Hari Perempuan Sedunia

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –Meski punya sejarah panjang, baru 1977 Hari Perempuan Sedunia diresmikan sebagai perayaan tahunan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Peran perempuan yang semula masih menjadi persoalan, kini telah menjadi jamak. Perempuan dengan bakat dan kemampuan masing-masing telah berkiprah secara mengagumkan dalam berbagai sektor kehidupan.
Perempuan Indonesia bahkan pernah ada yang menjadi presiden.
Sesuatu yang belum pernah dicapai Amerika, yang sering dianggap sebagai kampiun demokrasi. Republik ini memang memiliki sejarah panjang perjuangan perempuan di sektor publik.

Untuk sekadar menyebut beberapa, ada Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, dan Malahayati di Aceh; Ratu Kalinyamat dan RA Kartini di Jepara; dll.

Kini, perempuan dihadapkan pada tantangan baru yang tidak sederhana manakala mendampingi tumbuh kembang anak di era digital.
Kemajuan ICT memang benar menjadi berkah bagi kebutuhan berafiliasi manusia.

Tanpa harus bertatap muka, setiap orang kini dapat memenuhi kebutuhan dasarnya untuk berinteraksi dengan orang lain.

Namun, pemanfaatan ICT dalam pergaulan sehari-hari jika dilakukan secara berlebihan, justru dapat menyebabkan menurunnya kemampuan individu untuk dapat berinteraksi dengan orang lain secara langsung.

Jebakan deprivasi sosial

Generasi milenial yang selalu terhubung secara daring memiliki kecenderungan mager, malas bergerak. Silaturahim tatap muka tidak lagi seintens dahulu. Dalam beberapa kasus, kebutuhan ini telah digantikan media sosial. Keterampilan sosial individu, dalam makna yang sesungguhnya, pada akhirnya dapat terganggu. Orang menjadi tidak memiliki pengalaman belajar yang cukup untuk berinteraksi face to face, mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara langsung kepada orang lain, bernegosiasi, dan menyelesaikan perbedaan pendapat yang setiap kali pasti terjadi dalam hidup kesehariannya.

Perempuan, sesibuk apa pun dalam melaksanakan peran publik yang diembannya, tetap harus mengutamakan kelekatan anak-anaknya. Masa kanak-kanak ialah usia emas dan merupakan fondasi bagi kesehatan perkembangan individu selanjutnya. Deprivasi sosial pada usia dini dapat bersifat traumatis dan berakibat panjang dalam perkembangan kehidupan psikososial anak di kemudian hari. Kelekatan ialah ikatan kasih sayang yang berkembang antara anak dan pengasuhnya.

Banyak penelitian menunjukkan kualitas kelekatan memiliki pengaruh jangka panjang terhadap perkembangan gejala-gejala psikopatologi, kompetensi sosial, dan performansi anak di sekolah (Jones, 1996). Kelekatan memberi anak keamanan emosional. Rasa aman, yang terpupuk sejak kecil ini, akan mendasari keberhasilannya menjalin hubungan sosial di kemudian hari. Dengan kata lain, kelekatan merupakan prasyarat keberhasilan sosialisasi.

Kelekatan terkait dengan kemampuan eksplorasi. Anak yang aman kelekatannya akan dengan penuh percaya diri berani melakukan eksplorasi lingkungan. Landasan kelekatan yang aman, pada gilirannya, mendorong anak mengembangkan inisiatif. Inisiatif mencakup pengertian efikasi diri dan percaya diri, yaitu suatu keberanian untuk melakukan ekspansi atau eksplorasi terhadap lingkungan. Anak merasa dapat mengatasi berbagai problematika kehidupan. Wenar (l994) mendefinisikan inisiatif ini sebagai self-reliant expansiveness.

Kelekatan juga mendasari terbentuknya konsep kepercayaan dasar pada anak. Pembentukan kepercayaan dasar ini sebagai tahapan pertama dalam kehidupan yang sangat berperan dalam proses panjang perkembangan psikososial seseorang. Kurangnya kelekatan, dengan demikian, merupakan komponen ketidakpercayaan.
Kepercayaan dasar tidak saja mendasari kemampuan hubungan sosial anak selanjutnya, tetapi juga memengaruhi keberhasilan anak melalui fase-fase perkembangan berikutnya. Semuanya ini merupakan bagian dari pengembangan diri dan dipengaruhi oleh bagaimana ibu dan orang-orang penting dalam kehidupan anak memperlakukannya.

Pengasuhan transenden

Sejujurnya tidak semua orangtua memiliki bekal akademis yang memadai untuk mengasuh generasi milenial. Akibatnya, tidak jarang terjadi beberapa kesalahan dalam pengasuhan. Agar terhindar dari kesalahan pengasuhan, utamanya bagi anak-anak milenial yang tumbuh dalam keluarga yang selalu terhubung secara digital, baik melalui media sosial maupun komputasi awan, orangtua hendaknya memperluas skala dan lingkup kewajiban pengasuhan, dengan menerapkan pengasuhan baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

Lim (2019) menyarankan tiga langkah utama. Pertama, enveloped by media. Sebagai keluarga modern yang terhubung secara digital, praktis relasi ibu dan anak diselimuti media. Orangtua seyogianya melakukan berbagai upaya untuk menciptakan lingkungan rumah yang kondusif sehingga anak-anak aman dan produktif dalam mengonsumsi media. Namun, dengan mengalirnya konten media secara daring langsung ke perangkat pribadi anak-anak, orangtua dituntut memiliki kemampuan untuk mengelola atau mengawasi media yang mereka gunakan, mengingat keragaman konten dan intensitas penggunaannya.

Di luar rumah, kontrol orangtua tentu berkurang. Anak dapat menggunakan media secara independen atau bersama teman-temannya. Orangtua mungkin perlu menggunakan mekanisme teknologi seperti menginstal filter dan melakukan pemantauan perangkat lunak yang dapat melacak histori anak ketika berselancar. Namun, tindakan tersebut jika tidak dilakukan secara bijak, justru akan menabrak privasi anak dan dapat mengikis kepercayaan mereka terhadap orangtua.

Pada akhirnya yang lebih penting ialah menanamkan pada anak nilai-nilai dan kekuatan pribadi yang dapat menopang anak ketika mereka harus menghadapi pengalaman media yang rumit dan kompleks.

Kedua, keeping watch online and offline. Kini, interaksi anak dengan rekan-rekannya, antara ruang offline (luring) dan lingkungan online (daring) berlangsung mulus. Orangtua transenden juga harus melakukan hal yang sama. Mereka hendaknya mencari cara untuk memahami iklim sosialitas anak bersama teman-temannya. Di satu sisi, interaksi virtual dapat menguntungkan dan mencerahkan, tapi pada sisi lain dapat menimbulkan luka emosi yang mendalam jika terjadi perundungan daring, misalnya.

Orangtua transenden harus membangun suasana berkeluarga yang terbuka. Sebuah hubungan saling percaya antara anak dan orangtua. Pola berkeluarga demikian dapat memberikan pengertian pada anak bahwa jika suatu saat terdapat kesulitan, baik dalam pergaulan nyata maupun maya, mereka dapat kembali ke rumah dan orangtua selalu ada buat mereka. Agar dapat melakukan tugas ini dengan efektif, orangtua perlu melek teknologi informasi dan memahami tingkat kematangan emosi anak.

Ketiga, always-on parenting. Dalam rumah tangga yang terhubung secara digital, laju kehidupan tampaknya mendekati situasi timeless time. Di sini waktu untuk komunikasi menjadi ‘abadi’ karena sekarang dapat dikompresi melalui konektivitas sepersekian detik. Orangtua transenden tampaknya sangat rentan terhadap ‘waktu abadi’, sebuah konektivitas digital tanpa henti yang diaktifkan perangkat mobile. Tugas parenting sekarang tidak lagi hanya ada ketika orangtua dan anak bersama-sama. Kini, pengasuhan harus terus berjalan tanpa jadwal, tidak lagi dibatasi ruang dan waktu.

Orangtua kini memang berada pada situasi siaga permanen untuk panggilan darurat atau komunikasi rutin dengan anak. Parenting sekarang bersifat ‘abadi’ dan tanpa henti. Ketika anak telah berangkat ke perguruan tinggi sekalipun, orangtua transenden dapat terus berperan aktif dalam kehidupan anak, yang diaktifkan dan didorong koneksi media daring yang efisien dan lancar.
Oleh karena itu, orangtua transenden ialah suatu keadaan dengan tugas pengasuhan abadi, nyaris tanpa jeda.

@drr