GERAKAN LITERASI NASIONAL

 

BusurNews.Com,Jakarta – GERAKAN LITERASI NASIONAL

TINGKAT LITERASI MENJADI TOLOK UKUR KEMAJUAN BANGSA.

SEMAKIN TINGGI TINGKAT LITERASI,
SEMAKIN MAJU BANGSA TERSEBUT.

 

“GLN dimaksudkan agar menjadi landasan utama mewujudkan Indonesia yang maju.
Ciri-ciri bangsa yang maju ialah bangsa yang sangat kokoh dalam membangun tradisi literasinya,”.

Dengan GLN komentar,
Programme for Internasional Students Assessments (PISA)

Bahwa Indonesia butuh 45 tahun untuk sejajar dengan Negara OECD, dapat dipatahkan.

“Kita harus membuktikan hal ini salah.
Saya yakin kita hanya butuh 5 tahun mengejar ketertinggalan jika anak-anak generasi sekarang sudah dilatih untuk membudayakan gerakan literasi,”.

Lewat ARKI, GLN digalakkan.
*ARKI merupakan kegiatan yang mewadahi kreativitas remaja Indonesia usia sekolah menengah untuk berekspresi, berkarya, dan berkompetisi melalui media seni, khususnya gagasan estetik melalui karya syair, cerita pendek, dan karya komik*.

“Harapan kita karya-karya ini nantinya dapat mereka jadikan sebagai portofolio prestasi-prestasi mereka, yang dapat mereka jadikan nilai tambah mereka,”.

 

–. LITERASI menjadi kunci utama dalam pendidikan karakter karena pada hakikatnya literasi merupakan isi pendidikan karakter dan penentu suatu bangsa akan maju atau tidak.

Saat ini masih ada tantangan-tantangan dalam proses percepatan perubahan literasi.

“Negara-negara yang sudah maju tingkat literasinya tinggi sekali.
Itulah kenapa kita harus mengejar ketertinggalan,”.

 

Ketersediaan buku bacaan di Indonesia masih menjadi suatu tantangan yang cukup besar.
Hal itu disebabkan kurangnya penulis-penulis di Indonesia.

Oleh karena itu,
*Kemendikbud melalui Ditjen Dikdasmen terus mendorong agar guru-guru saat ini giat dalam menulis buku, baik yang berbentuk fiksi maupun nonfiksi*.

“Buku sastra lama banyak, tapi itu tidak menarik kalau dibaca anak-anak sekarang,”.

Guru, jadi tantangan yang terbesar.
Ketertarikan yang berbeda antara guru dan murid membuat proses literasi juga semakin alot.

Anak-anak lebih tertarik pada dunia multimedia yang berbau teknologi terkini.
Sayangnya, banyak guru tidak nyaman dengan teknologi.

“Bukan berarti mereka gaptek, tapi memang karena faktor generasi,”.

Selain itu, media harus diperhatikan guru.
Anak-anak umumnya lebih suka pengetahuan dari buku-buku bergambar.

 

“GURU SENIOR ITU SELALU MEMANDANG KOMIK BUKAN BUKU.

KARENA GURU SENIOR SELALU MENGONOTASIKAN KOMIK SEBAGAI HAL YANG MAIN-MAIN,”.

(Rn)