Dirut Pasar Jaya “Kangkangi” PSBB, Paksa Karyawan Kerja Rodi Episode 2

 

Ketua Serikat Pegawai PD.Pasar Jaya Kasman Panjaitan

 

Busurnews.com, Jakarta¬† — Demi efisiensi dan mengirit anggaran untuk meraih untung besar dalam packging 1,2 juta sembako bantuan sosial (Bansos) Pemda DKI Jakarta, Perumda Pasar Jaya dituding melabrak ketentuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Tudingan itu kian mencuat tatkala petinggi Perumda itu terungkap membuka lowongan bagi pejuang-pejuang ketersediaan bagi masyarakat DKI Jakarta setelah diberlakukan PSBB menyusul Jakarta sebagai zona merah penyebaran virus corona.

“Cuma lowongan itu khusus internal kalangan karyawan Pasar Jaya,” ungkap sumber di kalangan karyawan.

Sebagai bukti, sumber itu menyebut di bagian akhir tertera daftarkan dirimu kepada Manager Unit Kerja masing-masing, paling lambat 29 April 2020

“Yang menjadi aneh, Surat Tugas dari tanggal 10 April s/d 10 Mei 2020 sudah keluar. Jadi apanya yang didaftarkan. Itu bisa-bisanya dari Pimpinan Perumda Pasar Jaya , seolah-olah kemauan karyawan bukan dari pimpinan,” ujarnya membeber kelicikan petingga BUMD tersebut.

“Logikanya kan itu ditujukan kepada karyawan Pasar Jaya. Jika tidak mendaftar, maka dinilai tidak loyal. Tidak taat pada bos,” jelas sumber dengan nada sinis.

Akibatnya, para karyawan pun berlomba-lomba mendaftarkan dirinya sebagai pejuang pangan DKI Jakarta. Jumlahnya mencapai puluhan, mengingat haulnya mempacking 1,2 juta “hajatan” Anies Baswedan.

Ternyata, implementasi “pemanggilan pejuang pangan” DKI itu, sangat amburadul. Bahkan jadi bukti instruksi Gubernur Anies dilanggar saat penerapan PSBB.

Kasman Panjaitan, Ketua Serikat Pegawai Pasar Jaya, angkat bicara soal “borok-borok” suasana packing sembako di Jakgrosir Pasar Induk dan Gudang PT JIEP di kawasan Pulogadung.

“Kami minta agar mentaati protokol covod 19, tapi ternyata tidak diindahkan,” tulisnya dalam WA tersebut.

Saat di lapangan, dalam kaca mata Kasman, tidak ada jarak antar orang (social distance) dalam bekerja. Mereka berkumpul dan berdekatan.

“Karyawan tidak diberikan sarung tangan, masker dan vitamin,” ungkap Kasman.

Bahkan, ada karyawan yang jatuh sakit akibat lelelahan bekerja dari malam hingga pagi hari, tanpa diberikan vitamin meningkatkan imun tubuh.

“Kami sangat menyesalkan kebijakan manajemen yang tidak mengindahkan protokol covid 19,” jelasnya.

Eh sudah begitu, sumber lain menyebutkan, pengerjaan itu tidak dibekali honor yang memadai. Tidak ada lembur layaknya karyawan. “Mungkin, karena gawenya Pasar Jaya, maka tidak ada, kecuali ucapan terima kasih,” jelas sumber yang tidak mau disebutkan jati dirinya.

Padahal, menurut dia, saat PHK marak di tengah PSBB, seyogianya pejuang pangan itu bisa direkrut di luar Pasar Jaya. Misalnya kalangan ojol, buruh harian, kuli panggul dan sebagainya. Di pasar jaya sendiri, karena banyak pasar yang tutup banyak penganggur misalnya pelayan toko dan jukir.

“Mereka yang layak membutuhkan ketimbang kami,” tandasnya, menyebut karena dari kalangan Pasar Jaya, akibatnya diperlakukan “semau gue” sehingga melabrak ketentuan PSBB.

Akibat “semau gue”, Kasman bersama kalangan media akan bekerjasama memperjuangkan hak-hak karyawan yang diabaikan Dirut Perumda Pasar Jaya, Arief Nasrudin.

“Kami ingin perlakuan yang adil terhadap sesama karyawan,” tegas Kasman.

Menurut dia, dalam satu dua hari, Serikat Pegawai akan melayangkan surat resmi ke Dirut perihal pengepakan tahap satu Bansos.

“Kami menuntut agar dilakukan rapit test kepada seluruh karyawan Pasar Jaya. Tembusannya ke pihak terkait seperti Menteri Tenaga Kerja, Menteri Kesehatab, Ombudsman, Ketua DPRD, Disnaker dan sebagainya,” tuturnya penuh emosional.

Binsar Siagian, Ketua Presedium Kesatuan Buruh Marheins (KBM) mendukung upaya-upaya SP Pasar Jaya.

“Arief harus mempertanggungjawabkan terhadap pelanggaran PSBB saat packing Sembako,” tegasnya. Bahkan bukan sanksi administrasi, juga harus dicopot dari Dirut dan denda sesuai aturan PSBB.

“Kita tidak boleh punya Dirut BUMD yang ABS kepada bosnya, mengorbankan karyawan,” jelas Binsar yang dikenal sebagai aktivis pers. Sementara itu Arief Nasrudin saat dikonfirmasi tidak memberikan klarifikasi, demikian halnya Humas Pasar Jaya Amanda, berkali kali dihubungi, ponselnya tak diangkat. (Rel/. )