Kategori
Artikel

Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku.

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com , JAKARTA – Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku.
Ia tumbuh dengan perbuatan, dan perbuatan itu adalah perbuatanku’.

Itulah petikan pidato pembelaan proklamator kita, Bung Hatta, dalam Indonesia Vrij pada 22 Maret 1928 di mahkamah pengadilan di Den Haag, Belanda.
Di pengadilan inilah diputuskan bahwa Kerajaan Belanda mengganti kata Hindia Belanda menjadi Indonesia.
Pesan penting dari pidato Wakil Presiden pertama Republik Indonesia itu menyiratkan satu hal, bahwa menjadi pemimpin itu tidak nyaman.
Ia tidak saja butuh langkah konkret dan kerja nyata, tapi juga yang terpenting ialah pengorbanan.
Tidak ada pemimpin hebat yang lahir di zona nyaman.
Tidak ada pencapaian hebat yang tumbuh dari zona nyaman.
Bahkan, leiden is lijden, memimpin itu menderita.
Begitu pepatah kuno Belanda yang dikutip Mohammad Roem dalam karangannya berjudul Haji Agus Salim, Memimpin Adalah Menderita (Prisma No 8, Agustus 1977).
Karangan itu mengisahkan keteladanan Agus Salim. Agus Salim dikenal sebagai salah satu tokoh perjuangan nasional.
Ia diplomat ulung dan disegani, tetapi sangat sederhana dan sangat terbatas dari sisi materi.
Jika dicermati, ungkapan tersebut sangat sarat makna.
Memimpin itu, pada level mana pun, ialah amanah, bukan hadiah.
Memimpin itu sacrificing, bukan demanding.
Memimpin itu berkorban, bukan menuntut.
Para pemimpin tidak boleh lupa, tak ada kemajuan bangsa tanpa pengorbanan kepemimpinan.
Tak ada kemajuan tanpa jangkar moral yang andal.
Pilihan-pilihan kebijakan politik dan ekonomi harus dijejakkan pada kesanggupan para pemimpin mengorbankan kepentingan egosentrismenya demi memuliakan nilai-nilai moral kenegaraan, prinsip-prinsip yang penting bagi orang banyak.
Jangkar moral akan mengalahkan pencitraan, populisme, seolah-seolah membela kepentingan rakyat, tapi mengorbankan rakyat yang lain.
Pada prinsip-prinsip itulah mestinya para pemimpin, termasuk para pemimpin di tingkat daerah, bersandar.
Termasuk saat menghadapi berbagai tuntutan, desakan, keinginan sebagian kalangan untuk meninjau ulang konsensus nasional.
Pemimpin sejati akan menimbang secara tenang dan saksama beragam muatan dalam tuntutan itu, alih-alih melempar langsung ke struktur di atasnya lagi.

Jalan nyaman, enak, tenang, tidak dipusingkan tetek bengek yang mengganggu nyenyaknya tidur, jelas bukanlah jalan pemimpin.
Ia juga bukan jalan ‘perbuatan’ sebagaimana pernah digaungkan Bung Hatta.
Sebelum larut dan terseret semakin jauh dalam badai populisme, wahai para pemimpin, segeralah bangun dan kembali ke kredo utama sebagai pemimpin, leiden is lijden, memimpin itu menderita.
Kalau tidak sanggup, ya, jangan jadi pemimpin. 

 

 

@garsantara