Kapolri : BOM yang baru-baru ini meledak di sebuah rumah kontrakan di Bandung adalah fenomena baru, pelaku TERINSIPIRASI untuk membuat bom MESKI TIDAK MEMILIKI JARINGAN*.

 

Oleh: Dhedi Rochaedi Razak

BusurNews.Com,Jakarta – KAPOLRI Jenderal Tito Karnavian mengatakan
*BOM yang baru-baru ini meledak di sebuah rumah kontrakan di Bandung adalah fenomena baru, pelaku TERINSIPIRASI untuk membuat bom MESKI TIDAK MEMILIKI JARINGAN*.

 

Para pelaku tidak memiliki kelompok seperti halnya jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) maupun Mujahidin Indonesia Timur (MIT).
Para pelaku ini justru memilih berjihad secara sendiri tanpa pemimpin atau LONE WOLF.

Mereka belajar dari internet, seperti pengibaran bendera Islamic State (IS) di Polsek Kebayoran Lama adalah LONE WOLF.
Kasus yang di Masjid Falatehan juga LONE WOLF.

Sejumlah pelaku menilai jihad sebagai cara menebus dosa atas perbuatan mereka di masa lalu, mencontohkan ada pelaku yang merupakan mantan pengguna narkoba atau mantan peminum minuman keras.

“Kasus bom panci, dari interview, dia mantan pengguna narkoba.
Di Polsek Nagreg bawa parang itu bertato semua, dulu minum-minuman keras.
Katanya dalam rangka menebus dosanya dalam rangka lakukan jihad, siap mati”.–

Menurutnya,
Upaya untuk menghadapi ancaman teror jenis itu, penangkalan dalam ranah siber berperan penting.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menjadi leading sector dalam hal ini.

*Mereka bisa mendeteksi website-website radikal, chatting radikal, dan komunikasi-komunikasi yang bernuansa RADIKAL*.

KAPOLRI,
Meminta anggotanya untuk bekerja keras memerangi terorisme yang kini ancamannya nyata di masyarakat.
“Perlu kerja keras dan luar biasa. Kalau biasanya kerja 8 jam, kita harus siap kerja 24 jam, kan begitu. Kalau orang lain (libur) ya kita tidak pernah ada libur, untuk bekerja maksimal agar keamanan di wilayah hukum tetap kondusif*.-

“Dengan ditemukannya bom panci di Buah Batu, menunjukkan bahwa ancaman itu bisa hadir di mana dan kapan pun.”

TERORISME adalah kejahatan luar biasa yang tidak bisa dibiarkan dengan alasan apa pun, untuk itu potensi teror perlu dipangkas dengan bantuan para ulama dan tokoh masyaraat di seluruh daerah.

ALIM ULAMA,

Dapat memberikan keyakinan kepada masyarakat untuk menghindari aktivitas yang berbau radikalisme.
“Mohon dukungan, khususnya para alim ulama dan sesepuh untuk meyakinkan masyarakat agar jangan terbujuk hal-hal yang menyesatkan,”
tandas KAPOLRI.

(Rn)