Hidup dibuat untuk Laki Laki : Kesenjangan Dalam Era Digital

Semakin berkembangnya teknologi tanpa pemahaman yang tepat hanya akan menghancur leburkan dan memecahkan persatuan. Siapapun dapat serta merta mencurahkan emosi berlebihan, ingin terlihat hebat dan lebih kuat, ingin diperhatikan dan memiliki ‘profile’ kuat tanpa memperhatikan tindakan benar atau salah.

Oleh Zuliana

Keberagaman merupakan satu hal yang sangat melekat dalam kehidupan masyarakat indonesia, terbentuk dan dibentuk oleh tradisi turun menurun yang serta menyatukan dan budaya kekeluargaan dan gotong royong masyarakat.  Keberagaman tidak serta merta dapat diterima oleh masyarakat, malah semakin banyak kesenjangan tradisi yang sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Persatuan seluruh rakyat Indonesia mulai dipertanyakan.

Perbedaan yang paling melekat dalam budaya masyarakat salah satunya merupakan gender, satu makna, satu kata, dan satu misi yang masih banyak membutuhkan pengakuan menjadi satu hal yang memiliki kedudukan yang paling tinggi. Mirisnya masyarakat yang menganggap perbedaan gender sebagai satu tradisi, selalu membuahkan banyak korban. Terbentuk dan dibentuk bukan hanya dari dalam diri namun lingkungan yang sesuai bisa menjadikan manusia lebih buas dibanding hewan yang hidup di awal peradapan.

Arti kesetaraan gender disangsikan dalam masyarakat terbukti dari kurang kuatnya perlindungan terhadap tindak kriminalisasi dan diskriminasi dalam lingkungan masyarakat, walau pada intinya kemanusiaan yang adil dan beradab adalah satu hal  menjadi dasar, sisi kekeluargaan merupakan masih jadi satu jalan yang ditempuh dan menjadikan satu perkara yang tak dapat terselesaikan. Hidup yang seyogyanya dijalankan seperti dan untuk laki laki yang menggunakan akal dan pikiran untuk mengatasi masalah malah membawa perasaan yang tak kunjung terselesaikan.

Mengalihkan mata publik mengenai mana yang benar dan salah, memang tidak ada yang lihat sepenuhnya hal tersebut tidak benar, sampai generasi sebelumnya mengikuti alur trend dan lantas terombang ambing dan kalut, sudah disini pemahaman dan bernalar mengikuti arus lintas budaya kemudian berhenti, kenapa kemanapun pindahkan pandangan banyak hal yang terkesan belum matang betul dan mudah sekali berubah-ubah?

Masih banyaknya satu pihak yang selalu merasa sebagai korban berbanding  terbalik dengan apa yang kita semua harapkan, budaya kekeluargaan yang masih sangat melekat dalam masyarakat serta keberadaan hukum dan penempatannya yang masih diacuhkan menjadi satu pokok yang tidak sederhana. Emosi anak muda yang kurang stabil turut memberikan dampak makin maraknya tindak kriminal yang tidak lantas terselesaikan.

Semakin berkembangnya teknologi tanpa pemahaman yang tepat hanya akan menghancur leburkan dan memecahkan persatuan. Siapapun dapat serta merta mencurahkan emosi berlebihan, ingin terlihat hebat dan lebih kuat, ingin diperhatikan dan memiliki ‘profile’ kuat tanpa memperhatikan tindakan benar atau salah.

Budaya yang bersinggungan dan individu yang mudah terhasut bisa jadi hal yang tak dapat terelakan. Pendidikan dalam mengatasi konflik internal yang tidak pernah diberikan dalam bangku sekolah bisa jadi akan menjadi hambatan, antisipasi globalisasi dan modernisasi sangat bersinggungan dengan kebudayaan akan mendobrak budaya dan tradisi. Penetapan sikap kepemimpinan untuk membangun karakter manusia seutuhnya tanpa gender sangat amat dibutuhkan, pengetahuan yang lebih tinggi dan pemahaman tentunya yang kita semua.

Dengan semakin majunya teknologi dan pengalihan dari pertemuan tatap muka menjadi virtual membuat emosi beberapa dari kita semakin menjadi jadi. Ujaran kebencian dan cacian yang dilontarkan melalui media merupakan satu bukti bahwa jiwa jiwa pengecut mulai bermunculan. Memiliki lebih dari satu akun sudah menjadi satu hal yang lumrah hingga munculnya krisis kepercayaan publik dan meluluh lantahkan kepemimpinan yang sesungguhnya. Pengetahuan hukum dan etika bermasyarakat yang tepat malah semakin diacuhkan makin bermunculannya para pelanggar yang sengaja melakukan kesalahan untuk mendapat perhatian publik.

Media sebagai perantara harus jadi wadah yang bukan dikendalikan oleh mesin. Media yang seharusnya memberikan informasi yang baik dan benar dari perkumpulan para individu dengan dasar literasi yang mumpuni malah ikut arus dikendalikan tren, budaya masyarakat yang berubah jadi semakin tidak stabil dan sulit berimbang. Bukan hanya membuang buang waktu dan mengajarkan hal yang memperkeruh suasana, namun dalam beberapa dekade hal kecil yang jadi budaya saat ini bisa jadi ranjau menghidupkan jiwa jiwa dan mental para narsistik dan meruntuhkan pilar pilar yang seharusnya bisa berdiri tegak.

Kesiapan adalah hal yang paling di butuhkan untuk bergerak kearah yang lebih baik, apalagi yang dilakukan kalau tidak jadi lebih baik? Bergerak lebih maju tanpa membedakan hal yang seharusnya didapat di kota maupun didesa sudah sangat lumrah ditemui, era digital menggeser banyak hal, banyak hal yang menjadi sumber ketakutan masa, banyak hal yang tidak dapat dibendung adalah setiap warga yang tinggal dikota maupun di desa dapat mengakses hal yang sama, namun daya tangkap yang diperoleh jauh berbeda dari setiap individu, teknologi sudah membuka jalan seluas luasnya namun tidak seluas daya tangkap untuk tetap positif.