Kategori
Artikel

Empat ARSIP NASIONAL telah didaftarkan ke UNESCO sebagai Memory of the World atau INGATAN KOLEKTIF DUNIA.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta-  Empat ARSIP NASIONAL telah didaftarkan ke UNESCO sebagai
Memory of the World
atau INGATAN KOLEKTIF DUNIA.

“Keempat arsip tersebut telah didaftarkan pada 2016 lalu dan hasil sidangnya akan diumumkan pada akhir Oktober 2017,”.

Keempat arsip itu antara lain
arsip pemugaran Candi Borobudur,
arsip Cerita Panji,
arsip Gerakan Non-Blok, dan
arsip Tsunami.

Arsip pemugaran Borobudur periode 1973-1983 diajukan sendiri oleh Indonesia.

Arsip ini dianggap penting karena pada pemugaran kedua tersebut melibatkan banyak pihak dan Indonesia memiliki dokumentasi lengkap pada pemugaran tersebut.

Dengan disahkannya arsip tersebut sebagai Ingatan Kolektif Dunia, maka akan memperkuat status Borobudur sebagai Warisan Benda Dunia.

Arsip kedua yang didaftarkan adalah arsip Gerakan Non-Blok,
Dokumen ini dirasa memiliki nilai universal.
Dan saat itu dunia terpecah menjadi dua bagian, 10 negara termasuk Indonesia ikut menyelenggarakan KTT Non-Blok.

Indonesia dengan beberapa negara seperti Kuba, Zambia dan Aljazair mendaftarkan arsip Gerakan Non-Blok tersebut sebagai Ingatan Kolektif Dunia.

Kemudian arsip peristiwa gempa bumi dan Tsunami di Aceh pada 2004, musibah tersebut menjadi salah satu gempa bumi terbesar dengan 9,1 hingga 9,3 skala Richter.

Saat itu bumi bergoncang selama delapan hingga sepuluh menit dan menjadikan peristiwa tersebut sebagai gempa bumi terlama.
Indonesia menjadi negara paling terdampak dari bencana alam tersebut.

“Dokumen ini penting untuk menjadi Ingatan Kolektif Dunia, sehingga dapat menjadi pengingat manusia tentang dahsyatnya gempa saat itu.
Indonesia mengajukan arsip itu bersama negara yang juga terkena dampak bencana seperti Thailand, India dan Srilanka,”.

Arsip terakhir yang didaftarkan adalah 76 naskah Cerita Panji.
Cerita Panji adalah cerita tentang Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji dari abad ke-13 dari Jawa Timur.

Menariknya cerita tersebut pun menyebar ke beberapa daerah di Nusantara hingga ke mancanegara dengan versi dan nama yang berbeda.

Mendaftarkan arsip tersebut sebagai
Memory of the World
Adalah upaya menjaga arsip tersebut agar tidak punah.

(Rn)