Fenomena Dinamika Psikososial di Balik Cerita Babi Ngepet* Oleh : Dede Farhan Aulawi (Pemerhati Psikososial)

 

Busurnews.com, Bandung- Beberapa hari terakhir ini, dunia medsos cukup diramaikan dengan isu tertangkapnya seekor babi ngepet di daerah Depok Jawa Barat. Isu atau cerita ini cukup menyita perhatian masyarakat luas, meski akhirnya terungkap bahwa cerita tersebut tidak lebih dari Hoaks (bohong) yang bermotif ingin terkenal. Hanya karena ingin “sesuatu”, akhirnya melakukan “sesuatu” dan melupakan konsekuansi atas “sesuatu” yang dilakukannya. Pada akhirnya semua perahu “kecerobohan” akan bersandar di dermaga “penyesalan”.

Jika kita menapaki literatur mitos tentang babi ngepet ini, awalnya dikisahkan bahwa siluman babi ini berasal dari Gunung Kawi. Pelaku yang ingin menguasai ilmu hitam pesugihan ini bersama istrinya akan datang ke gunung menemui kuncen. Setelah mereka menyerahkan sesajen, uang mahar dan menyatakan siap menanggung segala akibatnya, maka kuncen akan mempertemukan mereka dengan siluman babi. Si pelaku akan membuat perjanjian menyerahkan tumbal nyawa dari kerabat dekat yang disayangi, biasanya anaknya sendiri. Jika janji ini tidak dipenuhi, maka nyawa si pelaku sendiri yang akan menjadi gantinya. Mungkin karena alur cerita ini dianggap cukup menarik, maka tidak heran ada produser yang mendokumentasikan cerita ini kedalam layar lebar atau sinetron. Mungkin kondisi sosial kemasyarakatan kita masih menyukai hal – hal yang irasional sebagai bumbu hiburan dan kenyataan dalam kehidupan.

Mitos penjelmaan seseorang yang menggunakan ilmu hitam pesugihan dengan cara mengubah dirinya untuk sementara menjadi babi siluman, sebenarnya bukan hanya di Indonesia saja karena di dunia barat pun ada meskipun binatang penjelmaan yang dipilih agak berbeda. Menurut Asian Folklore Studies terbitan Asian Folklore Institute juga telah memaparkan bahwa konsep perubahan manusia ke binatang ini serupa dengan konsep werewolf (manusia serigala) di Barat. Mungkinkah ini semua hanya tersajikan dalam bingkai “panggung hiburan” semata, atau realitas sosial yang merasa sudah jenuh dengan kenyataan hidupnya.

Meski kebanyakan masyarakat mengetahui bahwa hal tersebut hanyalah sebuah mitos (dongeng), faktanya selalu menarik jika ada cerita yang dikaitkan dengan hal tersebut, dan seolah – olah benar terjadi. Itulah kurang lebih gambaran dari hoaks yang berkembang di jagat medsos sebelumnya.

Fenomena di atas menjadi menarik jika diamati dari perspektif dinamika psikososial di masa twilight zone digital ini. Menarik mencermati tulisan Dr. Tauhid terkait hal ini yang memandang gegar budaya karena limbung akibat fondasi yang belum kokoh di dunia baru yang terbangun di platform digital membuat sebagian dari kita beradaptasi dengan cara paling sederhana, yaitu mengakomodir basic insting untuk bertahan, tetapi dengan cara menyerang. Defensif yang ofensif sebagai bagian dari pre-emptive action.

Sosial media kadangkala menjadi rujukan yang menentukan nilai dan standar moral, bahkan dapat menjadi perancah bagi terbangunnya operating system terkait pengambilan keputusan yang terinstalasi secara spontan sebagai bentuk adaptasi dari metadata informasi yang menggurita. Benturan antara data (melihat di sosial media) dengan realita (dijalani) akan menghadirkan distorsi kesadaran yang membuat pengar. Data sosial media itu menjadi informasi induktif yang terkadang diterima sebagai representasi kondisi generik. Perspektif dan persepsi tentang dunia yang dilihat dari perspektif yang terdistorsi data induktif dari hasil pengamatan secara proksi melalui sosial media, akan mendorong terjadinya polarisasi antara kenyataan yang dijalani dengan realitas gagasan yang disajikan.

Gaya hidup mewah tak pernah susah misalnya, akan menjadi nilai acuan yang diyakini adalah prophecy dan legacy yang membuat kita mengutub pada posisi berlabel gagal. Dan merasa gagal itu adalah awal sesungguhnya dari kegagalan. Khususnya jika gagal bersyukur yang kemudian jatuh dalam perangkap keluh kesah yang menyeret jebakan keputusasaan.

Secara neurosains pusaran efek Hedonic di segitiga emas nukleus Akumben, ventral Pallidum, dan nukleus parabrakial serta efek koriolisnya melalui lingkar luar yang menghubungkan ACC, OFC, dan Insula menjadikan daya nalar kita out of sadar dan manut pada siaran dari hot spot hedon yang terus menerus menggerus dengan menghadirkan sensasi haus akan kenikmatan yang harus berlangsung terus menerus. Bahkan akhirnya ventromedial prefrontal yang biasa mengamankan rasionalitas berbasis nilai dan etika moral juga tak mampu lagi menjadi tempat bersandar hingga kadang kemuliaan Akhlaq tak lagi menemukan tempat untuk menghunjamkan akar.

Lalu kita tanpa sadar, juga tanpa nalar menjelma menjadi manusia yang dengan segala cara ingin eksis dan mendapat keuntungan dari eksistensi yang berkonsekuensi profit secara pribadi. Jika demikian kita itu sudah termasuk sebagai representasi orang – orang yang menurut Rasulullah SAW, terlalu mencintai dunia, “ yuhibbuunaddunya wayansaunal akhiroh “. Terlalu cinta harta/materi, termasuk kedudukan di mata manusia, sehingga lupa akan hari akhir dan proses hisab, “ yuhibbunal maala, wa yanshaunal hisab “. Yang secara diam – diam dan terang – terangan lebih mencintai dan memberi perhatian kepada makhluk dan bukan Penciptanya, “ yuhibbuunal kholqoh wayansaunal Khooliqoh “. Yang kerap berbuat dosa, sadar tapi tak kunjung bertaubat malah terjun lebih dalam, lagi dan lagi, “yuhibbunaddzunubah wayansaunattaubah “.

Hal tersebut pada akhirnya bisa menjebak manusia hingga terpesona dan terpukau pada gelimang harta para neo crazy rich baru dari You Tube atau para selebgram yang sudah bisa beli hotel di usia muda dan kawan – kawannya yang dikaruniai sekaligus diuji dengan kekayaan dan ketenaran. Lalu hidup kita seolah diatur oleh dorongan gairah untuk mendapatkan semua yang masuk dalam referensi indikator cinta dan bahagia versi post digital; rumah mewah (smart house), mobil (e-Smart), jam, hape dan lain – lain. Tentu hal ini tidak masalah jika bisa didapatkan dan dinikmati sebagai rasa syukur, asalkan halal dan proporsional tentu saja. Kemudian pada gilirannya juga akan membuat kita terlena dan terbuai hingga hidup dalam mimpi dan tak siap bangun di saat mati. Padahal jelas “kulu nafsin zaikotul maut “, maka kita bisa jadi adalah “ yuhibbunal kusuroh wayansaunal fahfaroh “, orang – orang lupa yang gagal eling apalagi waspodo.

Akhirul kata mari kita berdo’a pada Allah Yang Maha Kuasa agar kita diberi kekuatan sehingga mamapu memenangi peperangan terhadap hawa nafsu yang memerlukan endurans dan derajat resiliensi tinggi. Aamiin YRA.(***)