Kategori
Artikel

Ciri khas manusia dewasa dan modern dapat dilihat dari kesanggupannya untuk menertawakan diri sendiri.

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Ciri khas manusia dewasa dan modern dapat dilihat dari kesanggupannya untuk menertawakan diri sendiri.
Bercanda mengenai diri sendiri, menurut hasil penelitian Universitas Granada di Spanyol, berkaitan dengan nilai atau tingkat kesejahteraan psikologis yang tinggi.
Dengan merujuk hasil penelitian itu, tingkat kesejahteraan psikologis orang yang antihumor sangatlah rendah.
Mereka disebut sumbu pendek karena mudah marah dengan emosi tidak stabil.
Mudah marah di masa pandemi covid-19 justru menurunkan imunitas tubuh.
Baiklah dipertimbangkan untuk sering-sering menggauli humor agar imunitas tubuh meningkat.

Hakikat humor itu rekreasi jiwa. Kata Thomas Aquinas, kesenangan ialah istirahat sang jiwa.
Orang yang tak pernah bermain dan bercanda itu melawan akal sehat dan mudah menjadi jahat.
Merawat akal sehat antara lain menyisipkan humor dalam kegiatan serius sekalipun.
Parlemen Jerman dikenal paling kaku di dunia.
Akan tetapi, studi yang dilakukan Ralph Mueller menyebutkan tetap ada kelucuan.
Dari hasil notulensi rapat selama 12 tahun sejak 1994, tercatat ada 7.529 kali peristiwa tertawa.
Studi Mueller yang dikutip Adi Bayu Mahadian dalam artikelnya, ‘Humor Politik sebagai Sarana Demokratisasi Indonesia’, menyebutkan keberadaan peristiwa tertawanya anggota Parlemen Jerman dalam sidang parlemen, sebagai bagian dari keberadaan humor, menunjukkan humor dapat menembus batas kekakuan sebuah konteks situasi bahkan budaya.

Presiden Ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur selalu menghadirkan humor dalam acara resmi kenegaraan.

Dalam Sidang Paripurna DPR pada 18 November 1999, Gus Dur menjelaskan latar belakang pembubaran Depsos dan Deppen. “Keterangan saya yang tidak begitu dipahami karena memang enggak jelas bedanya antara DPR dan taman kanak-kanak,” katanya.

Para ahli sepakat bahwa humor politik merupakan faktor penting dalam demokrasi.
Penting untuk mengetahui kebenaran pernyataan atau kebijakan, menambah kepercayaan masyarakat dan pemerintah, yang akhirnya meningkatkan partisipasi politik masyarakat.
Dalam dua tahun terakhir ini, humor politik dihadirkan dalam hari ulang tahun DPR RI. Tahun lalu DPR menggelar lomba stand up comedy bertajuk Kritik DPR. “DPR sudah menjadi parlemen terbuka. Siapa pun boleh kritik DPR tanpa harus merasa takut. Semakin banyak yang mengkritik akan semakin bagus bagi peningkatan kinerja DPR,” ujar Ketua DPR Bambang Soesatyo pada 25 Agustus 2019.

Pemenang lomba, Aji Pratama, pelajar STM II Palembang. Aji mengatakan dirinya yang kerap bolos, tidur di kelas, dan memotong biaya SPP memiliki sifat yang sama dengan para anggota DPR. “Ada anggota DPR suka korupsi, aku juga korupsi, korupsi duit SPP. Cuma bedanya kalau ketahuan. DPR, kalau ketahuan korupsi, dipenjara, enak. Aku waktu itu pernah ketahuan korupsi Rp100 ribu, digesperin sampai nangis,” kata Aji yang membuat para anggota DPR tertawa terbahak-bahak.

Bangsa ini sesungguhnya beradab, bangsa yang sehat, apalagi para elite bersedia mendengarkan kritik atas diri mereka dan mereka pun tertawa terpingkal-pingkal.
Namun, terus terang, selera humor mengalami pasang surut, surut sampai titik nol.
Kasus Ismail Ahmad, 41, contohnya. Warga Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, itu dijemput polisi dan ia meminta maaf di kantor polisi lantaran mengunggah guyonan Gus Dur.

Guyonan Gus Dur itu menyebutkan polisi jujur terdiri atas patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Pol Hoegeng Iman Santoso, mantan Kepala Polri.
Polisi menilai unggahan itu sensitif.

Nasib kurang beruntung juga dialami komika Bintang Emon.
Ia diserang netizen setelah videonya yang mengkritik tuntutan rendah terhadap penyerang penyidik KPK Novel Baswedan.
Konten video didasari isi tuntutan jaksa yang menyebutkan para terdakwa tidak sengaja melukai mata Novel.
Dalam video itu, Bintang Emon menyindir alasan ketidaksengajaan itu.

Sebab, menurutnya, tak mungkin siraman air keras bisa pas di muka jika tanpa disengaja. “Katanya nggak sengaja, tapi kok bisa kena muka?

Nyiram badan nggak mungkin meleset ke muka. ”

Tatkala humor dianggap jahat, peradaban mundur ke zaman Plato yang sempat menganggap humor dan tertawa sebagai kejahatan, sejajar dengan penghinaan.
Benarlah kata Bertold Brecht, “Hidup akan tersiksa di sebuah negara yang tak karib dengan humor, tapi lebih nestapa hidup di sebuah negara yang menghajatkan humor.”

Jangan menjadi kaum sumbu pendek.
Biarkan humor lestari dalam peradaban.
Bercanda atau bermain itu sama pentingnya dengan berpikir dan bekerja dalam terminologi Homo Ludens-nya Johan Huizinga.

@drr