Dalam mengarungi masa depan, sikap terbaik , mempertahankan warisan masa lalu yang baik

 

Oleh: Dhedi  Razak

Busurnews.com , JAKARTA —Dalam mengarungi masa depan, sikap terbaik ialah ‘mempertahankan warisan masa lalu yang baik, seraya mengambil hal-hal baru yang lebih baik’.

Untuk itu, kita harus bisa mengambil pelajaran dari masa lalu dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama agar bisa mengembangkan kehidupan yang lebih baik.

Belajar dari pandemi
Nyaris sepanjang tahun 2020, kehidupan manusia di seantero dunia dirundung wabah covid-19. Wabah ini mendisrupsi rutinitas dan menelanjangi kesejatian ketahanan nasional yang sesungguhnya. Seolah-olah kebenaran dan kesejatian itu seperti bintang yang tak bisa dilihat, kecuali di gelap malam.
Dalam terang kehidupan normal, manusia sulit mengenali kebenaran hakiki. Kesejatian tersamar ornamen pernak-pernik penampilan. Saat zaman kelam datang, barulah kita kenali mana yang benar sejati, mana yang palsu manipulasi.
Bila kita kurang yakin watak asli seseorang, atau suatu bangsa, tunggulah hingga gelap menyergap: di sana bisa kita kenali watak sesungguhnya. Salah satu pelajaran penting yang bisa dipetik dari musibah pandemi ialah signifikansi identitas nasional sebagai daya tahan negara-bangsa dalam menghadapi wabah dan krisis ikutannya.

Bahwa negara-negara dengan (persamaan) identitas nasional yang kuat, seperti Jepang, Korea, Tiongkok, Taiwan, Vietnam, Jerman, dan Selandia Baru menunjukkan efektivitas yang lebih ampuh dalam menghadapi ujian tersebut. Para psikolog telah lama menengarai bahwa salah satu faktor yang sangat penting dalam menghadapi krisis adalah ego strength (kekuatan jati diri), yang meliputi kepercayaan dan kebanggaan diri, memiliki kesadaran akan tujuan, bisa mengendalikan diri, dan mengekspresikan diri secara bebas.

Tetap fokus di bawah tekanan, bisa mempersepsi realitas secara akurat, dan, mampu mengambil keputusan secara tepat.
Sebuah bangsa sebagai entitas kolektif juga memiliki semacam kediriannya tersendiri.

Ego strength dalam konteks kedirian kolektif bernama identitas nasional, yang bisa terbangun karena kebertautan kesadaran kesejarahan, kebersamaan nilai, dan simbol serta kebanggaan bersama sebagai bangsa (Diamond, 2019).
Dengan identitas nasional yang kuat, Jerman dan Jepang telah berkali-kali terbukti mampu bangkit dari kejatuhan dan aneka krisis. Dengan identitas nasional yang tercabik, negara adidaya seperti Amerika Serikat pun tampak begitu terhuyung.

Bagi bangsa Indonesia sendiri, pandemi ini memperlihatkan taraf identitas nasional kita yang sesungguhnya. Saat korona menyergap, warga Tiongkok merapatkan barisan dengan saling menyemangati, “Wuhan, kamu pasti bisa!” Artis-artis Korea Selatan rela menyumbangkan sebagian kekayaannya. Warga Italia serempak mengibarkan bendera dari jendela rumahnya. Sebaliknya, di negeri ini, gairah saling menegasikan dan saling menyalahkan tak juga padam, saat kebersamaan dalam menghadapi ancaman diperlukan.

Ledakan permintaan akan barang-barang pencekal virus melambungkan hasrat menimbun, dan memperkaya diri. Para pemimpin saling serobot mencari panggung dengan pandangan saling berseberangan. Beruntung sisi terang masih muncul, dari kepahlawanan lembaga filantropi, tenaga medis, ormas keagamaan, serta inisiatif-inisiatif perorangan, dan komunitas atas aksi-aksi kegotong-royongan, bantuan, dan pelayanan. Jalan panjang proses menjadi negara-bangsa Indonesia harus kita pahami, dan hayati secara mendalam, manakala Indonesia hari ini menunjukkan tanda menghadapi ancaman disrupsi kebangsaan.

Meski konektivitas fisik mengalami kemajuan, dengan pembangunan infrastruktur perhubungan dan penggunaan sosial media yang sangat intens, konektivitas mental-kejiwaan mengalami kemunduran. Dunia persekolahan dan media, yang dulu menjadi jendela keterbukaan bagi pergaulan lintas-kultural, dan pertukaran pikiran, saat ini, mengalami gejala pengerdilan.

Pelemahan minat baca dan erudisi menyempitkan daya jelajah pemahaman, yang menumpulkan sikap empati terhadap yang berbeda. Gejala eksklusivitas meluas, dengan tumbuhnya pusat-pusat pemukiman, sekolah dan dunia kerja dengan segregasi sosial yang curam. Komunitas moral bersama, mengalami retakan karena memudarnya komitmen untuk menetapkan, dan memelihara moral publik.
Basis moral organisasi-organisasi sosial-politik tidak begitu jelas.

Dari keseluruhan nilai Pancasila, hanya nilai kebebasan dari sila kedua yang dirayakan. Itu pun masih terbatas pada kebebasan negatif, belum menjelma menjadi kebebasan positif.
Selebihnya, tidak tampak keseriusan memedulikan apa yang mengancam keselamatan bersama. Sulit menemukan basis sosial, yang gigih memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan umum. Terjadi peluluhan loyalitas terhadap institusi-institusi dan tradisi kebangsaan. Penghormatan terhadap otoritas hukum, dan kepemimpinan merosot.

Keluhuran budi untuk merawat hal-hal yang ‘disucikan’ bersama pudar. Narasi publik tidak mendorong konvergensi, malah menyulut divergensi. Polarisasi politik yang kian meruncing mengeraskan perbedaan yang menyulitkan perjumpaan. Perbedaan kerangka dukungan, seperti menjelma dalam poros pendukung petahana versus oposisi, bisa konstruktif sejauh perbedaan itu disikapi dalam spirit ‘yin dan yang’.
Seperti memandang kehadiran malam (gelap) dan siang (terang)–dua hal yang tampak berbeda, tetapi saling melengkapi sebagai bagian dari kesatuan kesempurnaan kehidupan.

Perbedaan bisa destruktif manalaka disikapi dengan spirit ‘Manichaean’, yang memandang pihak lawan dalam kerangka pertempuran antara ‘Ahuramazda’ (kekuatan terang) versus ‘Ahriman’ (kekuatan gelap). Dua kekuatan yang tak bisa didamaikan sehingga persaingan harus diakhiri dengan jalan yang satu mematikan yang lain.
Pergeseran dalam menyikap perbedaan itu merupakan akumulai dari krisis yang berlangsung pada ranah mental-karakter, ranah institusional, dan ranah material. Bahwa perkembangan ketiga ranah itu telah melenceng dari imperatif moral Pancasila. Sejauh ini, rezim pendidikan kurang mampu membudayakan inti moralitas dan karakter bangsa dengan implikasi peluluhan moralitas publik dan karakter kewargaan sebagai basis kebersamaan tekad (shared intentionality), dan solidaritas sosial (social embeddedness).

Rezim politik-kebijakan juga penuh kekisruhan dalam kepasitasnya untuk menetapkan rancang bangun dan tata kelola demokrasi-pemerintahan karena mengabaikan tuntutan persatuan dan keadilan yang diamanatkan nilai-nilai luhur falsafah dan konstitusi negara.

Sementara itu, rezim ekonomi-produksi juga belum mampu memenuhi harapan kemakmuran dan inklusi ekonomi sehingga angka kemiskinan dan ketidakadilan sosial masih tinggi.
Selain itu, pengurasan energi nasional untuk pertengkaran internal, dan kecenderungan mencela bangsa sendiri, biasanya memaguti negara-bangsa yang mengalami defisit kebanggaan nasional.
Diperlukan strategi kebudayaan untuk mengalihkan energi negatif menjadi energi positif dengan mengglobalkan potensi dan talenta negeri ini ke pasar kompetisi internasional. Kompetisi dengan bangsa-bangsa lain bukan saja bisa memacu prestasi, tapi juga bisa mentransformasikan konflik-konflik persaingan internal, menuju kontestasi dengan ‘lawan’ bersama dari luar.

Persepsi tentang kepentingan bersama, juga bisa dihidupkan lewat nasionalisme positif-progresif, dengan membangun agenda kemajuan, keunggulan, dan persemakmuran bersama.

Politik harapan Dengan kelemahan-kelemahan ketahanan nasional kita yang ditelanjangi wabah korona, jalan perbaikan dan penguatan bangsa ke depan memerlukan suatu perubahan sikap kejiwaan.
Bahwa kita memerlukan kepemimpinan krisis yang bisa menunjukkan hal-hal terang dari gelap, bukannya melahirkan hal-hal gelap dari terang. Kepemimpinan yang berani mengambil risiko dengan ketegarannya menghadapi sisi-sisi kelam dari masa lalu.

Saatnya para pemimpin mengurangi berbicara dengan kata-kata dan menggantinya dengan bahasa perbuatan. Keinsyafan untuk mengedepankan perbuatan ini, memerlukan perubahan state of mind. Perubahan pandangan, bahwa dirinya bukanlah pangeran yang harus dilayani rakyat, melainkan abdi yang harus melayani rakyat.

Kepemimpinan transformatif perlu dibekali terang kesadaran bahwa pangkal keburukan kekuasaan bermula ketika orang lebih terobsesi ‘cinta kekuasaan’ (the love of power) ketimbang ‘kekuasaan untuk mencintai’ (the power to love).

Krisis kenegaraan di negeri ini terjadi karena jagat politik, lebih didekap oleh orang-orang yang mencintai kekuasaan ketimbang kekuasaan untuk mencintai.
Di dalam krisis yang membutuhkan kekuasaan yang lebih bertanggung jawab pada kebaikan hidup bersama, para pemimpin justru lebih mencintai kekuasaan yang melayani kepentingannya sendiri. Demi kekuasaan yang melayani diri sendiri itu, elite negeri tega ‘menggelapkan uang’ dari keringat rakyat kecil atau dari mereka yang ditimpa bencana. Bahkan, tak segan menjerumuskan rakyat ke dalam kobaran api permusuhan antaridentitas, yang membakar rumah kebangsaan menjadi puing-puing kesumat. Oleh karena itu, pada momen kelahiran kembali semua orang di tahun baru ini, yang perlu kita hidupkan ialah kekayaan jiwa: the power of love. Bahwa hidup itu pendek, sedang kehidupan itu panjang.
Maka janganlah demi penghidupan, warga negeri tega mengorbankan kehidupan.
Dalam memasuki tahun 2021, kesadaran untuk menumbuhkan kekuatan mencintai itu terasa penting. Politik yang sedianya merupakan seni mengelola republik demi kebajikan kolektif melalui perbaikan otoritas publik, jangan sampai terjerumus menjadi seni menipu dan memecah-belah rakyat dengan mengatasnamakan ‘kebajikan publik’.

Bung Hatta mengingatkan, “Indonesia luas tanahnya, besar daerahnya, dan tersebar letaknya. Pemerintahan negara semacam itu hanya dapat diselenggarakan mereka yang mempunyai tanggung jawab, yang sebesar-besarnya, dan mempunyai pandangan amat luas.

Rasa tanggung jawab itu akan hidup dalam dada jika kita sanggup hidup dengan memikirkan lebih dahulu kepentingan masyarakat, keselamatan nusa, dan kehormatan bangsa.”

Dalam memasuki tahun baru, seribu masalah menghadang kita.

Namun, kekuatan cinta akan membuat yang sempit menjadi lebar, yang pengecut menjadi pemberani, yang miskin menjadi kaya, yang kaya menjadi pemurah. Kekuatan cinta memancarkan ketulusan berbakti meski tanpa jaminan popularitas dan imbalan kedudukan.

Dengan kekuatan cinta, semoga penderitaan pandemi bisa menjadi wahana refleksi dan perbaikan diri, yang dapat mengerahkan energi nasional, untuk bergandeng tangan mentransformasikan kehidupan bangsa dari lorong gelap menuju jalan cahaya.

 

@garsantara