Kategori
Artikel

Covid-19, sampai pertengahan April 2020 setidaknya 28 dokter telah gugur dalam perang melawan korona.

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –Covid-19, sampai pertengahan April 2020 setidaknya 28 dokter telah gugur dalam perang melawan korona.

Sayangnya, faktor alat pelindung diri (APD), kelambanan kepemimpinan, pengetahuan kolektif dan pengembangan taktik baru yang serba-survival, sama-sama menyumbang atas kematian pahlawan-pahlawan medis kita.

Pada awal April 2020 telah tiba di Indonesia 2 Magna Pure dan 16 Light Cycler, serangkaian alat RT-PCR yang secara keseluruhan akan mampu melakukan pemeriksaan spesimen sebesar 11 ribu sampel swab tenggorok pasien terduga covid-19 setiap harinya.

Ibarat pertempuran udara, Indonesia kini mempunyai cukup ground controlled interceptor, radar tempur yang mampu mendeteksi sebanyak apa pun musuh yang masuk ke ruang udara kita, untuk kemudian dicegat dan dijatuhkan pesawat-pesawat tempur TNI-AU.

Saat ini di Indonesia telah tersedia 29 laboratorium RT-PCR, untuk melayani 320 rumah sakit se-Indonesia, dari idealnya sekitar 80 laboratorium.
Merujuk arsenal laboratorium terbaru ini, sampai tengah Mei 2020 Indonesia akan mampu melakukan deteksi covid-19 sejumlah 330 ribu sampel dan mencapai 660 ribu sampel dalam dua bulan ke depan.

Konsekuensi dari kelengkapan laboratorium terbaru ini kita akan meninggalkan fase akselerasi covid-19 menuju fase akumulasi lanjut.

Negara-negara yang berada pada fase ini ialah Indonesia, Filipina, Brasil, Thailand, Malaysia, dan Australia. Yang makin ke puncak grafik akumulasi ialah AS, Prancis dan Inggris, dan Singapura.

Puncak grafik akumulasi telah dicapai Spanyol, Italia, dan Jerman.
Hanya Arab Saudi dan Korea Selatan yang telah sampai pada minggu-minggu pemulihan.

Merujuk laporan terkini covid-19 per 14 April 2020; dari 19 ribuan sampel terperiksa sebanyak 4.557 (23,9% dari total sampel) positif, dengan 399 (8,7% dari yang positif) meninggal, dan 380 sembuh.

Dengan menggunakan model infeksi relative pada populasi (JP Morgan), apabila angka hasil RT-PCR ini konsisten dari hari ke hari dalam 2 bulan ke depan, dari 330 ribu sampel diperiksa sampai pada tengah Mei 2020 akan didapat sekitar 78.870 orang positif RT-PCR dengan 6.885 meninggal.
Pada tengah Juni (puncak) sekitar 157.740 orang positif RT-PCR dengan 13.719 meninggal.

Angka-angka yang didapat di atas mengikuti variabel-variabel; 1. jumlah sampel terperiksa, 2. angka persentase positif tetap (23,9%), 3. angka persentase kematian tetap (8,7%).

Masih dapat berubah

Tentu saja ketiga variabel di atas dapat berubah dengan prasyarat-prasyarat tertentu, yang mencakup proses belajar masyarakat dan profesi medis, sinkronisasi kebijakan pemerintah (PSBB) dan dukungan penuh pada penyediaan APD, penyediaan rumah sakit khusus covid-19 di semua provinsi, keberlangsungan/keselamatan tenaga medis, penyediaan anggaran di semua tingkatan, dan terpenting makin tingginya pemahaman masyarakat atas pentingnya physical distancing.

Selain itu, menyangkut perilaku sehat menghadapi covid-19, disiplin semua pihak atas penerapan PSBB, dan terutama penyediaan kebutuhan dasar kepada kelompok–kelompok rentan secara ekonomis dan medis.

Sejalan dengan permodelan infeksi relative populasi di atas, saat ini ada 7 negara berada dalam situasi peningkatan wabah; 1. AS dengan 555 ribu kasus, 2. Turki (52.000 kasus), 3. India (8.500), 4. Jepang (6.700), 5. Indonesia (4.557), 6. Tiongkok (4.000), dan 7. Thailand (3.700).

Kunci keberhasilan semua negara yang mampu mengendalikan wabah bertumpu pada kepemimpinan yang kuat atas upaya pencegahan dan pengendalian yang terukur.
Pada sisi hulu orang-orang sehat harus dipastikan tinggal di rumah dan tidak akan tertular yang sakit.
Dengan pendampingan di tingkat RT, RW, kampung, dan desa ‘siaga covid-19’ berbasis masyarakat, ormas NU, Muhammadiyah, NGO, organisasi profesi, serta kalangan kampus wajib berperan di sisi ini.
Pada sisi hilir orang yang berpotensi menularkan penyakit harus dipisahkan dengan cara pemerintah membuat 3 fasilitas; 1. pusat karantina ODP dan PDP yang dapat mengurus dirinya sendiri, 2. RS khusus covid-19 bagi manula dan penderita dengan penyakit penyerta, dan konfirmasi khusus ringan dan sedang, dan 3. RS rujukan khusus untuk kasus konfirmasi sedang dan berat.

Melalui strategi pencegahan dan penanggulangan di atas, diharapkan, 28 hari ke depan setelah PSBB diterapkan di level provinsi dan level di bawahnya, kita akan melihat tanda-tanda wabah yang terkendali.

Amat patut dipertimbangkan agar wilayah zona merah segera ditetapkan sebagai wilayah PSBB.

Jangan sampai formalitas dan birokrasi justru menjadi musuh utama dalam menghadapi wabah covid-19.

@drr