Budayaku Budayamu : Karakter yang hilang dalam satu generasi

Membuat sebuah suatu nilai memang dibutuhkan oleh generasi muda dengan atau tanpa teknologi. Opini publik yang terus berkembang menyangsikan kinerja pemerintahan yang belum mampu membuka lapangan pekerjaan sejak dikeluarkannya kartu prakerja yang dinilai kurang efektif untuk mengurangi pengangguran.

Oleh Zuliana

Sejak dekade lalu disaat krisis ekonomi melanda benua Eropa, Asia merupakan tempat yang cocok untuk para investor untuk berinvestasi di berbagai bidang. Namun hal ini berbanding terbalik dengan apa yang sebetulnya dapat diatasi, salah satu problem utama adalah Sumber Daya Manusia yang tidak mumpuni untuk mengolah dan sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Apakah ada yang salah?

Keragaman telah hilang termakan waktu. Budaya memaksakan kehendak untuk mengikuti paham yang sama, dipaksakan agar dapat teranulir dengan sendirinya, sekelompoknya, dan yang itu saja. Kondisi mental yang seharusnya semakin pulih dan berangsur menjadi lebih dewasa menjadi seakan diam ditempat.

Budayaku juga budayamu dipertanyakan, dengan atau tanpa investor yang membuka lapangan pekerjaan, seharusnya masyarakat paham dan dapat mengolah hasil ladang yang memang dibiarkan terbengkalai. Kehidupan yang kian mengerucut untuk beberapa kalangan dinilai sulit untuk mengikuti perkembangan jaman, banyak yang berinovasi namun hanya lihat semut diseberang lautan, disisi lain pekerjaan yang kian memerlukan tenaga terampil sangat dibutuhkan.

Hal yang terkesan dipaksakan memang tidak disukai oleh siapapun, dipaksa untuk mengerti dan menganut satu paham yang sebetulnya dapat diketahui dengan cara lain yang lebih mudah seakan sulit untuk dilakukan, sudah menyatu dengan jiwa dan raga, otak bebal kami untuk terjatuh di lubang yang sama tetap saja menjadi pilihan. Inikah budayaku atau saduran budayamu yang ‘suka suka gue dong!’ , hingga tidak ada lagi yang ingat kewajiban untuk membuat, memupuk, membangun sumber sumber yang bisa jadi emas dikemudian hari.

Perubahan budaya dan etiket juga salah satu faktor mengapa membuat suatu produk yang ‘bernilai’ sangatlah sulit di temukan dewasa ini, kesalah pahaman dan pengertian salah mengenai hal yang berbau kompetitif menjadi sangat lumrah. Pengerukan Sumber Daya Alam hingga membuat sesuatu serba instan dalam satu malam mungkin lebih mudah ditemui. Pasar yang tidak sehat inilah yang mengubah budaya dan juga karakter masyarakat dalam mengambil keputusan dalam berusaha melakukan apapun untuk kesenangan diri. Kejujuran memang hal yang mutlak, namun tanpa atensi dan koneksi semua kesempatan akan sirna tertutup dan tersingkirkan, saat ini sangat sulit menemukan mana pihak yang benar benar memulai dan bangkit, lalu pihak mana yang menjadi pemberat dan sembunyi di ketiak emak bapak.

Aset yang diutamakan dalam membangun sebuah pondasi yang kokoh belum terlihat, dan terhenti sejenak menghela nafas akan kehidupan yang tidak ada pilihan maupun perubahan dengan budaya yang bergeser tanpa garis batas yang jelas, hingga bertutur sulit sekali dibentuk, belum terbentuk sepenuhnya menjadi sebuah ciri khas maupun karakteristik sebuah masyarakat baru dalam satu negara. Budaya yang terlihat adalah kita memang agak kebarat-baratan, agak mengikuti jejak Imperialis, juga mengikuti budaya kebebasan yang ada, walaupun menjunjung tinggi kata berdemokrasi. Terlalu labil? Budaya baru yang terlihat adalah sebenarnya karakteristik masyarakat yang ingin terlihat muda, trendy, dan sangat ‘keren’, dampak dari kebebasan berekspresi yang membabi buta tanpa disatukan dengan tujuan yang jelas untuk membangun satu bangunan kokoh sebagai individu.

Etiket  termakan oleh jaman kata budaya sendiri yang dirasakan ‘budaya adalah hal yang sudah sangat kuno’ tidak cocok lagi ditampilkan di publik. Sulit meminta maaf adalah bagian dari budaya yang tidak diajarkan dengan baik, juga budaya mencontek adalah langkah awal ketidak jujuran karena takut akan perundungan dan terpojokan, hingga memalsukan identitas hingga sertifikasi yang seharusnya tidak etis untuk dilakukan.

Awal mula kesenjangan pun dipertontonkan secara terbuka, isu yang mencuat menyiratkan inti yang sebenarnya generasi dan tokoh seperti apa yang akan hadir dimasa yang akan datang, bila tidak ada juga perubahan kita bersiap di negara yang tidak lagi menganut paham berdemokrasi yang sesungguhnya. Merangkai sebuah karakter masyarakat membutuhkan waktu 10 tahun, namun meruntuhkan segalanya hanya sekejap mata.

Budaya belajar dan bernalar pun dibutuhkan dan diharap dapat diayomi kembali dalam masyarakat untuk melerai masalah ego diri, karakter bagi usia yang tidak muda hal ini akan menjadi sensitif, pengalaman adalah hal yang paling berharga jadi yang paling penting diketahui, suatu yang bernilai membutuhkan tenaga, buah yang baik berasal dari pohon yang baik, dan budaya dipaksakan untuk direfleksikan pada generasi selanjutnya.