DAKWAH merupakan tugas mulia

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com , JAKARTA —DAKWAH merupakan tugas mulia.
Dalam menjalankan aktivitas dakwah, seorang dai tidak terlepas dari interaksi dengan mad’u (objek dakwah).
Karenanya, seorang dai dituntut untuk mengenal objek dakwah.

Hamam Abdurrahim Sa’id dalam kitabnya Qawaidu ad-Da’wah ila Allah mengatakan bahwa mengenal objek dakwah menjadi bagian penting dalam berdakwah. Hal pertama yang hendaknya dikenal dari objek dakwah adalah nama, termasuk gelar, baik akademis atau gelar penghormatan yang diberikan oleh masyarakat, nama panggilan akrab, dan memanggil dengan nama yang disukai.

Abbas As-Siisi dalam kitabnya At-Thariq Ilal Quluubb menjelaskan cara menyentuh hati objek dakwah, salah satunya menghafal nama. Menghafal nama merupakan hal penting, dari sini terjadi interaksi dan lahir sifat saling percaya (tsiqah).

Rasulullah SAW bersabda, “Termasuk sifat angkuh adalah seseorang yang masuk ke dalam rumah temannya, lalu disuguhkan makanan, ia tidak mahu memakannya; dan seorang laki-laki yang bersama-sama laki-laki lain dalam perjalanan, tetapi tidak menanyakan nama dan nama orang tuanya.” (HR ad-Dailami).

Indikasi keberhasilan seorang dai adalah mampu menghafal nama-nama sang objek dakwah. Jika belum mampu menghafal nama secara langsung, minimal memiliki pegangan biodata objek dakwah.
Sebagian objek dakwah yang menilai sang dai lupa akan namanya, dan ia akan takjub jika ternyata dugaannya itu salah, ternyata sang dai masih mengingat namanya dengan baik. Tahap berikutnya adalah mengenal karakter objek dakwah.
Mengenal nama saja tidak cukup, seorang dai juga harus mengenal kepribadiannya. Hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika terjadi penaklukan Kota Makkah.

Abu Sofyan, tokoh Quraisy kala itu merupakan sosok yang kepribadiannya dikenal secara utuh oleh Rasulullah SAW. Beliau mengenal Abu Sofyan memiliki karakter ingin disanjung. Lalu, Rasul SAW berkata, “Barang siapa masuk rumah Abu Sofyan, maka ia akan aman.” Abbas As-Siisi menyajikan kisah, bagaimana memulai perkenalan.
Suatu ketika kami dalam perjalanan dari Iskandaria ke Asyuth ibukota Sha’id. Perjalanan itu membutuhkan waktu lama, sehingga kami membawa banyak makanan ringan. Waktu itu kereta api berhenti di tengah jalan lebih dari dua jam.
Didorong oleh hadis bahwa barang siapa mempunyai kelebihan bekal, hendaknya memberikan kepada orang yang tidak mempunyai bekal (HR Muslim), maka salah seorang di antara kami berdiri dan membagi-bagikan makanan kepada penumpang. Dengan demikian kami sudah membuka pintu untuk saling mengenal, dan kejadian itu meninggalkan kesan mendalam di hati para penumpang.

Kisah yang lebih menarik, Abbas As-Siisi sengaja menginjak kaki orang yang berdiri di sebelahnya saat naik trem. Orang itu marah, “Apakah Anda buta?” Ia pun menjawab dengan tenang, “Jangan terburu marah, wahai saudaraku. Memang saya ini seperti orang buta, karena penglihatanku sudah melemah.” Lalu, orang tersebut meminta maaf dan saling berkenalan. Dengan mengenal karakter objek dakwah, seorang dai memiliki peluang lebih untuk memiliki kedekatan dengannya, membuatnya lebih nyaman dan tertarik dengan dakwah. Ini yang dimaksud dakwah dengan bashirah, dakwah dengan hati, tidak hanya mengenal objek dakwah secara fisik, tetapi juga mengenal kepribadian, kejiwaan dan hal lain yang sifatnya lebih kepada pendekatan hati.

Seorang dai yang sukses, bisa diidentifikasikan dari sejauhmana pemahaman seorang dai terhadap kondisi masyarakat di sekitarnya, dan tidak pernah absen dalam memberikan perhatian dalam permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat. Seorang dai juga harus mengetahui kapan objek dakwah berada dalam kondisi sibuk dan dalam keadaan senggang. Hal seperti ini hanya bisa diketahui ketika seorang dai banyak berinteraksi dengannya terutama dalam kegiatan sosial.

Seorang dai hendaknya dapat memanfaatkan setiap kesempatan, yang dimungkinkan pada saat itu terdapat peluang mengenal objek dakwah secara lebih dekat. Hal itu hendaknya dilakukan dengan kelihaian, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan di benak objek dakwah.

Di samping mengetahui hal yang sifatnya prinsip, seorang dai hendaknya mengetahui kondisi ekonomi objek dakwah. Membantu yang sedang terlilit masalah ekonomi adalah hal utama yang harus mendapatkan perhatian lebih dari seorang dai. Jika sedang ada masalah keluarga, tetangga dan pasangannya, kewajiban seorang dai untuk mencarikan jalan tengah agar bisa menyelesaikan segala permasalahannya.

Kendati ada objek dakwah yang selama bermuamalah kerap menyinggung perasaan dai, namun ketika ia didatangi untuk dimintai nasehat, maka sudah menjadi kewajiban dari dai untuk memberikan nasehat, tanpa mengungkit permasalahan yang pernah terjadi.

Kalaupun tidak dapat memberikan solusi, maka bukan menjadi suatu hal yang aib apabila sang dai merekomendasikan rekannya yang lain yang dapat mencarikan solusi terbaik terhadap permasalahan yang menimpa objek dakwah.

Seorang dai dituntut bisa hadir dalam setiap acara, seperti acara malam tasyakuran, duka cita dan hari raya Islam.

Kesempatan seperti ini menjadi lahan untuk dakwah, peluang berinteraksi dan berkenalan dengan banyak orang, memperpanjang silaturrahmi, dan mengenal obyek dakwah secara lebih dekat.

Semoga Allah membimbing para dai agar mudah mengenal objek dakwah secara baik sehingga objek dakwah semakin tsiqoh (percaya) dan siap mendukung dakwah.

Aamiin…

 

@garsantara