Kategori
Artikel

Betapa sangat pentingnya kehadiran seorang gubernur bank sentral di dalam menghadapi krisis.

 

Oleh : Dhedi Razak

Busurnews.com, JAKARTA — Betapa sangat pentingnya kehadiran seorang gubernur bank sentral di dalam menghadapi krisis.

Alan ialah ekonom yang sekalipun sampai dua kali membaca buku The General Theory of Employment, Interest and Money, karya cemerlang John Maynard Keynes, dia tetap tidak tertarik pada Keynes.
Dia menga gumi dua ekonom, Adam Smith, yang katanya paling dalam memengaruhinya secara intelektual, dan Joseph Schumpeter yang konsep destruksi kreatifnya berperan dalam perubahan teknologi di sebuah masyarakat kapitalis modern.

Dia juga dipengaruhi John Locke, filsuf moral Inggris.
Di tengah amat sibuk sekalipun, Alan setiap hari menyempatkan diri untuk tenang belajar dan berefleksi.

Dengan bekerja di rumah, tergambarlah dampak ekonomi akibat pandemi korona yang dapat membawa kita ke dalam krisis terberat.

Penulis tergerak membaca buku autobiografi Alan Greenspan, yang lama tersimpan di rak buku.
Berjudul The Age of Turbulence, buku itu terbit 13 tahun lalu (2007).
Isinya mengesankan, antara lain, tak hanya sekali dalam riwayat hidup Alan, Kepala Staf Gedung Putih sampai perlu mengirim pesawat khusus untuk menjemputnya.

The Fed ialah lembaga independen.
Pandangan Alan sangat didengarkan Gedung Putih.
Bank Indonesia juga independen, yang sebagian sayap kekuasaannya diambil oleh atau diberikan kepada Otoritas Jasa Keuangan.
Bersama Menteri Keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan, mereka berempat bersatu di dalam tubuh yang bernama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Berkaitan dengan dampak pandemi korona, KSSK pekan lalu rapat dengan Komisi XI DPR. Rapat itu antara lain menghasilkan kesimpulan pelebaran defi sit dari 1,76% menjadi 5,07% dari PDB.

Defisit yang lebih lebar memang diperlukan, tetapi semua itu baru berupa kesimpulan rapat sebuah komisi di parlemen.
Rasanya belum menjadi keputusan legislatif, keputusan negara.

KSSK punya protokol keuangan menghadapi krisis.
Namun, krisis kali ini berwatak jauh lebih kejam.
Pandemi menyebar luar biasa cepat melampaui batas-batas negara, menembus semua sistem politik dan berjangkit di semua sistem perekonomian.
Ribuan manusia mati, jutaan manusia tinggal di rumah, jutaan manusia kehilangan pekerjaan.

Korona tak mengenal ideologi.
Bukan hanya Italia remuk, juga Inggris, bahkan boleh jadi AS.
Rusia pun dihajar korona.
Oleh karena itu, selain mendengar KSSK dan pembantunya di kabinet, kiranya Istana, gedung (bercat) putih di Jakarta ataupun di Bogor tempat Presiden bermukim, perlulah juga mendengarkan pandangan para begawan ekonomi.

Suatu hari di tengah serangan publik terhadap perubahan undang-undang yang mengatur KPK, Presiden mengundang intelektual dan pakar hukum.
Presiden begitu peka terhadap isu politik menyangkut KPK.
Kini akibat pandemi terhadap perekonomian, kiranya Presiden perlu kepekaan yang jauh lebih sensible.

Kabinet kering ekonom.
Menko Perekonomian bukan ekonom.
Menko Maritim dan Investasi bukan ekonom.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas bukan ekonom.
Menteri Perdagangan bukan ekonom.
Menteri Perindustrian bukan ekonom.
Menteri Tenaga Kerja bukan ekonom.
Menteri ESDM bukan ekonom.
Menteri Koperasi dan UKM bukan ekonom.
Menteri Perhubungan bukan ekonom.

Yang ekonom ialah Menteri Keuangan yang sangat mumpuni dan seorang lagi yang ditempatkan sebagai menteri riset dan teknologi.

Daftar dapat diperpanjang ke sekitar Presiden.
Menteri Sekretaris Negara bukan ekonom.
Sekretaris Kabinet bukan ekonom.
Kepala Staf Kepresidenan bukan ekonom.
Di lingkaran terdalam di Istana itu, yang boleh diduga pembisik presiden, tak seorang pun ekonom.

Wakil Presiden juga bukan ekonom.
Berbeda di masa SBY.
Di kabinet SBY jilid 2, Wapres seorang profesor ekonomi yang berjam terbang sangat tinggi sebagai eksekutif puncak di bidang ekonomi di kabinet dan Gubernur BI.

Presiden ialah jabatan politik.
Kabinet kini bertabur orang politik.
Miskin ekonom.

Karena itu, seyogianya Istana membuka pintu pikiran untuk mendengarkan sejumlah ekonom dari yang paling senior seperti Boediono sampai yang lebih muda seperti M Chatib Basri.
Dengarkanlah begawan ekonomi, penyeimbang (begawan) politik.

Kepemimpinan mengandung makna berkemampuan membuat batas-batas baru.
Terlebih di dalam krisis, pemimpin perlu menunjukkan segi-segi terbaiknya.

Sejujurnya penulis mengkhawatirkan tidak hanya miskinnya ekonom dan berlimpahnya politikus di kabinet, tetapi juga keringnya intelektualisme di kabinet.

Kenapa dalam tulisan ini perlu dikutip bahwa seorang Alan Greenspan dipengaruhi fi lsuf John Locke?
Kenapa pula perlu disebut dia tiap hari perlu menyediakan waktu tenang untuk belajar dan berefleksi?

Jawabnya karena, ‘Pada umumnya’, demikian tulis Henry A Kissinger, ‘suatu ketika dalam kedudukan tinggi menghabiskan modal intelektual; bukan menciptakannya’.

@drr