Kategori
Artikel

Brahma Chellaney, dalam bukunya “Water, Peace and War”

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA –Pakar geografi dan pemenang beberapa penghargaan bergengsi dunia, Brahma Chellaney, dalam bukunya “Water, Peace and War”, menulis bahwa konflik-konflik brutal dan berlarut-larut abad ini dipicu oleh perebutan air.

Ke depan, konflik akan makin meluas seiring dengan kapitalisasi air dan meningkatnya perebutan air, akibat pilihan pembangunan yang boros air dan miskin alternatif. Tesis Chellaney ditimpali oleh fakta, bahwa ancaman perubahan iklim makin nyata. Selain sejumlah dampak yang sudah sering diekspos media, seperti naiknya permukaan air laut, perubahan musim, dan naiknya temperatur secara permanen, perubahan iklim juga mempercepat proses penggurunan (desertifikasi) di berbagai belahan dunia. Karena kondisi alamiah yang kering dan panas sepanjang tahun, daerah-daerah arid dan semi-arid mengalami pukulan paling hebat. Karena itu, patut dikembangkan pilihan kebijakan pembangunan yang beradaptasi terhadap iklim. Bukan sebaliknya. Sayangnya, meski kenyataan ini telah diinformasikan, para pengambil kebijakan publik tetap saja mengambil pilihan pembangunan yang berisiko. Tidak saja gagal merestorasi wilayah-wilayah yang dekat dengan ancaman penggurunan, beberapa pemerintah subnasional justru menggalakan aktivitas yang sarat dengan beban penggunaan air seperti pertambangan. Pilihan pembangunan seperti ini membawa suatu daerah menuju kebangkrutan ekologis. Contoh terkini adalah kasus tambang di Flores, khususnya Manggarai Timur. Pelajaran SD demikian gamblang bahwa NTT pada umumnya dan Flores, khususnya, masuk dalam iklim semi-arid. Curah hujan rata-rata 1000-2000 mm per tahun, hanya 3-4 bulan basah dan didominasi bulan kering yang mencapai 5-7 bulan. Wilayah seperti ini oleh pakar-pakar ekologi seharusnya dicegah dari kegiatan berbeban ekologis yang tinggi. Tanpa harus pakar pun, observasi cepat atas wilayah-wilayah ini mengkonfirmasi para ahli itu. Allan Savory, ekolog terkemuka dan salah satu peneliti paling berpengaruh dalam mengatasi penggurunan (desertifikasi) global menganjurkan daerah-daerah semi-arid dihijaukan kembali melalui rehabilitasi dengan menggabungkan teknik pertanian dan konservasi. Metode yang ditawarkan adalah manajemen komprehensif yang mengandalkan perpaduan antara holistic grazing dan management. Yang diandalkan adalah kekuatan ekosistem lokal untuk bertahan dan intervensi manajemen yang teratur dan terpola. Menurut sistem ini, salah satu faktor penting ekosistem yang kerap diabaikan adalah rumput setempat yang tahan terhadap iklim makro, dan gejolak ekosistem mikro, seperti, kekeringan dan krisis air. Rumput yang dipadu dengan spesies tumbuhan lainnya pada dasarnya adalah benteng pertahanan yang kuat untuk menahan laju erosi. Teknologi modern Dalam sistem pertanian dan peternakan mana pun, erosi adalah bencana. Manakala dipadu dengan peternakan yang berotasi, sistem ini tidak hanya menghidupkan ekosistem setempat. Tetapi, juga memberi manfaat ekonomi. Di seluruh dunia, 15 juta hektare lahan telah mengadopsi model ini. Konservasionis di Indonesia juga mengandalkan metode ini. Namun, beberapa tulisan dan pendapat mendakwa pertanian sebagai pilihan konservatif, seolah-olah pendukung ide ini gagap dengan perkembangan teknologi dan rendah inovasi. Lebih celaka pula (dan barangkali memalukan), argumen seperti ini digunakan untuk membenarkan pendapat subjektif, bahwa ukuran perkembangan kemajuan adalah pabrik dan tambang. Alih-alih subjektivitas seperti itu, pertanian dan peternakan telah berkembang canggih dengan inovasi teknologi modern yang mumpuni. Pilihan ini objektif! Bukan kemunduran. Coba tengok perkembangan sistem pertanian terbaru di berbagai negara maju yang berbasis pertanian. New Zealand, misalnya, lebih dari 70% ekspornya mengandalkan industri primer pertanian dan peternakan. Negara ini sukses mengkombinasikan ilmu lama ekologi carrying capacity, praktik pertanian yang baik dan dipadu dengan konservasi, inovasi teknologi pengolahan yang efisien dan energi terbarukan (renewable energy). Akibat turbulensi politik dalam perdagangan minyak global pada 1980-an, New Zealand telah memaksa diri memproduksi bensin sintetis dari gas alam. Selain menyediakan energi mandiri, mereka mampu mengurangi beban impor minyak yang tinggi. Mata rantai pasok pertanian secara langsung menghubungkan dan menyediakan jembatan dengan end user seperti retailer produk, restoran, tempat belajar, dan menjadikan pertanian sebagai ekonomi vibran yang lintas disiplin. Saat ini, penelitian masih terus dikerahkan di negara itu untuk mengurangi akibat penggunaan senyawa penyubur yang membiakkan spesies asing pada sungai. Namun, secara global, New Zealand sangat kompetitif dengan pertanian dan peternakan mereka. Tidak hanya New Zealand. Di belahan dunia lain yang beriklim kering pun, pemerintahan sub-nasional berbondong-bondong mengembangkan praktek restorasi lahan, diikuti dengan konservasi sesuai iklim setempat. Biologis dan agronomis bersama komunitas setempat berkolaborasi menemukan cara terbaik. Misalnya permakultur (pertanian padang pasir) menjadi trend baru di negara beriklim arid seperti Yordania. Sangat sukses. Karena itu, pendapat yang mengatakan pertanian adalah pilihan mundur, tidak hanya keliru, tapi konyol. Rajinlah baca perkembangan belahan dunia lain, supaya tidak mengalami kesepian berpikir. Karena “mati akal” adalah kematian sesungguhnya bagi orang yang mengaku diri intelektual. Apalagi intelektual publik. Pelajaran untuk NTT dan Manggarai Timur Berseberangan dengan kecenderungan global, Pemerintah Provinsi NTT dan Kabupaten Manggarai Timur, mengalokasikan sebagian wilayah itu untuk pertambangan batu gamping dan pabrik semen. Sebelumnya, telah merajalela pula mangan dan biji besi. Pilihan demikian itu, di samping risiko pencemaran, akan mengokupasi lahan dalam jumlah besar termasuk lahan-lahan subur, menghilangkan tutupan, dan menyedot air dalam jumlah besar. Semuanya itu mempersempit luas lahan yang layak untuk pertanian dan meningkatkan kompetisi akses pada air. Beberapa pihak meyakini pertanian dapat bertetangga dengan tambang. Hal ini pun dibuat jadi pernyataan publik oleh sejumlah pejabat. Sayangnya, tidak ada studi yang meyakinkan untuk membenarkan klaim ini. Beberapa kajian yang didukung perusahaan-perusahaan tambang di Australia memang menggembar-gemborkan kemungkinan itu. Namun, mereka tidak cukup mampu menjawab kritik atas potensi intrusi pencemar pada produk-produk pertanian. Tidak ada pilihan lain, selain trade off. Pilihan yang satu (tambang) disertai dengan membuang yang lain (pertanian). Lagipula, soal sepele saja. Siapa yang mau makan sayur dari daerah tambang. Tindakan pemulihan ekologislah yang seharusnya dilakukan. Bukan tambang. Kajian Anny Mulyani dkk (2013) menghitung sekitar 71% wilayah NTT adalah daerah berbukit (lereng 15-30%) hingga pegunungan (lereng> 30%). Curah hujan intensitas tinggi selama musim hujan dan topografi lereng curam menyebabkan erosi tanah yang tinggi. Kenyataan demikian itu, meskipun ancaman, dapat pula menjadi suatu bentuk intervensi pertanian. Dampak jangka panjang dari proses erosi mengakibatkan dangkalnya tanah di permukaan bukit dan lereng-lereng, namun kekayaan unsur hara di dasar lembah. Menurut Mulyani dkk, pemilihan tanaman yang sesuai dengan ekosistem dan pengaturannya dalam bentang alam untuk mengendalikan erosi, dan menentukan keberlanjutan pertanian di daerah sangat penting. Sehingga, metode pertanian konservasi yang ditawarkan para ekolog terkemuka di atas, patut dipertimbangkan. Pemulihan ekologis melalui inovasi pertanian memang mudah dan renyah diucapkan. Namun, amat kompleks ketika diterapkan. Selain melibatkan banyak ilmu dan inovasi, juga butuh keyakinan dan kemauan politik pengambil kebijakan. Sama pentingnya adalah keterlibatan aktif komunitas setempat; petani sekaligus yang empunya masa depan. Hanya dengan cara itu kita bisa mencegah krisis air dan sepupu dekatnya, krisis pangan. Masa lalu sudah cukup. Sepanjang sejarah dan bukti-bukti yang ditunjukkan, peradaban manusia lebih mudah melenyapkan dan menghancurkan hutan dan ekosistem daripada membangunnya kembali.
Generasi saat ini harus membuktikan bahwa dengan teknologi dan inovasi, ekosistem bisa dipugar.
Selain untuk bernapas buat dirinya sendiri, juga memberi keuntungan bagi kita yang bersandar padanya.
Hal itu mungkin dan sudah dibuktikan, dapat dilakukan.

@drr