Kategori
Artikel

Dalam cerita WAYANG, Pemimpin yang wasis (pandai) menggunakan konsep ‘EMPAT T’ itu ialah Raja Astina Prabu Kresnadwipayana alias ABIYASA.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,JAKARTA
TATA (tertata),
TITI (teliti),
TITIS (tepat, cermat),
TATAS (sukses).

Dalam cerita WAYANG,
Pemimpin yang wasis (pandai) menggunakan konsep ‘EMPAT T’ itu ialah
Raja Astina Prabu Kresnadwipayana alias
ABIYASA.

 

Eloknya ia juga memiliki vokal yang empuk, halus, terang, dan jelas sehingga bicaranya selalu terdengar enak dan terasa nyaman.

Wataknya agak pendiam.
Maka, kalau bicara apa adanya dan itu pun kalau sangat penting.

 

Barangkali, ini dilatarbelakangi kegenturannya menjalani laku prihatin sejak anak-anak hingga dewasa.

‘Hobi’-nya itu merupakan turunan dari ayahnya, Resi Palasara, yang menjadi ahli semadi di Pertapaan Sapta-arga di lereng Gunung Retawu.

Sehari-hari ABIYASA lebih banyak menghabiskan waktunya di sanggar pamujan untuk mendekatkan diri kepada Sanghyang Widhi.

Tidak terlintas di benaknya atau kalbunya bahwa pada suatu ketika jalan hidupnya mengharuskannya duduk di singgasana negara besar Astina.

Namun, kehidupan yang kontras itu harus dijalani.
Tepatnya ketika ibunya, Durgandini, memerintahkannya menjadi raja di Astina.

Ini karena semua keturunan almarhum Prabu Sentanu
(raja Astina)-Durgandini, yakni Citranggada dan Wicitriwirya, meninggal dunia.

Keduanya pun tidak berputra sehingga estafet kepemimpinan dari trah Sentanu pupus.

ABIYASA hidup berjauhan dari sang ibu, yakni sejak kedua orang tuanya, Palasara-Durgandini, berpisah ketika ia masih balita.

ABIYASA diasuh ayahnya di Saptaarga, sedangkan ibunya di istana Negara Wiratha.
Seiring perjalanan waktu, Palasara tetap menduda, sedangkan Durgandini dipinang Prabu Sentanu dan diboyong ke Astina.

 

Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, ABIYASA tidak kuasa menolak perintah sang bunda alias sendika dhawuh.

Inilah jalan hidup yang tidak ada pilihan lain kecuali harus melakoni.

ABIYASA kemudian dilantik menjadi raja bergelar Prabu Kresnadwipayana.

 

Awalnya sangat berat bagi ABIYASA.

Dari yang semula sibuk ngurusi kebutuhan batin dan jiwanya sendiri, berubah mesti memegang kendali pemerintahan negara dan mengopeni jutaan rakyat.

Yang dulunya banyak berdiam diri di tempat sepi, kini mesti bergerak ke sana ke mari dan berbicara di tengah-tengah rakyat.

 

MEMBERIKAN CONTOH

Sebagai pemimpin, berbicara itu keniscayaan dan penting.

Tapi bagaimana muruahnya pemimpin itu berbicara?

*Dalam konteks itu, apa pun model dan watak serta gaya kepemimpinan seorang pemimpin, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana etika dan moral berbicara*.

Poin inilah yang begitu diperhatikan Kresnadwipayana.

Dari perenungannya,
ia lalu merumuskan ‘ilmu’ berbicara, yakni berbicara itu harus tertata dengan baik, artinya teratur dan terukur.

 

Kemudian mesti teliti,
Ini menyangkut pesan yang disampaikan harus akurat dan presisi sehingga tidak keliru atau menimbulkan salah persepsi.

Berikutnya ialah tepat dalam menggunakan kata-kata atau diksi.

Juga jangan sampai berlebihan sehingga menimbulkan kesan ‘nggaya’, sekadar gincu.

Ini untuk menghindari pula anggapan minteri (sok pintar).

Pungkasannya,
Mencapai sasaran atau menghasilkan apa yang diharapkan.
Rakyat yang mendengarkannya memahami dan mengikutinya.

 

Inilah yang menjadi patokan Kresnadwipayana.
Ia senantiasa menjaga lati (mulut)nya untuk tidak melambung-lambung yang membuat rakyat bingung.

 

Oleh karena itu,
Pidatonya selalu ditunggu-tunggu rakyat, apalagi selalu mencerahan dan menginspirasi.

Selain lugas dan to the point, gayanya kalem mengesankan.
Wibawa bicaranya pun tidak kalah dibandingkan dengan para dewa yang bersamayam di kahyangan.

Namun,
*Dalam mengemban tugas sehari-hari, sang raja memilih lebih banyak berkerja daripada ngomong*.

 

Motonya adalah
KERJA., KERJA.., KERJA…

 

Secara langsung ini merupakan contoh gerakan revolusi mental kepada seluruh komponen bangsa.

Ia memberikan keteladanan kepada rakyatnya untuk senantiasa
CANCUT TALIWANDA
(dengan segenap kemampuan)

*Bekerja dan bekerja membangun negara dengan sekaligus mengurangi berbicara*.

 

MENEMUKAN ESENSINYA

Kepada para pembantunya di ‘kabinet’, sang raja juga membuat aturan internal.

*Seluruh nayaka praja yang memberikan laporan dalam pasewakan agung tidak diperkenankan berbicara lebih dari Tujuh Menit*.

Yang diwanti-wantikan kepada setiap pengembating praja (pejabat) adalah banyak bekerja keras untuk rakyat.

Patron demikian ini akhirnya membudaya dalam iklim kerja di semua lapisan birokrasi.

Pada gilirannya,
Semua program pembangunan bisa dikerjakan dengan efisien, cepat, dan tepat waktu.

 

TIDAK ADA PROYEK YANG MENGKRAK SEHINGGA MERUGIKAN NEGARA.

 

Inilah yang pada muaranya Astina menjadi negara adi daya.
Negara kuat dan kaya raya sehingga disegani bangsa-bangsa lain di seluruh mayapada.

 

BANYAK NEGARA YANG MEMBANGUN HUBUNGAN DIPLOMATIK TANPA SYARAT,

BAHKAN TIDAK SEDIKIT PULA YANG INGIN MENJADI
‘JAJAHANNYA’.

(Rn)