Dalam Krisis ialah Pesimistis Dalam Berpikir, Optimistis Dalam Bertindak.

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com,  JAKARTA —  Dalam krisis ialah pesimistis dalam berpikir, optimistis dalam bertindak.

Seyogianya itulah substansi pokok ketika orang menyusun protokol menghadapi krisis.

Jangan dibalik.
Optimistis dalam berpikir, pesimistis dalam bertindak.

Pandangan bahwa ini penyakit dapat menyembuhkan diri sendiri merupakan pikiran optimistis dalam keadaan normal.
Dalam krisis berupa pandemi, pemikiran dapat menyembuhkan diri sendiri sebaiknya direduksi.

Bertindaklah optimistis bahwa dengan melakukan social distancing, tetap tinggal di rumah, senyatanya kita tidak berjudi dengan berpikir optimistis betapa hebat daya tahan tubuh kita.

Pengertian yang kedua dalam krisis kiranya tidak boleh terlalu optimistis terhadap manusia.
Manusia di negara maju sekalipun, Italia contohnya, bukan manusia yang dapat diberi tahu baik-baik.
Krisis marak sehebat-hebatnya, pesimisme terhadap kebebasan individu pun harus ditegakkan. Yang bandel berkeliaran di ruang publik dimasukkan ke penjara.

Dalam krisis lahir tertib masyarakat yang ’baru’, yang sedikit atau banyak mengurangi ke bebasan pribadi, kebebasan berkumpul.
Orang terkena penertiban preventif dan represif.
Keramaian undangan pesta perkawinan dibubarkan polisi.
Orang mudik dicegah di perbatasan agar mereka tidak membawa penyakit ke kampung halaman.

Pengertian yang ketiga perlunya orientasi kreatif dalam krisis. Bukan hanya belajar jarak jauh, bekerja di rumah, beribadah di rumah, ijab kabul pun dilakukan dengan video call. Pengantin putri di Kolaka, Sulawesi Tenggara, pengantin pria di Surabaya, Jawa Timur. Nantilah kita berbulan madu.

Pengertian yang keempat terbuka ruang destruksi diri dalam krisis. Ada orang yang mengidap ’parno’ (paranoid) gara-gara pandemi virus korona. Bekerja di rumah, sesebentar mencuci tangan dengan sabun. Bukan sabun biasa, sabun berlabel antiseptik. Sebentar kemudian membasuh tangan dengan hand sanitizer. Bila saja virus korona bisa tertawa dengan rasa humor yang lumayan, mereka menertawakan orang ’parno’ itu.

Orang itu sepertinya berada dalam tahap destruksi diri, merusak diri, kekhawatiran yang berlebihan. Tahap melindungi diri telah melampaui
batas, atau malah sesungguhnya dia tidak tahu lagi batas aman secara medis. Kenapa?

Subjektif karena orang itu berusia lanjut, katakan pernah pula operasi jantung sehingga tergolong beriwayat penyakit yang rentan terpapar oleh virus korona.

Objektif, dokter meninggal gara-gara menyelamatkan pasien covid-19 bisa membuat orang awam ’parno’. Itu kiranya tragedi paling dramatis. Dokter harus pula menyediakan sendiri alat perlindungan diri di tengah kelangkaan di pasar dan harganya melambung tinggi. Banyaknya tenaga medis yang positif korona kiranya juga akibat pemerintah berpikir optimistis, tapi lamban bertindak. Apa dasar tuduhan itu?

Jawabnya pada pengertian yang kelima. Psike elite pemerintah yang teramat percaya diri, sebermula menganggap Indonesia tidak terpapar oleh pandemi.
Dunia internasional terheran-heran: Indonesia negara yang paling beruntung di bumi, yang paling kebal di kolong langit sehingga tidak tersentuh oleh virus korona.

Sampai kemudian datanglah geledek di siang hari bolong. Presiden mengumumkan dua orang anak bangsa ini positif covid-19. Dari mana Presiden tahu, dari mana pemerintah tahu?

Dua orang itu berinisiatif memeriksakan diri. Mereka layak mendapat penghargaan. Namun, apa yang mereka terima? Identitas diri mereka terbuka di ruang publik. Pemerintah sendiri lalu sibuk berbicara di ruang publik bahwa membuka identitas seperti itu pamali.

Setelah ’temuan’ dua pasien itu, barulah pemerintah membuat protokol menghadapi virus korona. Padahal, sejumlah negara sudah berminggu-minggu heboh menanggulanginya. Setelah itu, Presiden menunjuk juru bicara untuk penanganan virus korona. Lalu Presiden menunjuk Kepala BNPB sebagai Ketua Gugus Tugas Covid-19. Berlakulah pengertian better late than never.

Yang punya protokol menghadapi krisis ialah sektor keuangan. Inilah protokol yang pernah dipakai pada krisis keuangan 2008-2009. Itulah yang dipakai sekarang dalam menghadapi krisis keuangan akibat virus korona. Dalam hal protokol krisis keuangan, kiranya berlakulah pengertian yang pertama, ’pesimistis dalam berpikir, optimistis dalam bertindak’. Dengan protokol itu, sepatutnya kita optimistis mampu menyelesaikan krisis keuangan dengan dampak minimal sekalipun rupiah seperti juga terserang ’korona’.

Pengertian keenam kiranya Presiden Jokowi reorientasi kreatif tentang besarnya alokasi anggaran pembangunan infrastruktur jalan, waduk, bandara, pelabuhan untuk pembangunan infrastruktur kesehatan. Ketika terjadi demam berdarah, pasien tak tertampung di kamar inap. Mereka ditampung di emperan rumah sakit. Ketika terjadi pandemi korona, terkuaklah buruknya rasio. WHO (2017) bilang kita hanya punya 12 tempat tidur rumah sakit untuk 10 ribu penduduk, 4 dokter untuk 10 ribu penduduk.

Rasio yang buruk itu lebih diperburuk lagi banyak rumah sakit bukan rumah menyehatkan, melainkan benar-benar ’rumah sakit’.

Fakta di banyak daerah itu pun menyuruh kita berpikir pesimistis, bertindak optimistis.

Pengertian yang terakhir realitas memang pahit.
Berkuasa juga bermakna berkesanggupan mengatasi yang pahit-pahit, bukan hanya menikmati yang manis-manis.

Harapan ialah tiap krisis memproduksi horizon, menghasilkan cakrawala untuk kita mampu berjaga di masa depan yang tidak terduga.

@drr