Bulan Ramadhan ini memang berbeda. Beribadah semuanya berpusat pada rumah

 

Oleh: Dhedi Razak

Busurnews.com, nanggroe ACEH darussalam — Ketika setiap orang “dipaksa” untuk tetap tinggal di rumah.

Bulan Ramadhan ini memang berbeda.
Beribadah semuanya berpusat pada rumah.

Dalam Islam, inilah sebenarnya madrasah pertama.

Tetapi banyak saja gangguan.
Kenapa tidak, kendati orang berada di tempat, kita selalu berkelana ke alam bebas.
Kendati tetap di rumah, penghibur kita berada di tempat yang jauh.
Jika tidak bisa mengontrol diri, tetap berada di rumah bukan berarti setiap orang dapat menahan diri.
Teknologi informasi membuat setiap orang tetap bepergian.
Fisiknya ada di rumah, tetapi fikiran dan pergaulannya tidak pernah terbatas.
Internet menjembatani setiap orang untuk terus terkoneksi dengan dunia lain yang tidak berujung.
Dengan menonton tayangan-tayangan di televisi dan Youtube misalnya, setiap anggota keluarga justru akan menjadi insan media yang terus masuk pada imajinasi orang lain.
Jika tidak bisa mengontrol dengan baik, seluruh anggota keluarga akan ternina bobokan dengan para pencipta konten media yang entah apa kepentingannya.
Di sisi lain, media sosial menjadi pelarian mengusir penat.
Berkomunikasi, membaca pesan, melihat foto dan menonton video menjadi aktivitas keseharian.
Hampir tidak ada saat yang terbebas dari media sosial.

Parahnya, setiap orang ingin selalu menjadi aktor.
Media sosial memang karakternya begitu, memfasilitasi setiap orang untuk eksis.
Bagi orang-orang yang masih bisa mengontrol diri, berbagi pesan atau berkomentar di media sosial masih beruntung.
Tetapi jika orang itu sudah kebablasan, kerjaannya hanya mengejar popularitas, selalu ingin viral dan dikenal orang, maka persoalannya menjadi lain.
Media sosial akan menjadi ruang bebas untuk mengatakan dan membagikan apa saja, bak dunia yang bebas nilai.
Walaupun pesan itu dibagikan dengan cara ditulis, namun dalam rumus komunikasi, tulisan termasuk kategori verbal.
Tangan adalah kepanjangan tangan dari mulut.
Walaupun orang tidak berbicara secara verbal, tetapi dengan tangannya, tetap aktif bahkan terkadang hiperaktif.
Mungkin kita juga suka heran kepada orang yang dalam realitasnya tidak banyak bicara, tetapi di media sosialnya selalu ngoceh, bahkan melebihi yang lain. Inilah fenomena dunia digital yang menyajikan realitas baru.
Sebuah realitas yang membalikkan mental dan diri khas kemanusiaan, memasuki area baru yang tidak pernah ditemukan dalam kehidupan fisik.
Di media sosial, orang cerdas lebih cenderung diam, yang terjadi justru sebaliknya.
Dengan tanpa memukul rata, fenomena ini benar-benar terjadi.
Di mana media sosialkita, yang kini menjadi salah satu pilihan mengisi bulan yang suci ini, jika tidak hati-hati difungsikannya hanya akan menjadi “neraka”.
Apalagi di tengah wabah Covid-19, setiap kata harus benar-benar dikontrol, sebab jika tidak, maka akan menjadi persoalan baru.
Pemerintah misalnya, benar-benar memantau, agar setiap orang tidak melakukan hoaks dengan memperkeruh suasana.
Ramadhan kali ini mungkin menjadi kesempatan emas untuk kembali membersihkan jagat medsos kita, seperti halnya bumi yang kini memasuki masa terbaiknya, terbebas dari volusi dan bising mesin yang dilakukan tangan manusia.

Media sosial pun harus steril dari berbagai ujaran negatif yang mengotorinya, termasuk merusak bulan yang suci ini. Menahan diri untuk tidak berkata negatif mungkin bisa diusahakan oleh setiap orang. Tetapi ada persoalan lain dimana media sosial memiliki fitur untuk meneruskan pesan orang lain kepada yang lainnya bahkan ke gruplain yang lebih masif. Hasrat untuk eksis di media sosial selalu memiliki caranya, sebab dengan hanya dengan melanjutkan pesan orang lain, kita seolah-olah punya andil besar di sana. Letak persoalannya, ketika setiap orang rendah tingkat literasinya, tidap paham pesan yang ada di tangannya, dengan cepat langsung mem-forward-nya kepada orang lain. Yang paling celaka, dengan hanya membaca judul tulisan atau judul gambar, langsung menyebarkannya kembali. Dalam hukum pergaulan di media sosial, kita yang menyebarkan kembali seringkali mendapat apresiasi. Ini jelas menjadi persoalan. Motifnya dipastikan berbeda-beda. Ketika musim politik kita sering mendengar katabuzzer, yaitu mereka yang melakukan aktivitas untuk menggemakan suara kubu politik tertentu, untuk mengalahkan lawannya, dan memenangkan jagoannya. Konon banyak orang yang dibayar untuk ini. Selain manusia, robot pun difungsikan untukinterest politik seperti itu. Tetapi terkadang pada saat yang sama, setiap orang dapat menjadi buzzer tanpa disadarinya. Karena keterbatasan wawasan, dengan hanya mengandalkan emosi, kita bisa menggemakan suara orang lain yang disebarkan lewat media sosial. Tidak ada konten media sosial yang hampa dari kepentingan. Ketika ada orang yang sedang menyebarkan ideologinya, pemahaman fikih misalnya, atau yang sedang mengemas kebencian di balik kata-kata dan puisi indah, tidak sedikit orang dengan suka cita meneruskannya, turut memviralkan, tanpa tahu siapa yang memiliki kepentingan di balik pesan yang menawan itu. Verifikasi konten dalam ruang virtual menjadi lebih penting, sebab di sana setiap orang akan berhadapan dengan hukum jika tidak hati-hati. Di luar konteks itu, setiap orang juga akan melanggar makna kesucian Ramadhan, jika selalu membuat teks dan menyebarkannya secara serampangan.
Yang paling realistis adalah kehidupan umat Islam yang stay at home ini akan semakin menambah makna dan pahala jika mampu mengisi ruang virtual dan media sosial dengan kata-kata positif dan bijak.
Untuk menambah pahala ramadhan, sebaiknya makna produktif akan semakin baik jika setiap orang mampu menciptakan atau memproduksi narasi sendiri yang sekiranya memberikan inspirasi, tuntunan, dan membuat orang menjadi lebih baik lagi.
Wallahu a’lam.

@drr