Kategori
Artikel

Dalam pergelaran wayang, melalui peran PUNAKAWAN sebagai penasihat dan pamong pembisik

 

Oleh:Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta – Dalam pergelaran wayang, melalui peran PUNAKAWAN sebagai penasihat dan pamong pembisik makna sejati kehidupan dan kebajikan pada manusia, dapat diciptakan suasana dialogis yang humoris, penuh canda dan juga menghibur.

 

Dialog PUNAKAWAN dengan para kesatrianya juga bisa digunakan sebagai ventilasi untuk mengurangi kepengapan ruang publik dan atau gap komunikasi antara penguasa dan rakyat.

Pada dunia pewayangan,
Dikenal dua kelompok kesatria yang berhadapan, yaitu
PANDAWA yang bercirikan tabiat manusia baik dengan punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, serta

KURAWA yang bercirikan tabiat manusia buruk dengan punakawan Togog dan Bilung.

Bila peran Semar banyak disampaikan dengan wejangan tentang kebajikan, tugas Togog lebih berat karena wejangan tentang kebajikan sulit untuk diterima para kesatria asuhannya, apalagi untuk dilaksanakannya.

 

Sampai-sampai Togog mulutnya bertambah ‘ndower’.

Namun, akhirnya Togog menemukan cara dengan ‘njlontroke’
(Jawa; sekalian mendorong ambisi dan keserakahan)
para kesatrianya.

 

Dari penggalan pergelaran,
Dikisahkan ada kesatria Kurawa yang satu tangannya putus dalam peperangan.

Togog bukan memberi solusi apalagi menghiburnya, melainkan justru mengusik harga diri sang kesatria karena masih ada satu tangan lagi, semestinya sebagai kesatria pantang menyerah.
Bius harga diri membuat sang kesatria tersebut serta-merta kembali maju perang lagi.

Begitu seterusnya, sampai akhirnya kesatria tersebut kehilangan kedua tangan dan kakinya.

Di ujung pentas,
Sang kesatria tersebut terus saja ‘ndremimil’ tentang kebanggaan, harga diri, dan kejayaan masa lalu.

Seperti pada umumnya orang ndremimil, ia pun tidak mengerti apa yang diucapkannya, bahkan ia tidak sadar bahwa perang Baratayuda sudah lama usai.

 

HUMOR POLITIK

UMUMNYA BUDAYAWAN BERPENDAPAT
KEKUASAAN TANPA DUKUNGAN RAKYAT ADALAH BERBAHAYA,

TAPI YANG LEBIH BERBAHAYA LAGI KETIKA KEKUASAAN TANPA HUMOR YANG DI DALAMNYA MENGANDUNG SUASANA DIALOGIS.

 

Seperti yang dulu dilakukan Gus Dur, walaupun beda dalam cara menampilkannya, Presiden Jokowi juga menggelar humor politik.

Bila Gus Dur menampilkan humor politik dengan lisan, Presiden Jokowi dengan perbuatan yang ‘aneh’ dan ‘tidak biasa’.

Fakta membuktikan humor politik yang disampaikan lisan model Gus Dur ternyata bagai membangunkan sekelompok macan tidur.

Mereka yang di masa lalu bermasalah kemudian bergabung dengan kelompok yang haus kekuasaan, serentak bergerak bersama ‘mengepung’ Gus Dur, dan jatuhlah Gus Dur dari kekuasaannya.

 

Sebaliknya,
Dengan humor politik model Presiden Jokowi, lawan politik dan mereka yang di masa lalu bermasalah kehilangan momentum karena mati langkah.

Bahkan sebaliknya,
Mereka malah menganggap penampilan tersebut sebagai perbuatan konyol.

Sambil minum ‘wine’ dan mengisap cerutu, mereka terbahak-bahak menertawakannya.
Padahal, di balik sikap yang dianggap konyol itulah, tergelar ruang dialog bagi sesama komponen anak bangsa.

 

Sejumlah humor politik yang mengundang kontroversi misalnya ‘body language’ terkait dengan
pernyataan bahwa dirinya adalah petugas partai malah menuangkan minuman,

kasus tanda tangan tanpa membaca ketimbang bilang ‘ada tekanan’,

kuis berhadiah sepeda, dan

joget bersama Ibu Negara membaur dengan peserta Pelatihan Guru PAUD se-Jakarta, dan lain-lainnya.

(Rn)