Kategori
Artikel

Dalam keadaan genting manusia semestinya berubah.

 

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com  MEDAN –:Dalam keadaan genting manusia semestinya berubah.

Apakah yang lebih genting dan menakutkan yang membuat manusia berubah selain kematian, baik fisik maupun ekonomi?

Manusia semestinya berubah menjadi disiplin.
Disiplin bermasker, disiplin menjaga jarak fisik dan sosial, disiplin cuci tangan pakai sabun, serta disiplin menjaga daya tahan tubuh.
Kedisplinan seperti itulah yang kita harapkan terbentuk sebelum vaksinnya ditemukan supaya kita bisa lekas keluar dari kegentingan pandemi covid-19.
Akan tetapi, kedisiplinan yang kita harapkan belum merata di seluruh dunia.
Negara-negara berdisiplin, apakah dengan lockdown atau tidak, grafik covid-19-nya mulai atau sudah landai.

Negara-negara yang kurang disiplin, meski sudah lockdown, grafik covid-19-nya masih merah.
Kuncinya bukan lockdown atau tidak lockdown, melainkan disiplin.

Arab Saudi mendisiplinkan rakyatnya dengan karantina (lockdown) dan sukses meredakan pandemi covid-19.

India sudah lockdown lebih dari tujuh pekan, tetapi rakyatnya kurang disiplin sehingga gagal menekan pandemi covid-19.

Taiwan mendisiplinkan rakyatnya tanpa lockdown dan sukses meredakan covid-19.

Di Indonesia, tidak semua daerah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Nanggroe Aceh Darussalam yang tidak menerapkan PSBB sukses menekan covid-19.
Aceh dengan kearifan lokal syariah islam sukses mendisiplinkan warga dan meredakan covid-19.

Jakarta yang menerapkan PSBB gagal mendisiplinkan warga sehingga grafik covid-19-nya masih fluktuatif.
Kedisiplinan masyarakat saat PSBB, kata Wapres KH Ma’ruf Amin, masih jauh dari harapan.
Alih-alih disiplin, yang terjadi malah ‘diselipin’.
Sejumlah orang di Bali ‘menyelipkan’ surat keterangan sehat palsu di toko daring supaya orang-orang bisa ‘menyelip’ atau menyelundup mudik.
Dari dulu kita memang menanggung problem disiplin.

Gerakan Disiplin Nasional di masa Orde Baru sampai Revolusi Mental di masa Jokowi tak sanggup mendisiplinkan rakyat.
Ketakutan akan kematian rupanya tak cukup genting, tak cukup menakutkan, bagi kita untuk berubah menjadi lebih disiplin.
Itu mungkin karena kita optimistis sebagian besar kasus covid-19 bisa disembuhkan.
Pun kita optimistis vaksinnya bakal ditemukan.
Kita jadi tak takut mati karena terjangkit covid-19.

Kita rupanya lebih takut mati karena miskin, karena lapar.
Hungry makes angry.

Itulah sebabnya banyak negara mulai melonggarkan lockdown atau pembatasan sosial supaya ekonomi bergerak lagi, meski grafik covid-19 mereka masih merah.

Akan tetapi, negara-negara tersebut tetap menerapkan aturan agar rakyat disiplin memakai masker, menjaga jarak sosial, mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga daya tahan tubuh, paling tidak sampai vaksin anticovid-19 ditemukan.
Ketakutan akan kematian karena miskin atau lapar ternyata juga mesti dibarengi dengan aturan untuk membuat masyarakat disiplin.

Kita menginginkan kegentingan karena pandemi covid-19 membuat manusia mendadak atau otomatis berubah lebih disiplin.
Faktanya, itu tidak terjadi. Kita ternyata tak bisa hanya mengandalkan kegentingan untuk membuat manusia mendadak berubah lebih disiplin.
Bila mendadak disiplin tak terjadi, pendisiplinan harus dilakukan.
Pendisiplinan dilakukan secara struktural, berupa penyediaan infrastruktur maupun regulasi.
Supaya orang disiplin cuci tangan memakai sabun, misalnya, infrastruktur wastafel atau sejenisnya harus tersedia di mana-mana.
Pendisiplinan memerlukan kedisiplinan aparat.
Larangan bepergian ke dan dari Jabodetabek Gubernur DKI Anies Baswedan tidak akan efektif bila aparat tidak disiplin menerapkan regulasi dan menyiapkan infrastruktur pos penyekatan.

Dengan begitu, kedisiplinan masyarakat terbentuk.
Struktur sudah terbukti mengubah kultur.
Regulasi dan infrastruktur membentuk kultur disiplin masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19.

@drr