Finansial dan Sosio Ekonomi Generasi Millennials : Generasi Eco-economics Pemegang Kunci

Pemerintah yang semakin kewalahan mengatur perekonomian dan mengharapkan celah untuk solusi yang pas untuk masyarakat selama pandemi. Merintis sosio-ekonomi digital yang seharusnya sejak sepuluh tahun lalu di kampanyekan malah diam ditempat, pendidikan yang tidak pada tempatnya dan belum dipahami betul oleh masyarakat merupakan satu hal yang membuat perekonomian dapat menjadi ‘stagnant’.

Oleh Zuliana

Krisis ekonomi yang melanda dunia selama masa pandemi sukses membuat ‘shock therapy’, berharap semua cepat usai dan meniti kembali perekonomian secara normal dan beraktivitas seperti sediakala diruang publik. Bukan hanya krisis perekonomian yang menjadi jadi, krisis kepercaya diri-an yang terus menghinggapi  menjadi momok menakutkan dan terus membayangi publik dengan teror yang tak berujung.

Menjajaki ruang publik yang semakin fokus dengan kesehatan diri dan sisi dilematis yang sangat mungkin menjadikan mental sebagian masyarakat semakin terpuruk. Hal ini merupakan hal serius dampak dari pandemi berkepanjangan dan mengubah gaya hidup maskarakat beradaptasi di ranah publik dengan kebiasaan baru. Semua dari kita mulai memikirkan untuk mencoba untuk membangun sosio ekonomi dengan skala yang lebih kecil sehingga banyak anggapan dan pemikiran bahwa trend masa depan yang terlihat mungkin saja skala usaha dipersempit dan semakin fokus kedalam satu jenis, walaupun semua beralih ke ekonomi digital, namun bila tidak jelas aturan yang berlaku bisa bisa merugikan banyak pihak didalamnya.

Pemerintah yang semakin kewalahan mengatur perekonomian dan mengharapkan celah untuk solusi yang pas untuk masyarakat selama pandemi. Merintis sosio-ekonomi digital yang seharusnya sejak sepuluh tahun lalu di kampanyekan malah diam ditempat, pendidikan yang tidak pada tempatnya dan belum dipahami betul oleh masyarakat merupakan satu hal yang membuat perekonomian dapat menjadi ‘stagnant’. Tingkah laku masyarakat yang belum pas betul dengan kemajuan digital semakin meberatkan langkah untuk menjadikan ekonomi digital lebih terarah jelas. Melepaskan diri dari keterantungan digital dan mepertuhankan teknologi yang membuat masyarakat semakin sulit untuk mandiri bisa jadi teror yang dibentuk dari gaya hidup masyarakat kini.

Sistem perekonomian klasik yang masih menjadi dipercaya oleh masyarakat digadang masih dan terus akan menjadi sistem masyarakat Indonesia yang minim akan edukasi publik yang kurang minat akan perubahan sistem dan membangun, Ujian saja belum selesai bagaimana pikirkan masa depan? Terlebih banyak dari kita sulit menyukai hal-hal yang dibuat ‘ribet’ atau terlihat kompleks, siapa yang mau dipersulit kalau hal mudah bisa didapatkan dengan cepat? Mencari jalan pintas dan melakukan segala cara tanpa menghalau akibatnya, Kekaburan untuk percepatan waktu, maupun kabur karena kita masih berusaha keras untuk mencari identitas diri yang belum sepenuhnya ditemukan. Membawa kembali keTeknologi, Aset Bangsa, Masa Depan yang Kabur.

Stabilitas ekonomi yang semakin diimpi impikan seharusnya tidak di rasakan oleh beberapa pihak, rangka kerja kaum milennials terpaksa diseret kedalam arus perubahan yang juga disisi lain merupakan juru kunci yang dipegang oleh generasi penentu perubahan ini, perubahan yang mendasar berupa etos kerja yang terbiasa dengan ketidak pastian menjadi lebih terarah yang dipersempit, seperti tikus tikus kecil laboratorium yang mudah berhentikan oleh sistem dan digerakan oleh stimulus. Pendidikan dasar untuk mencapai sebuah keberhasilan dalam seni membangun perekonomian digital seharusnya jelas terlihat, yang terlihat belakangan ini semakin memunculkan banyak spekulasi publik tentang kemunduran yang berarti dengan menyebarkan banyak kebohongan dan kecurangan yang tak henti hentinya membuat kacau perekonomian menjadi poros poros kecil yang sulit sekali dielakkan. Langkah ekonomi digital pun dipertanyakan, siapkah publik untuk menjalani sebuah ladang baru yang terus berkembang dengan edukasi minim yang belum sepenuhnya rampung di kampanyekan untuk mencapai keberhasilan bersama?

Sebuah harga percaya diri publik pun semakin digaungkan, banyak masyarakat yang paham teknologi, namun semakin banyak juga yang mengenal betul struktur yang baik dan benar untuk membuahkan hasil dari teknologi itu sendiri, salah satunya adalah karakter masyarakat yang masih senang berspekulasi, sarkastik serta kritik sambil lalu yang hanya ‘iseng’ dilemparkan publik hingga curahan hati yang tidak berujung bisa jadi penghambat terbangunya perekonomian digital, yang seharusnya bisa lebih modern dan mengerti betul memanfaatkan teknologi untuk membangun diri. Harga sebuah kepercayaan memang sulit dikemukakan diranah publik, apalagi jika sosial media yang semakin terlihat seperti pasar malam yang disupiri oleh anak muda yang belum stabil betul untuk benar benar berkomitmen untuk membangun kearah yang lebih baik. Bukan hanya pihak lain yang bisa dirugikan, namun harga diri yang benar dipertaruhkan.

Suntikan positif dari pemerintah pun diharap mampuni untuk menjadikan masyarakat untuk berpikiran lebih modern, berdiri di kaki sendiri dan tidak menjadi regresi. Berharap tidak ada pembiaran dan menetapkan aturan yang jelas dalam menggunakan teknologi dan digital untuk stabilitas perekonomian yang lebih baik di kemudian hari menjadi keadilan sosial seluruh rakyat Indonesia. Pendidikan digital perlu lagi dan lagi diarahkan melihat ketetapan pasar yang mudah sekali ambruk karena masyarakat yang belum mengerti betul dan siap akan adanya ekonomi digital merupakan dampak jelas dari perubahan, belas kasih investor pun menjadi hal yang nyata. Inventasi digital yang sulit dilakukan di Indonesia bisa jadi karena tingkah laku dan gaya hidup masyarakat yang belum mau beranjak dan menolak untuk menjadi lebih terarah. Tidak semua hal harus disalahkan mengenai langkah yang diambil oleh pemerintah untuk menjadikan masyarakat selangkah lebih maju, tidak melulu semua merupakan salah pemegang kebijakan yang mendominasi atau kembali mengenai aturan yang ditetapkan, namun apakah masyarakat siap akan perubahan dan mau untuk berubah kearah yang lebih baik? Hal yang masih menjadi tanda tanya besar untuk kesiapan publik mengikuti arus Industri digital 4.0, bilamana masyarakat belum sepenuhnya siap untuk membangun sosio ekonomi digital, kita semua mesti bersiap untuk gagal menjadi negara maju, menjunjung tinggi sikap konsumerisme dan gagal berkembang jadi pokok permasalahatan yang menjadi konsen, tanpa kesadaran masyarakat bisa jadi dipimpin oleh mesin mesin yang bersifat otoriter dikemudian hari.