Dunia semakin dinamis. Manusia kini dapat bergerak dengan cepat dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –Dunia semakin dinamis. Manusia kini dapat bergerak dengan cepat dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Kondisi tersebut sejatinya tercipta karena gagasan manusia itu sendiri.
Manusia menciptakan infrastruktur untuk menghubungkan tempat-tempat satu sama lain.
Tambahan pula, perkembangan teknologi dan informasi kian canggih.
Antarorang dapat berkomunikasi dengan waktu sekejap mata meskipun jaraknya berjauhan.

Konektivitas terbangun.
Sejenak, kita bayangkan sedang memakai pandangan mata (perspektif) elang.
Di bawah sana akan terlihat jelas, betapa sibuknya manusia beraktivitas.
Jika diibaratkan dengan gulungan benang, mungkin bentuknya tampak acak, tak beraturan.

Mengamankan Tempat Bagi Manusia

Saat ini, pandemi Covid-19 seakan-akan menekan tombol pause (jeda) pada kehidupan manusia. Jeda karena terpaksa. Terhimpit oleh keadaan.
Sebab, jika tetap menjalankan aktivitas, itu berpotensi menimbulkan risiko besar. Orang-orang akan jatuh sakit atau bahkan meninggal dunia.
Padahal, kecepatan aktivitas manusia sulit untuk dibendung.

Saya melihat adanya ketimpangan.
Di satu sisi, manusia kini sudah amat maju (advanced) merancang dan mengeksekusi tentang banyak hal: bagaimana menciptakan konektivitas, kemudahan dalam berpindah, serta kecepatan berkomunikasi. Namun, di sisi lain kita luput memikirkan tempat (place) yang di dalamnya manusia menjalani kehidupan.

Mahyar Arefi dalam artikelnya pada Journal of Urban Design (2007), “Non-place and Placelessness as Narratives of Loss: Rethinking the Notion of Place” mengatakan, saat ini globalisasi dan modernitas memengaruhi perubahan dalam memahami tempat.

Para pelaku perencanaan (urban planning) seakan kehilangan narasi utama tentang tempat dan keberbedaan. Mereka seperti menyeragamkan antara kebutuhan manusia dan tempatnya. Orientasinya semata-mata pertumbuhan di masa depan. Alhasil, mereka mengutamakan pemenuhan kebutuhan akan jumlah koneksi dan aksesibilitas.

Padahal, orientasi ini berdampak pada hilangnya “rasa konsekuensi” antarelemen masyarakat dan antara masyarakat dengan tempat itu sendiri.

Ventakesh SA dalam artikelnya, “The Social Organization of Street Gang Activity in An Urban Ghetto” (1997) mengatakan, kualitas formal lingkungan berdampak kuat pada pembentukan perilaku individu di dalamnya. Dengan perkataan lain, tempat mampu mempengaruhi ikatan masyarakat.

Teori-teori tersebut tepat direnungkan kala pandemi Covid-19 ini. Sebab, orang-orang perlu diingatkan kembali agar tak selalu sibuk mengejar berbagai macam potensi kuantitatif di masa depan dengan berbagai fasilitas koneksi dan aksesibilitas, padahal mereka lupa memikirkan internalnya, yaitu tempat (place).

Tempat adalah lokasi di mana ia hidup, tinggal, dan berlindung. Kini, pandemiCovid-19 membuat orang-orang (seperti) tanpa persiapan ketika masuk ke dalam tempat terkecilnya, yaitu rumah, demi melindungi dirinya dari sebaran penyakit.

Gotong Royong dan Kebencanaan
Makna tempat sebagai suatu konstruksi sosial dapat dibentuk dalam berbagai tingkatan. Mulai dari lokal, regional, hingga nasional. Massey dan Allen dalam artikelnya, “Geography Matters! A Reader” (1982) mengatakan, tidak ada penafsiran yang pasti mengenai makna dari tempat. Sebab, tolok ukurnya bergantung pada kehidupan individu di wilayah tersebut. Tentunya, tiap orang memiliki rasa keterkaitan emosional, budaya, dan/atau historis tertentu yang terwujud dalam identitas lokal, regional, atau nasional.

Dengan perkataan lain, perilaku individu saat ini dapat terbentuk dengan tetap mempertahankan nilai-nilai yang telah hidup lebih dahulu. PandemiCovid-19 hendaknya membuat masyarakat Indonesia menata kembali pemaknaan tentang tempat.

Ada dua hal yang menurut saya penting: sifat gotong royong dan kebencanaan.

Masyarakat Indonesia dikenal dengan karakter gotong-royong. Presiden Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 mendefinisikan gotong-royong sebagai “pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoeangan bantu-binantu bersama.” Sukarno memahamio gotong-royong sebagai “amal semua buat kepentingan semua” sehingga tercapailah “kebahagiaan semua.”

Karakteristik gotong-royong ini perlu dijaga agar terus hidup. Sebab, inilah akar sifat asli rakyat Indonesia. Sense of place demikian perlu dibangkitkan saat ini di tengah masyarakat.

Sebagai contoh, penduduk desa umumnya masih menjaga tradisi pendirian pos keamanan lingkungan (poskamling). Efeknya, tiap anggota masyarakat desa terpanggil untuk berjaga di poskamling secara bergantian. Mereka yang kebetulan sedang di luar jadwal jaga dapat menyumbangkan sajian–semisal makanan kecil atau kopi–untuk mereka yang sedang bertugas. Inilah bentuk gotong-royong.

Tempat di kota pun perlu dirancang agar gotong-royong bisa terpacu. Barangkali, pos rukun warga (RW) dapat dijadikan sebagai command centre(pusat komando) dilingkup terkecil masyarakat perkotaan. Hanya saja, tak sedikit lingkungan yang menjadikan rumah bapak kepala RW sebagai pusat komando tersebut.

Dalam situasi kini, perlu dipikirkan alternatifnya.
Bayangkan, jika dalam kondisi pandemi Covid-19 ini ada warga yang sakit dalam permukiman tersebut. Tidak mungkin rumah ketua RW yang bersangkutan dapat difungsikan. Sebab, memang ada privacy keluarga yang perlu dijaga dan dilindungi.

Keterikatan di tengah masyarakat kota dapat rendah bila tiap warga memikirkan diri sendiri hanya lantaran keadaan mereka berkecukupan. Soal keamanan, mereka lebih memilih menyerahkan sepenuhnya kepada petugas keamanan yang digaji dengan iuran warga.

Padahal, sekali lagi, karakteristik dasar bangsa Indonesia adalah gemar tolong-menolong dan bergotong-royong. Sifat ini perlu dijaga pula oleh masyarakat perkotaan. Persoalannya hanyalah pada bagaimana suatu tempat didesain sedemikian rupa sehingga nilai-nilai tersebut tetap hidup.Dengan hanya contoh dua bangunan saja, yaitu poskamling dan pos RW diharapkan dapat memberikan trigger untuk menghidupkan aktivitas gotong-royong di tengah masyarakat Indonesia.

Sadar bencana

Bencana biasanya sulit dihindari, tetapi sesungguhnya sangat bisa untuk dimitigasi. Sejatinya, standard operational procedure (SOP) kebencanaan itu sama, baik bencana alam maupun non-alam.

Yang diutamakan selalu adalah keselamatan atau nyawa manusia. Maka, mitigasi akan sangat efektif pada tingkatan di mana manusia itu tinggal, yaitu lingkungannya.

Sudah sejak dahulu kampanye tentang masyarakat sadar bencana telah digaungkan. Apalagi, Indonesia terletak di kawasan yang dilalui Cincin Api Pasifik. Sekitar 90 persen gempa bumi terjadi di Cincin Api. Artinya, kehidupan di wilayah ini secara terus-menerus berada dalam bayang ancaman.

Gagasan masyarakat sadar bencana perlu dijiwai secara utuh.
Tempat perlu didesain sedemikian rupa agar masyarakat sadar terhadap ancaman bencana yang bisa datang kapanpun.

Sebagai contoh, untuk kesiapan dalam menghadapi bencana, tiap lingkungan RW harus memiliki lapangan sebagai titik kumpul evakuasi warga jika terjadi bencana.

Memastikan ketersediaannya lapangan di tiap RW ini sebenarnya juga bisa untuk memenuhi kebutuhan 30 persen ruang terbuka hijau (RTH) yang menjadi amanat Undang-Undang Penataan Ruang. Ini harus dipenuhi tiap pemerintah kota/kabupaten. Dengan ketersediaan ini, masyarakat akan mengetahui, ke mana mereka harus pergi menyelamatkan diri ketika bencana datang.

Memetik hikmah

Pandemi Covid-19 ini menjadi momentum yang sangat berharga bagi kita untuk merancang kehidupan yang lebih baik di masa datang.

Gagasan akan “tempat” perlu ditata, dirancang, dan dieksekusi kembali secara baik agar terjadi keseimbangan dengan konektivitas yang gencar dibangun.

Keniscayaan hilir-mudiknya aktivitas manusia dapat terus berjalan dengan diiringi adanya “tempat” yang aman hadir di tengah kehidupan masyarakat

@drr