Kategori
Artikel

Eucalyptus (kayu putih) digunakan untuk mencegah dan mengurangi gejala-gejala covid-19.

 

K

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Eucalyptus (kayu putih) digunakan untuk mencegah dan mengurangi gejala-gejala covid-19.

Tak ada ‘satu pun’ anggota dari beberapa grup Whatsapp (WA) medis yang berani setuju. Bila ada satu yang mendukung, pasti siap digempur dan di-bully. Berbeda jika remdesivir sebagai obat covid-19 yang disahkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat (AS). FDA memastikan remdesivir obat untuk pasien SARS-CoV-2 (2 Mei 2020). Gilead telah mendapatkan izin untuk memproduksinya secara luas. Remdesivir diujicobakan secara klinis pada 1063 penderita. Uji coba dilakukan Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) AS. Namun Stuart Tangye, pakar imunologi Garvan Institute of Medical Research New South Wales mengatakan, tidak adanya penurunan drastis kematian di AS menunjukkan remdesivir tidak akan meningkatkan pengobatan covid-19. Data jumlah kasus total di AS 2,983,142, Worldmeter 6 Juli 2020. Jumlah ini menempati urutan teratas di seluruh dunia. “Jika obat ini memiliki efek, seharusnya terjadi penurunan jumlah kematian, juga kasus yang parah. Itu semua tidak terlihat,” lanjutnya. Remdesivir merupakan obat antivirus berspektrum luas, dirancang untuk menonaktifkan mekanisme replikasi virus, termasuk virus korona. “Secara prinsip remdesivir meniru materi genetika virus,” jelas Sharon Lewin, pakar penyakit menular dan direktur Doherty Institute di Melbourne. “Ketika virus mereplikasi diri, mereka menggunakan obat yang diberikan, bukan menggunakan bangunan genetikanya, sehingga proses replikasi gagal,” tegasnya. AFP/Ulrich Perrey Remdesivir. Uji coba awal penggunaan remdesivir dikritik karena tidak membuktikan secara pasti, apakah kesembuhan pasien disebabkan obat atau karena kondisinya memang membaik. Remdesivir tidak menunjukkan waktu pemulihan pasien yang signifi kan. Para ilmuwan China memublikasikan temuan mereka dalam jurnal medis The Lancet pada akhir April 2020. Bagaimana eucalyptus? Eucalyptus mengandung senyawa aktif, di antaranya 1,8-cineole yang mampu menghadang protein inti virus. Ini membuat replikasi virus terhambat. Beberapa penelitian ilmiah yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) : pertama, penelitian eksplorasi senyawa aktif pada beberapa tanaman potensial; eucalyptus, sereh wangi, jeruk, manggis, jahe, dan teh. Balitbangtan melakukan pengembangan teknologi ekstraksi dan distilasi senyawa aktif termasuk 1,8-cineole. Kedua, pengujian invitro kemampuan senyawa aktif antivirus menggunakan ikatan molekuler, menggunakan laboratorium bersertifi kat Biosavety level 3 (BSL3). Eucalyptol diujikan terhadap beberapa tipe virus korona seperti Avian Infl uenza/H5N1, Beta, dan Gamma Corona. SARS-CoV-2 adalah virus beta corona. Hasilnya, Eucalyptol bisa membunuh virus 80% sampai 100%. Eucalyptol berinteraksi dengan reseptor ion yang dimiliki sel-sel saluran pernapasan. Ketiga, pengembangan produk berbasis eucalyptus berteknologi nano. Ini menghasilkan varian produk; inhaler, roll on, balsem, aroma terapi, dan kalung eucalyptus. Eucalyptus belum bisa disebut obat, juga bukan vaksin. Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) mengategorikannya sebagai jamu. Ia digunakan sebagai pencegahan covid-19 dan mengurangi gejala-gejalanya. Agar eucalyptus bisa sebagai obat covid-19, perlu beberapa tahapan pengujian; uji praklinis, uji klinis. Untuk itu perlu melibatkan pakar medis yang kompeten. Dalam mengembangkan eucalyptus, Balitbangtan bekerja sama dengan Rusia (Aptar Pharma) dan Jepang (Kobayashi). Apa itu ilmiah? Riwayat singkat scientific (ilmiah) dimulai sejak terjadi pertentangan antara agamawan (gereja Katolik Roma) dengan para ilmuwan. Pihak agamawan menyebut bahwa matahari mengelilingi bumi (geosentris). Melalui fakta empiris dan perhitungan matematis, ilmuwan membuktikan bahwa mataharilah pusat tata surya (heliocentric). Pertentangan dimulai sejak Nicolaus Copernicus, Johannes Kepler, dipopulerkan Galileo Galilei. Sayang, Galileo Galilei menerima hukuman berat dari agamawan. Setelah itu ahli hukum dan filsuf Inggris Francis Bacon mencarikan solusi. Agamawan mengurusi agama, ilmuwan bekerja sesuai fakta empiris. Sejak itu, Katolik Roma memiliki jalan terpisah dengan ilmu. Fakta empiris sesuai Bacon dibuatkan satu set metode oleh; filusuf, ahli matematik dan ahli fisika Sir Isac Newton. Dia dikenal dengan nama scientific method (metode ilmiah/sains). Segala macam pengetahuan, fisika dan non fisika termasuk ilmu kedokteran dan obat-obatan harus menggunakan metode itu agar bisa disebut ilmiah. Metode sains menjadi standar ilmiah sejak abad 17. Menjelang abad ke-20, Einstein mengemukakan teori relativitas. Ia menemukan rumus E=mC2, tidak menggunakan uji laboratorium sebagaimana salah satu syarat metode ilmiah. Tetapi, rumus Einstein hebat berkat uji coba Oppenheimer, ahli fisika AS yang berhasil mengembangkan bom atom. Itu diujicobakan di Nagasaki dan Hiroshima Jepang pada perang dunia ke-2. Oppenheimer menggunakan rumus Einstein. Sampai sekarang formula Einstein menjadi rumus yang tak tertandingi. Penemuan materi dasar virus ribonucleic acid (RNA) merupakan salah satu contoh aplikasi rumus Einstein. Eucalyptus dan remdesivir Perlakuan ilmiah eucalyptus dan remdesivir serupa. Bedanya, remdesivir dilakukan ilmuwan AS sedangkan eucalyptus oleh ilmuwan Indonesia. Kemudian, alasan ilmiah bukan satu-satunya jalan untuk memastikan hasil temuan bisa diaplikasikan dengan baik, remdesivir tidak mampu membuktikan itu. Selanjutnya, meskipun tidak melalui metode ilmiah (hanya hasil perhitungan), rumus Einstein menempati urutan teratas ilmu sampai detik ini. Belajar dari keraguan ilmiah soal eucalyptus ini, semoga kita berkenan menghormati ilmuwan Indonesia sambil bersabar menahan tuduhan bukan ilmiah padahal sudah dilakukan sesuai metode sains!

@drr