Kisah Haman Seorang Penasehat Firaun Di Mesir

 

Siraman Rohani

 

Oleh: Dr. Dhedi Rochaedi Razak, S.HI, M.Si

 

Busur News Com,Jakarta- Sebagian umat Islam tentu pernah mendengar nama Haman.
Dia adalah seorang pembantu atau pembesar (menteri atau penasihat) Firaun di Mesir.
Dalam Alquran, nama Haman disebutkan sebanyak enam kali. Masing-masing terdapat pada
Alqashash (28) ayat 6, 8, dan 38;
surah Al-Ankabut (29) ayat 39; dan
surah Almu’min (40) ayat 24 dan 36.
“Dan, berkata Firaun,
‘Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, yaitu pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta’.”
(Almu’min: 36-37).
“Dan, berkata Firaun,
‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.
Maka, bakarlah, hai Haman, untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa.
Dan, sesungguhnya, aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta’.”
(QS Alqashash: 38).
Berdasarkan keterangan ini, dapat diketahui bahwa Haman adalah seorang pembesar Firaun dan hidup sezaman dengan Nabi Musa AS.
Ia bertugas membantu Firaun dalam melaksanakan segala perintahnya, seperti membuat bangunan yang tinggi.
Dan, Haman adalah sekutu Firaun.

Dalam pengkajian Alquran, diidentifikasikan bahwa Haman muncul setelah kembalinya Musa dari Madyan.
Haman jugalah yang menasihati Firaun untuk menolak misi keagamaan Musa.
Pada peristiwa pelarian Bani Israel dari Mesir, Haman tenggelam bersama Firaun dan tentaranya di Laut Merah.

Di kerajaan Firaun, Haman menempati beberapa posisi penting kerajaan sebagai menteri, penasihat raja (terutama bidang keagamaan), dan sebagai pelaksana proyek pembangunan menara.
Haman diperintah oleh Firaun untuk membuat menara yang akan digunakan Firaun untuk melihat
“Tuhan Musa”.

Pembuatan menara itu membutuhkan 50.000 pekerja dan belum termasuk tukang untuk membuat kuil-kuil.

Konon, setelah pembangunan menara selesai, Firaun menembakkan panah dari puncak menara untuk mengalahkan Tuhan Musa.
Firaun berbohong kepada Musa bahwa Tuhannya telah mati dengan menunjukkan anak panahnya yang kembali telah berlumuran darah.
Menurut sebagian ahli tafsir, Firaun diam-diam telah mencelupkan anak panah itu ke dalam darah.

Haman jugalah yang menasihati Firaun untuk menolak misi keagamaan Musa.

*Pada peristiwa pelarian Bani Israel dari Mesir, Haman tenggelam bersama Firaun dan tentaranya*.
— Kata ‘Haman’ dalam Alquran pernah diperdebatkan oleh sebagian orientalis sebagai bentuk kesalahan dalam pembacaan Alkitab dari Kitab Ester karena menempatkan Haman 1.100 tahun sebelum zaman Ester.

Namun, perdebatan itu menemui titik terang setelah ditemukannya prasasti
“Batu Rosetta” tahun 1799 dan tersingkapnya nama ‘Haman’ yang menggambarkan hubungannya dengan Firaun.

Ketika hieroglif terpecahkan, diketahui bahwa Haman adalah seorang pembantu dekat Firaun dan ‘pemimpin pekerja batu pahat’.
“Penugasan Firaun yang memerintahkan Haman untuk mendirikan bangunan itulah yang perlu ditegaskan karena itu membuka lembaran sejarah baru siapa sesungguhnya Haman,”.
Dari cerita Nabi Musa AS dan perselisihannya dengan Firaun dan keterangan Mesir Kuno, telah menjadi perhatian para pakar dunia, khususnya arkeologi dan kepurbakalaan di masa kini.
Munculnya nama Haman, sebagaimana disebutkan dalam Alquran, sangat mengagetkan banyak pihak, terutama para orientalis dan pemikir Barat.
Sebab, nama Haman tak satu pun ditemukan dalam kitab Taurat yang berkaitan dengan kehidupan Nabi Musa AS.

Penyebutan nama Haman hanya ditemukan di bab-bab terakhir Perjanjian Lama sebagai pembantu raja Babilonia yang melakukan banyak kekejaman terhadap Bani Israil kira-kira 1.100 tahun setelah Nabi Musa AS.

Karena itulah, para pemikir Barat ‘merasa kecolongan’ ketika Alquran menyebutkan nama Haman yang merujuk pada kehidupan sezaman dengan Nabi Musa AS.

Mereka pun lantas melontarkan tuduhan bahwa Alquran ‘keliru’ dalam mengemukakan nama Haman.

 

(Riena)