Kategori
Artikel

God Strategy: How Religion Became Political Weapon in America (2010)

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA —God Strategy: How Religion Became Political Weapon in America (2010).

Karena penasaran ingin tahu penggunaan agama sebagai senjata politik di negara kampiun demokrasi itu, saya pada 2017 membeli buku karangan David Domke dan Keion Coe itu dengan memesannya terlebih dulu melalui toko buku yang menjual buku-buku berbahasa asing di Jakarta.

Saya membaca, untuk menggambarkan bagaimana agama digunakan dalam politik di Amerika Serikat, Domke dan Coe mengutip pidato pelantikan Presiden Barack Hussein Obama: “We know that our patchwork heritage is a strength, not a weakness. We are a nation of Christians, Muslims, Jews, and Hindus and nonbelievers.”

Domke dan Coe juga mengutip pidato John F Kennedy yang sangat terkenal pada September 1960: “I believe in an America where the separation of Church and state is absolut; where no Catholic prelate would tell the President—should he be a Catholic—how to act, and no Protestant minister would tell his parishioners for whom to vote.”

Dari pidato Obama dan Kennedy itu tergambar agama digunakan sebagai strategi politik dalam konteks demokrasi, kesetaraan, dan keberagaman, juga sekularisme.

Penggunaan agama dalam konteks politik semacam itulah yang menyebabkan Barack Obama yang punya darah muslim dalam dirinya serta John F Kennedy yang minoritas Katolik bisa menjadi presiden di Amerika yang mayoritas penduduknya beragama Protestan.

Itu jelas berbeda dengan penggunaan agama di Pilkada DKI 2017 karena kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama, kandidat dengan minoritas ganda Tionghoa dan Kristen, menjadi gubernur.

Pada 2017 dalam satu kunjungan ke Amerika, saya membeli buku A History of the American People karangan Paul Johnson.
Di buku yang terbit 1999 itu terdapat kutipan pernyataan Nixon kepada ajudannya, Pete Flanigan. Nixon berkata: “Pete, here’s one thing we can satisfi ed about. This campaign has laid to rest for ever the issue of a candidate’s religion in presidential politics. Bad for me, perhaps, but good for America.” Nixon menolak menggunakan agama sebagai senjata atau strategi politik meski ia harus kalah dari Kennedy.

Penolakan penggunaan agama sebagai identitas juga terjadi pada Pilpres Amerika 2008. Ketika itu Barack Obama dan John McCain bersaing merebut kursi presiden AS.

Dalam sebuah kampanye, seorang ibu pendukung McCain menyebut Obama Arab, muslim, dan teroris.
McCain menjawab, “Tidak, Bu, Obama bukan Arab, bukan pula teroris, kita tidak perlu menebarkan kebencian seperti itu.
Dia warga negara Amerika Serikat yang baik dan memiliki perbedaan konsepsi dengan saya, dan itulah mengapa kami berkompetisi dalam pilpres kali ini.” McCain kalah dari Obama.

Saya membeli buku itu pada 2018, beberapa bulan setelah buku terbit, di toko buku yang menjual buku berbahasa Inggris di Jakarta.

Buku Why Democracies Die menjelaskan kematian demokrasi akibat populisme Donald Trump pada Pilpres Amerika 2016.

Populisme Trump ialah populisme sayap kanan yang menggunakan idiom agama, ras, etnik, pribumi-nonpribumi.

Pilpres Amerika 2016 serupa Pilkada DKI 2017.

Taruhannya fatal, yakni terbelahnya rakyat dan matinya demokrasi.

 

@garsantara