Kategori
Artikel

DOKTER di Indonesia berkabung, Kolega mereka berguguran di libas pandemi covid-2019.

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –DOKTER di Indonesia berkabung. Kolega mereka berguguran di libas pandemi covid-2019.

Jumlah dokter yang gugur terkait dengan covid-19 berjumlah 23 orang, atau 5% dari total kematian covid-19 (15/4).
Pandemi covid-19 ialah arena perang bagi tenaga kesehatan. Dalam perang selalu ada yang gugur dan bertahan.
Namun, dalam perang, harus ada persiapan yang matang.
Sayangnya, bagi tenaga kesehat an, terutama di Indonesia, pandemi ini bukan hanya perang terhadap covid-19, melainkan juga perang melawan berbagai keterbatasan.
Nyawa mereka akhirnya jadi taruhan murah.

Faktor berpengaruh

Setidaknya ada lima alasan berkaitan dengan besarnya tingkat kematian dokter di era pandemi ini.
Pertama, tingginya paparan virus. Pandemi ber kaitan dengan penyakit in feksius, yang kebanyakan me miliki load value dan transmission rate yang tinggi.

Secara otomatis, siapa pun yang berada di garda terdepan berisiko besar tertular.
Dokter dan tenaga kesehatan termasuk kelompok ini.
Mereka kontak langsung dan intens dengan pasien, bukan hitungan menit, melainkan bisa hitungan jam atau bahkan hari.
Risiko tertular menjadi sangat tinggi. WHO melaporkan bahwa saat outbreak ebola pada 2013 dan 2016, petugas kesehatan memiliki risiko 32 kali lipat tertular ebola jika dibandingkan dengan masyarakat umum. Bahkan, di Sierra Leone, risiko ini meningkat menjadi 100 kali lipat. Di Spanyol saat ini, tenaga kesehatan yang terinfeksi sebanyak 12 ribu, atau 14% dari kasus covid-19 yang ada. Kedua, karakteristik covid-19 yang multi-facetted. WHO melaporkan bahwa virus korona dapat ditularkan lewat penderita yang bergejala (symp tomatic) maupun tidak bergejala (asymptomatic dan pre-symptomatic). Gejala covid-19 bukan hanya demam, batuk, atau sesak napas. Penderita bisa datang dengan keluhan samar, seperti ke capekan, sakit otot, sakit kepala, pusing, mual, muntah, dan diare. Ketika berhadapan dengan keluhan samar, dokter dan tenaga kesehatan dapat ter kecoh dan menganggap pasien yang dihadapinya ialah pasien biasa. Mereka pun melayani dengan standar biasa, bukan standar pelayanan covid-19. Akhir nya, mereka pun tertular. Kondisi lebih tragis dapat terjadi saat berhadapan dengan penderita tanpa gejala.

Ka rena tanpa gejala, tenaga kesehatan tidak memberikan perhatian khusus terhadap me reka dan akhirnya tertular. Ironisnya, prevalensi penderita tanpa gejala itu cukup tinggi, yaitu 5%-80%. Di Indonesia, dokter yang meninggal kebanyakan bukan dokter ICU, melainkan justru front-line doctor, yaitu dokter yang bertemu pasien lewat klinik umum, rawat jalan, atau konsultasi. Di Italia pun demikian. Sebanyak 40% dari dokter yang meninggal ialah dokter yang memberi layanan umum. Tingginya ke matian dokter front-line itu berkaitan dengan adanya paparan dengan pasien yang tidak bergejala atau bergejala samar.

Ketiga, tidak adekuatnya APD yang digunakan tenaga ke sehatan. APD merupakan tameng vital bagi tenaga kesehatan. WHO dengan tegas merekomendasikan penggunaan kaus tangan, masker respirator, gown, apron, goggle atau face shield yang lengkap dan standar saat berhadapan dengan pasien covid-19. Kenyataannya, rekomendasi itu tidak terpenuhi. Di mana-mana dokter berteriak ke kurangan APD. Pemerintah dan rumah sakit tidak me nye diakan APD yang cukup. Dokter terpaksa mengorbankan keselamatan diri dengan te tap merawat pasien meski menggunakan APD seadanya, termasuk APD berulang, jas hujan, dan helm.

Keempat, masih ada segelintir tenaga kesehatan yang be lum memiliki ke sadaran dan pengetahuan ade kuat menyang kut APD. Mereka mengunderesti mate perlunya APD yang tepat, termasuk standar pemakaian APD (don and doff). Sebuah studi menyimpulkan adanya lima faktor yang menyebabkan tenaga kesehatan terinfeksi oleh covid-19, dan salah satunya ialah lack of awa reness and knowledge. Ka rena faktor itu, tenaga kesehatan menggunakan APD secara tidak tepat dan akhirnya tertular. Kondisi itu diperberat kurang nya pelatihan, supervisi, dan monitoring penggunaan APD.
Mungkin pihak rumah sakit menganggap bahwa sebagai petugas kesehatan, mereka seharusnya sudah paham tentang hal tersebut. Kelima, work overload. Dalam situasi pandemi, masyarakat panik. Mereka memenuhi rumah sakit atau klinik. Terjadi peningkatan mendadak jumlah penderita yang menjalani tes, terkonfi rmasi positif, dan membutuhkan karantina atau perawatan lanjutan. Sementara itu, jumlah tenaga kesehatan tidak bertambah. Mereka pun mengalami overload. Mereka bekerja melebihi waktu yang seharusnya, dengan kondisi seadanya dan APD yang tidak adekuat. Sebagian harus menggunakan disposable diaper untuk menahan kencing. Mereka mengalami burnout dan stres. Sebagian mereka juga menderi ta penyakit kronis dan berusia lanjut. Kondisi ini membuat mereka sangat rentan tertular atau meninggal akibat penyakit ini.

Manajemen risiko

Dokter dan tenaga kesehatan lain seharusnya mendapat dukungan optimal dalam tugas mereka. Mereka berada pada lini terdepan dan berhadapan dengan risiko terbesar. Meminjam prinsip manajemen risiko, opsi dukungan dapat berupa elimination, substitution, engineering control, administrative control, dan APD. Dalam pandemi, tiga opsi terakhir merupakan prioritas. Pemerintah dan rumah sakit dapat melakukan banyak hal.
Engineering control dilakukan dengan membuat barrier fisik atau partisi antara pasien dan dokter, penyediaan masker dan sanitizer yang memadai di rumah sakit, serta pembersihan dan disinfektan teratur ruangan dan alat. Administrative control mesti mendukung dengan memfasilitasi konsultasi lewat telepon pada kasus non-urgent. Selain itu, pengaturan jadwal dokter yang efi sien untuk mengurangi paparan.
Tenaga kesehatan perlu diberi APD standar yang cukup serta dibekali pelatihan penggunaan APD yang tepat. Tenaga kesehatan perlu lebih waspada terhadap setiap pasien yang dihadapi. Setiap pasien harus dipertimbangkan sebagai suspected covid-19 sam pai terbukti bukan.
Banyak room for improvement yang bisa dilakukan.
Masalahnya, apakah semua pihak berkomitmen merealisasikannya atau tidak.
Dalam perang co vid-19, keselamatan tenaga kesehatan perlu benar-benar di perhatikan.
Kalau mereka berguguran, manajemen pandemi covid-19 akan kolaps.

@drr