Gaya Pendidik Desa : Dari Masyarakat, Untuk Masyarakat

Bukan tanpa sebab pendidik kreatif sangat dibutuhkan dewasa ini untuk dapat berdiri diatas kaki sendiri, bukan tanpa sebab pula bila hal ini merupakan sebuah kewajiban untuk berubah menjadi lebih dinamis namun terarah juga untuk mengantisipasi kemarahan masyarakat saat tanah tanah dan tambang terpaksa dikeruk paksa, hingga rumah mereka tak aman lagi untuk ditempati dan merasa terasingkan.

Oleh Zuliana

Gaya pendidik yang syarat akan ketetapan tata krama, etika, dan norma seiring waktu mulai bergeser, banyak dari kita yang sulit membedakan batas pendidikan dasar untuk didapat oleh kita semua secara bersamaan namun tidak dengan hasil yang didapatkan. Ketetapan yang disangsikan bisa jadi sudah sangat lapuk dan akan mematahkan keragaman yang ada. Kesatuan yang seharusnya terbentuk kini mulai dibedakan, pendidikan yang ‘bisa’ didapat oleh masyarakat desa dan pendidikan yang bisa didapat oleh masyarakat yang tinggal di perkotaan. Banyak hal yang menciptakan kesenjangan seakan tertutup rapat, gaya pendidik desa yang memaksakan untuk menyamai jalur pendidikan perkotaan harus siap mengantisipasi dampak yang bisa jadi sangat beresiko.

Keresahan masyarakat adalah bila sebagian dari kita tidak cukup mendapatkan hal yang layak untuk bekal mencari sumber berkehidupan. Tidak seluruh yang didapatkan dibangku sekolah dapat kita temui atau mungkin saja banyak hal yang tidak benar benar ter-implementasikan secara baik. Hal yang benar benar pokok banyak yang terlewat dan terlupakan untuk bisa dipakai karena budaya yang seiring bergeser dan tidak tetap untuk bisa digunakan dalam kehidupan sesungguhnya.

Suatu hal yang sederhana, mudah dimengerti untuk diajarkan di ruang kelas dan di terapkan dalam lingkungan sosial adalah hal yang paling diharapkan saat ini, hal yang berbau kompleksitas hanya akan ditemui dalam praktikal kehidupan. Kenyamanan dalam pendidikan ditambah pembelajaran daring yang masih belum kuat betul dengan kesadaran yang dimiliki akan sedikit memberikan goncangan dalam praktikal kehidupan, kenyataannya akan banyak sekali hal yang tertinggal dibelakang meski tinggal di perkotaan, hal ini juga menyangkut pengasuhan yang di terapkan dalam lingkungan rumah, akan juga berdampak paling besar akan kesuksesan pendidikan. Keberhasilan pendidikan desa maupun perkotaan hanya dapat dirasakan bila para wanita atau ibu juga mendapatkan pendidikan yang layak, bahasa ibu adalah bahasa yang paling dimengerti dalam keluarga, hingga pendidikan akan membawa kelayakan dan kesiapan masyarakat dalam transformasi kepemimpinan yang menjadi syarat akan demokrasi, kesempatan yang seharusnya terbuka oleh siapapun dan dinikmati oleh siapapun. Bukan keluhan yang terus di teriakan dikemudian hari untuk saling menyalahkan yang sangat senter terjadi.

Memilah hal yang seharusnya dapat diimplementasikan dalam pendidikan pedesaan dengan sengaja dielakkan, budaya yang berlaku dalam masyarakat adat sulit ditinggalkan, membuat pendidikan yang didapatkan di desa akan terasa sangat berbeda dengan pendidikan perkotaan yang cakupannya lebih luas, namun saat ini saat pandemi global berlangsung, masih bisakah kita tebang pilih pendidikan apa yang bisa dan tidak bisa didapatkan oleh siapapun di kota maupun desa? Internet of Things atau IOT merupakan satu hal yang sangat riskan, bila atau tanpa edukasi yang tepat, semua akan sia sia dan lebih menyerahkan pada mesin dibanding kegiatan befikir kritis yang seharusnya dapat lebih diasah untuk mengembangkan penemuan penemuan baru. Bukan hanya adaptasi yang diwajibkan dalam megantisipasi ketertinggalan dan pendidikan darurat, namun juga dampaknya dikemudian hari yang seharusnya dapat mencetak pula sumber daya yang lebih berkualitas karena kemajuan teknologi dan segala kemudahan yang ada.

Belajar banyak hal yang ditimbulkan dari pandemi yang sedang berlangsung dan mengantisipasi hal yang terjadi dari pulau Dewata, yang pernah sangat amat menggantungkan ke dalam sektor pariwisata dan menjadi sektor yang paling terdampak dari pandemi. Namun kini, ekonomi kreatif adalah satu satunya jalan yang harus dan wajib dipelajari dan diterapkan dalam pendidikan desa maupun perkotaan, pergeseran nilai dalam pendidikan kreatif dan adat yang berlaku mau tak mau harus berganti, kesetaraan pendidikan yang diusung bukan tanpa sebab, globalisasi dan ekonomi digital yang terpaksa dan dipaksa masuk saat pandemi membuat semua pendidikan menjadi setara. Kesederhanaan pendidikan desa yang juga secara terarah menjadi satu satu nya jalan menyelamatkan lahan yang dialih fungsikan dan lebih memerhatikan dampak dalam jangka panjang, kesadaran yang seharusnya dapat dipelajari oleh banyak pulau lainnya yang juga mengandalakan sektor pariwisata. Berpikiran lebih modern, kreatif, dan dinamis merupakan satu satunya jalan untuk menemukan solusi dan menemukan titik yang paling baik untuk menguntungkan seluruh pihak.

Kini pendidik desa tak lagi dibeda bedakan dengan pendidik perkotaan, bukan tanpa sebab pendidik kreatif sangat dibutuhkan dewasa ini untuk dapat berdiri diatas kaki sendiri, bukan tanpa sebab pula bila hal ini merupakan sebuah kewajiban untuk berubah menjadi lebih dinamis namun terarah juga untuk mengantisipasi kemarahan masyarakat saat tanah tanah dan tambang terpaksa dikeruk paksa, hingga rumah mereka tak aman lagi untuk ditempati dan merasa terasingkan,  pemerintah yang juga seharusnya mengendalikan investasi untuk lebih memberikan andil para masyarakat lokal untuk membangun desanya merupakan satu pokok yang diidamkan, begitu pula hak hak pendidikan yang mestinya didapatkan oleh para ibu dan wanita sebagai guru pertama anak dirumah.