Kategori
Artikel

Hamka’s Great Story: A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia

 

Oleh : Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com,AKARTA –: Membahas karya James Rush,
Hamka’s Great Story:
A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia

(edisi Inggris 2016; Indonesia 2017),

*Pembaca dan pengkaji Islam Indonesia dapat melihat posisi Buya Hamka secara lebih jelas dan tegas*.

Seperti dibahas Rush dalam buku ini, sosok Buya Hamka sulit dirumuskan orang karena kompleksitas pemikiran dan kiprahnya.

Hamka, singkatan Haji Abdul Malik Karim Amrullah
(17/2/1908-24/7/1981)
jelas adalah pribadi sangat kompleks.

*Ia bukan hanya sekadar wartawan penulis dan editor, melainkan juga sastrawan prolifik dan sekaligus sejarawan dan ulama terkemuka*.

Tak kurang pentingnya, Buya Hamka adalah ulama/ intelektual-cum-aktivis sosial-budaya dan agama yang melalui pengalaman langsung, observasi, dan aktivisme menuliskannya dalam karya tulis reflektif yang tajam dan menggigit dengan bahasa Indonesia yang khas.

Sedangkan bagi Rush lebih maju lagi, Hamka adalah pengarang, pemikir bebas, sastrawan, dan mufasir
[penafsir Alquran].

Lebih jauh menurut Rush, sebagai pengarang, mufasir, pemikir, dan sastrawan, Hamka memiliki nilai lebih dibandingkan dengan para penulis lain.

“Jika Hamka memasuki sebuah ranah pemikiran, dia akan terjun ke dalamnya dengan berani dan sepenuh hati.
Hamka bukanlah jenis manusia kepalang tanggung.”

Karya James Rush ini merupakan karya unik jika dibandingkan dengan banyak karya lain tentang Buya Hamka.

Karya ini tak lain merupakan biografi sosial-intelektual Buya Hamka berdasarkan tulisan-tulisan Buya Hamka sendiri, yang kemudian sedikit banyak diuji dan dianalisis Rush.

Meski demikian, Rush berhasil menggambarkan sosok Buya Hamka secara relatif lengkap dan komprehensif.

Dalam konteks dan paradigma sejarah sosial-intelektual,
Rush menggambarkan perkembangan Buya Hamka sejak kecil sampai menjadi tokoh termuka Indonesia dalam kaitan dengan lingkungan sosial.

Buya Hamka lahir dan besar di lingkungan sosial ayahnya, Haji Rasul, yang terkenal sebagai ulama pembaru ‘kaum muda’.

*Haji Rasul pun terkait dengan lingkungan sosial Islam lebih luas, tidak hanya Alam Minangkabau, tapi juga Indonesia dan dunia Muslim lebih luas*.

Melampaui pengembaraan intelektual ayahnya, Hamka tidak hanya mengakrabi sejarah dan pemikiran Islam Indonesia dan Dunia Arab, tetapi juga Eropa dan Amerika.

Ini terlihat dari sumber dan kutipan yang hampir selalu ada dalam buku dan artikelnya yang mengacu pada episode sejarah dan sosok pemikir tertentu di Eropa dan Amerika.

Meneliti sosok intelektual Hamka dalam konteks lingkungan sosial lebih luas sejak 1982
—dan baru selesai untuk diterbitkan pada 2016—

James R Rush, guru besar sejarah di Universitas Arizona, Amerika Serikat—
mengumpulkan hampir seluruh karya Hamka, baik buku maupun artikel.

Rush juga mengoleksi banyak karya akademis tentang Hamka sejak skripsi S-1, tesis S-2, dan disertasi S-3 yang dikerjakan di perguruan tinggi Indonesia dan luar negeri.

Meski edisi bahasa Indonesianya cukup tebal (xlii+322 halaman),
Rush membagi bukunya secara cukup sederhana
—hanya enam bab:

pertama, Pedoman Masyarakat;
kedua, Ayah dan Anak;
ketiga, Hamka-san dan Bung Haji;
keempat, Islam untuk Indonesia;
kelima, Perang Budaya; dan
keenam, Orde Baru.

Dengan pembaban sederhana seperti itu, James Rush membangun naratif Hamka sebagai sosok intelektual dan aktivis yang membangun karier intelektualisme secara autodidak.

*Dengan kefasihannya bertutur, baik secara lisan maupun tulisan, Hamka di atas segalanya akhirnya tampil sebagai sosok ‘intelektual publik’ yang penting dalam wacana keislaman dan keindonesiaan pada masa pascakemerdekaan*.

Sebagai intelektual publik, bagi saya Hamka sangat distingtif.

Ia memiliki cakrawala intelektualisme kosmopolitan melalui bacaannya atas karya sastrawan, filsuf, sejarawan, atau ideolog semacam:

Zaki Mubarak,
Jurji Zaidan,
Abbas al-Akkad,
Mustafa al-Manfaluti,
Hussain Haykal,
Albert Camus,
William James,
Sigmud Freud,
Arnold Toynbee,
Jean Paul Sartre,
Karl Marx,
Pierre Loti, dan banyak lagi.

Hamka melalui bacaannya yang sangat luas dan terbuka memberikan contoh tentang keragaman bacaan, yang kemudian dia refleksikan secara kritis.

*Sikap intelektual Hamka ini jelas sangat relevan dan kontekstual dengan tantangan kaum intelektual dan ulama Indonesia masa kini dan mendatang yang harus terus membuka perspektif dan horizon tanpa kehilangan intelektualisme kritis mereka di tengah lingkungan yang terus berubah sangat cepat*.

Menutup diri
—apalagi mengharamkan bacaan yang mengandung pemikiran dan wacana tertentu—

*Hanya membuat kemandekan intelektualisme Islam Indonesia*.

–. Hamka yang banyak bicara, banyak berpendapat, serta perasa mendapatkan banyak pembaca
[dan pengikut].

Meski gaya tulisannya menghibur dan populer, dia membahas perkara-perkara serius.

Pembaca [dan pengagumnya] bertanya kepada dia, meminta bimbingan dalam hal-hal penting dalam kehidupan mereka.

Memang bagi jutaan Muslim Indonesia, Hamka menjadi juru cerita utama generasi mereka;

Pencipta narasi besar atau adicerita yang menurut Robert Berkhofer menata masa lalu, menafsir masa kini, dan memperkirakan masa depan.

Dalam suatu adicerita,
Yang penting bukan hanya tema-tema besar
—seperti soal Nabi Muhammad, tauhid, rukun Islam, Quran dan hadis, dan juga Indonesia—
tapi juga hal-hal kecil.

*Yang terakhir ini misalnya tentang kisah penjahat dan pahlawan, pepatah, kiasan, sejarah lokal, gosip, dan lelucon yang bisa menghibur dan sekaligus menyakitkan*.

Dalam kerangka itu, adicerita Hamka memberikan banyak jawaban atas pertanyaan besar semacam:

Bagaimana saya harus hidup?

Apa artinya menjadi Muslim?

Apa artinya menjadi Indonesia?

Namun,Hamka tidak berhenti sampai di situ.

Dia juga memberikan banyak jawaban atas pertanyaan yang bagi sebagian orang mungkin remeh temeh semacam
“bolehkah makan margarin?”

“Di sinilah terletak kisah besar [adicerita]nya hari ini, sambil membingkai masa lampau dan masa kini bagi jutaan manusia yang, tanpa mengenali suara Hamka yang membentuknya, meliputi rasa percaya dirinya yang luar biasa pada kekuatan manusia;

Kepercayaannya pada Islam sebagai agama pembebas dan impiannya untuk mengisi kehidupan Indonesia modern dan bangsa dengan kearifan dan kebenarannya.”

Hamka memberikan
“kepada kami, para peneliti Indonesia, barang langka yang mungkin unik;
Riwayat hidup penuh karya tulis, serta sudut pandang dan pengaruh pentingnya sebagai cendekiawan Muslim pada masa pembentukan negara [Indonesia].

Meresapi adicerita Hamka berarti memasuki wacana yang didalami satu bagian besar masyarakat Indonesia modern”.

Apa warisan Buya Hamka untuk Indonesia [modern] hari ini dan masa depan?

Hamka dengan segala kekuatan dan kelemahannya telah bersatu dengan keindonesiaan.

“*Karena itu, bagi Indonesia yang masih gamang dalam merumuskan jati dirinya setelah merdeka 71 [72] tahun, karya-karya Hamka perlu disebarluaskan terus-menerus karena di dalam berhimpun, pesan abadi untuk kebesaran dan kedaulatan bangsa ini*.

*Hamka sangat mencintai Indonesia. Jiwa juang Hamka pasti berontak menyaksikan sebagian anak bangsa yang sampai hati melukai Indonesia dengan tangan kumuh berlumur darah*.”

Tantangan itu terkait kegamangan yang terjadi di Indonesia.

Ada perubahan cepat Indonesia menjadi demokrasi.

*Pada saat yang sama juga terlihat meningkatnya gejala sebagian warga Muslim yang kehilangan cinta pada Indonesia dengan melukai Indonesia lewat berbagai bentuk aksi kekerasan*.

Sebaliknya, Hamka tidak pernah berhenti mencintai Indonesia.

Dia tegas menyatakan
“Saya akan jadi Hamka dari Indonesia”,
bukan dari tempat-tempat lain di dunia Muslim di luar Indonesia.

Dengan begitu, Hamka menolak transnasionalisme dalam berbagai bentuknya.

Hamka pernah mengalami masa sulit di masa Jepang, di awal kemerdekaan dan di masa Orde Lama Presiden Sukarno.

“Namun, semua realitas pahit itu … membuat dia menjadi lebih serius dan makin fokus ke satu tujuan.

Tujuan itu adalah penyebaran adiceritanya, di mana Indonesia, suatu negara modern, bakal bersatu di sekeliling nilai dan ajaran Islam.”

Bagaimana membangun Indonesia modern dalam pemikiran Hamka?

Pertama, dia mengingatkan, sejarah politik Islam tidak memberikan jawaban.

Hamka mengungkapkan,
*selama berabad-abad di bawah kekuasaan negara Islam, umat Muslim hidup di bawah “khalifah” [dan sultan] yang berkuasa penuh*.

*Mereka bekerja sama dengan ulama menindas pemikiran bebas dan membuat umat memasuki zaman taklid yang gelap*.

(Rn)