang tidak tahan untuk terus tinggal di rumah. Banyak yang ingin meninggalkan kesumpekan. Caranya pergi berjalan untuk mendapatkan suasana yang baru. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sudah memberikan kesempatan bagi kegiatan wisata alam dan konservasi untuk dihidupkan kembali. Syaratnya, daerahnya bukan berada di zona merah atau oranye, dan wajib menjalankan protokol kesehatan, selalu pakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan dengan sabun dan di air yang mengalir. Kerja sama antara pengelola, masyarakat, dan aparat daerah menjadi sangat penting. Pihak pengelola harus menyiapkan protokol kesehatan yang ketat. Di lain pihak masyarakat harus disiplin menjalankan aturan dan tidak memaksa diri agar tidak menciptakan kerumunan. Tugas aparat daerah untuk mengedukasi masyarakat agar tidak mudah melanggar protokol kesehatan. Apa yang terjadi di Semarang bisa kita jadikan pembelajaran. Pihak pengelola sudah membuat protokol kepada para pengunjung. Mereka yang masuk akan diukur suhu tubuhnya dan diharuskan memakai masker. Pengelola juga membuat disinfeksi secara rutin ke seluruh ruangan di dalam mal, bahkan untuk membunuh kuman di pegangan eksalator dipasang sinar ultra violet. Jumlah pengunjung pun dibatasi hanya 50% dari kapasitas. Akan tetapi, karena sudah heboh di media sosial soal ‘akuarium raksasa’, akhir pekan lalu masyarakat berbondong-bondong i ngin datang melihat. Karena ada pembatasan orang masuk mal, sebagian mereka harus mengantre panjang di luar.

Di sinilah aparat bersama pengelola harus menyampaikan kepada masyarakat yang menunggu tentang keterbatasan tempat dan sebaiknya menghindari untuk berkerumun guna mencegah jangan sampai terinfeksi covid-19. Kita tahu tidak mudah berkomunikasi dengan massa yang berjumlah banyak. Di Lisabon, Portugal kemarin para pendukung Bayern Muenchen tidak tahan berkumpul untuk merayakan kemenangan klub kesayangannya merebut Piala Champions untuk keenamkalinya. Namun, kita harus berupaya mengajak masyarakat melakukan perubahan perilaku. Kita otomatis menghindarkan diri dari kerumunan karena berpotensi membahayakan kesehatan kita. Kita harus berupaya mengajarkan kepada masyarakat untuk menjaga diri dari ancaman covid-19. Meski kelak ditemukan vaksin covid-19 pun bukan berarti virus korona akan hilang. Virus itu akan tetap ada di sekitar kita. Hanya saja karena antibodi yang dibangun pada diri kita, badan kita bisa lebih tahan. Tetapi, ketika antibodinya sudah menurun lagi, covid-19 bisa mengancam kita karena virus yang hidup di alam sekarang ini tidak bisa dimusnahkan. Oleh karena itu, ada atau tidak ada vaksin, perubahan perilaku harus menjadi bagian dari hidup kita. Kita harus menjaga terus imunitas dengan makan makanan bergizi, tidur teratur, olahraga teratur, dan tidak mudah stres. Pakai masker, jaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir harus menjadi tabiat baru kita. Rem dan gas yang selalu menjadi perumpamaan Presiden Joko Widodo juga harus menjadi kebiasaan kita. Artinya, kita harus berupaya untuk memenuhi kebutuhan keluarga kita. Setiap orang harus berupaya dan harus bekerja. Tetapi, di samping bekerja, kita harus mampu menjaga kesehatan diri. Kemampuan untuk menjaga keseimbangan dari kedua hal itu merupakan tanggung jawab pribadi kita. Tidak ada pihak lain yang bisa menjamin kesehatan kita. Sama dengan tidak ada yang bisa menjamin ekonomi keluarga kita, kecuali kita sendiri.
Ke depan, fenomena Mal Tentrem akan terus terjadi.
Kita memang tidak bisa terus hanya bisa bertahan.
Kita harus mulai bersiap untuk melangkah ke depan.
Tetapi, yang tidak boleh berubah ialah sikap kita untuk menjaga kesehatan kita, kesehatan keluarga kita, dan kesehatan lingkungan kita.
Lagi-lagi protokol kesehatan harga mati!

@drr