Kategori
opini publik

Demokrasi, Salah Satu Produk Kebudayaan Yang Manusia Ciptakan

Opini Publik

 

Oleh :Dr. Dhedi Rochaedi Razak, S.HI, M.Si

 

Busur News Com,Jakarta –DEMOKRASI adalah salah satu produk kebudayaan yang kita manusia menciptakannya.
Kebetulan saja, produk yang satu ini memang mengundang kegaduhan, memancing emosi dengan cara luar biasa, membutuhkan ongkos yang sangat-sangat besar, dan pada akhirnya juga merangsang manusia bukan hanya mengerahkan kemampuan terbaiknya, melainkan juga mengerahkan nafsu buruk hingga syahwat terkotornya.

Hasilnya?
Banyak pihak sangat optimistis akan kebaikan-kebaikan yang didapat darinya.
Tapi sejarah juga membuktikan, bagaimana kedegilan dan kebusukan juga merajalela di dalamnya, termasuk pemimpin yang dilahirkannya, mulai Adolf Hitler di masa lalu Jerman, hingga Donald Trump di negeri yang konon terbesar dalam praktik demokrasinya, Amerika Serikat. –
Apakah demokrasi yang sudah
–telanjur–
kita sepakati penerapannya itu memberi dampak penuh kebaikan di negeri ini?
Atau boleh jadi justru implikasi negatif-destruktif bukan hanya di tingkat suprastruktur, melainkan juga hingga relasi sosial dan kualitas kultural yang terjadi?

Biarlah sejarah atau setidaknya Anda masing-masing menilainya.
Apa yang jelas harus kita pahami, pilkada, sebagai praksis demokrasi, sebagaimana produk kebudayaan lainnya adalah hasil kerja terintegrasi antara tiga dimensi ilahiah manusia:

Akal,
Jiwa (mental), dan
Badan (jasmani).

Jika tiga dimensi itu dapat bekerja (sama) dengan sehat dan teringtegrasi, produk (kebudayaan)-nya pun akan baik dan luhur.
Sebaliknya, jika salah satu saja dari tiga dimensi ilahiah itu tidak sehat operasionalnya sehingga menciptakan ketidakseimbangan dalam kerja samanya dengan dimensi-dimensi yang lain, dapat dipastikan produknya pun akan menyimpang, negatif, bahkan destruktif. –
Bila konstatasi terakhir yang justru Anda rasakan, sebagaimana banyak pihak mengutarakan, bahkan hingga kalangan penguasa tak kuasa menahan rasa khawatir dan cemasnya, tentu ada yang salah dalam proses itu.

Dalam cara berpikir kebudayaan kita di atas, mestinya ada salah satu dimensi kemanusiaan kita (yang ilahiah) itu yang tidak bekerja dengan baik atau sehat.
Barangkali ia alpa, tergelapkan, atau sakit alias tidak sehat, sehingga mengakibatkan kerja dimensi lainnya terganggu, juga kesehatannya.

Bisa Anda bayangkan, bila akal misalnya, yang kita gunakan saat ini dalam turut campur di keriuhan pilkada tidak sehat, tidak peduli dengan logika kebenaran atau mempersetankan nalar yang menjunjung kemuliaan bersama, tidakkah jiwa atau mentalitas kita pun terpengaruh, menjadi sakit?

*Bukankah tubuh kita lalu merespons dengan sikap dan tindakan yang–katakanlah–negatif, provokatif, alias penginnya berantem aja*? –
Periksalah dengan baik, jiwa dan akal kita dengan khusyuk, penuh ikhlas, apakah sudah baik dan benarkah cara berpikir serta keyakinan hati kita melulu untuk menciptakan kemaslahatan bersama, bukan kepentingan sempit diri atau golongan sendiri.

Karena itu, tegaklah tubuhmu, yang diluruskan oleh akal sehat dan jiwa bersihmu menuju tempat pemungutan suara maka semua akan berlangsung baik, penuh rasa persaudaraan, padat dengan kebaikan dan tujuan mulia.

Sementara itu, keangkaraan, kecurigaan, fitnah keji, dan prasangka negatif
–yang mungkin selama ini sempat menghuni dimensi kemanusiaan kita–
akan jauh tersingkir, bahkan binasa.

Lalu kita pun tahu, bukan hanya anak cucu menunggu dengan senyum bahagia serta bahagia, melainkan juga Dia yang di atas akan, insya Allah, memberi rida dan berkah-Nya.

 

(Riena)