Kategori
Artikel

Dampak buruk covid- 19 di ranah keagamaan lebih berbahaya jika dibandingkan dengan sisi ekonomi ataupun kesehatan.

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, nanggroe ACEH darussalam –Dampak buruk covid- 19 di ranah keagamaan lebih berbahaya jika dibandingkan dengan sisi ekonomi ataupun kesehatan.

Hal itu mengingat terkait dengan keyakinan masyarakat yang senantiasa dipegang teguh, yaitu keselamatan di akhirat dengan menjalankan seluruh perintah agama sekaligus menjauhi hal yang dilarang agama.
Sementara itu, upaya penyelamatan masyarakat dari virus ini membutuhkan pembatasan sosial atau bahkan karantina wilayah agar virus ini tidak terus menyebar dari satu orang ke orang yang lain.
Inilah kemudian yang membuat covid-19 berdampak terhadap lini sosial keagamaan masyarakat mengingat sebagian dari ritual keagamaan yang ada dilakukan secara berjemaah, seperti salat wajib yang dilakukan secara berjemaah, salat Jumat, umrah-haji, dan ibadah-ibadah lain yang melibatkan banyak orang.

Di sini harus ditegaskan, dalam upaya membatasi penyebaran covid-19, yang menjadi masalah bukan salat jemaah atau salat Jumatnya, bukan juga umrah-hajinya.
Hal yang menjadi masalah terkait dengan upaya membatasi penyebaran covid-19 ialah perkumpulan ataupun pertemuan secara fisik yang melibatkan banyak orang karena penyebaran virus ini banyak terjadi melalui perjumpaan secara fisik.

Kemaslahatan
Tentu ini bukan hal mudah, khususnya bagi masyarakat Indonesia yang dikenal sangat religius.
Harus ada penjelasan keagamaan yang sangat kuat dan cukup jelas kepada masyarakat, khususnya dari para tokoh agama di semua lapisan, hingga masyarakat bisa memahami pentingnya melakukan ‘ibadah di dalam rumah’ sebagai upaya menyelamatkan diri juga orang lain dari covid-19 dan mendapatkan takdir yang lebih baik.

Dalam Islam, panduan hukum bersifat teknis pada ibadah ataupun aktivitas sosial secara umum (muamalah) dikenal dengan istilah fikih.
Pandangan-pandangan fikih biasanya digali dari sumber-sumber utama dalam Islam, dari Alquran dan sunah Nabi Muhammad SAW sebagai kitab suci, hingga pandanganpandangan ulama terdahulu.
Sampai pandangan yang dimuat dalam fikih tidak diragukan kesahihan dalilnya, tapi juga tak kehilangan fleksibilitas dan kesesuaiannya dengan konteks kemaslahatan yang ada.

Dalam salah satu hadis, Nabi Muhammad SAW menegaskan permudahlah dan jangan kalian mempersulit (yassiru wala tu’assiru).

Dalam salah satu ayat, Alquran menegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang (untuk melakukan sesuatu), kecuali sesuai dengan kadar kemampuannya
(Qs Al Baqarah: 286).

Dalam ayat yang lain ditegaskan, Allah meng hendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu
(Qs Al Baqarah:185).

Masih ada beberapa norma lain yang sejalan dengan ini.
Berdasarkan ayat dan hadis seperti di atas, para ahli hukum Islam sampai pada kesimpulan bahwa kelenturan dan kemudahan ialah prinsip mendasar dalam Islam, khususnya terkait dengan ibadah.

Dengan kata lain, ketentuan hukum yang ada dalam Islam tak lain untuk memudahkan umat manusia, bukan justru mempersulit mereka.
Bahkan, dalam riwayat yang lain, di nyatakan bahwa Nabi senantiasa memilih hukum (ibadah) yang lebih mudah (selama tidak menjadi haram) daripada hukum (ibadah) yang lebih sulit (selama tidak menjadi wajib).
Semua ketentuan (hukum) dalam Islam untuk kebaikan (al-maslahah) manusia sekaligus menghindarkan mereka dari keburukan (al-mafsadah).

Dengan kata lain, hukum dalam Islam tak lain untuk melindungi manusia sebagai makhluk yang sangat dimuliakan Allah SWT sesuai dengan firman-Nya,
“Walaqad karramna bani adam (sungguh telah kami muliakan anak-anak Adam)”.

Hal yang menarik ialah upaya menghindari keburukan (al-mafasid) harus dikedepankan jika dibandingkan dengan hasrat melipatgandakan kebaikan (al-mashalih).

Minimal inilah kandungan dari kaidah fikih yang berbunyi,
dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih
(menghindari keburukan didahulukan daripada upaya melipatgandakan kebaikan) dan masih banyak lagi kaidah lain yang sejalan dengan prinsip ‘mengutamakan pencegahan keburukan’ daripada ‘upaya melipatgandakan kebaikan’.

Sejalan dengan kaidah ini, sejatinya umat Islam tanpa ragu mengedepankan ibadah di rumah dengan tujuan menyelamatkan manusia dari penyebaran virus daripada memaksakan diri beribadah berjemaah di masjid atau musala dengan tujuan melipatgandakan kebaikan, yaitu pahala ataupun syiar agama.

Upaya penguatan diri
Di luar yang telah disampaikan, ada kondisi darurat yang selalu menjadi perhatian dalam hukum Islam.
Karena kondisi darurat, hal-hal yang awalnya terlarang bisa dibolehkan, asalkan sesuai dengan kadar kebutuhan dan kedaruratannya.

Ad-dharuratu tubihu al-mahdhurat (kondisi darurat bisa membolehkan yang terlarang sekalipun), demikian salah satu bunyi kaidah fikih yang sangat terkenal dalam kajian keislaman.
Di dalam rumah, ibadah tetap bisa dilakukan, termasuk ibadah berjemaah.
Bahkan, ibadah di dalam rumah bisa dimaknai sebagai upaya penguatan diri dan keluarga selaku salah satu dari tiga pilar perjuangan, yaitu pribadi, keluarga, dan masyarakat.

Sebelum menyeru kembali kepada masyarakat, marilah selamatkan diri dan keluarga terlebih dahulu dari covid-19.

Marilah selamatkan diri serta keluarga dari api neraka,
‘qu anfusakum wa ahlikum nara.

Wallahualam bissawab.

@drr