Kategori
Artikel

BERTANI, BERKEBUN, DAN BERCOCOK TANAM belakangan memang diterpa dengan bermacam bentuk ancaman.

 

Oleh  : Dhedi Rochaedi Razak

Busurnews.com,JAKARTA —  BERTANI, BERKEBUN, DAN BERCOCOK TANAM belakangan memang diterpa dengan bermacam bentuk ancaman.

Industrialisasi, misalnya.
*Perkembangan INDUSTRI yang cukup pesat turut menggeser profesi tani. Bertani yang dulu “seksi” saat ini tak lagi diminati*.

Belum lagi,
*DIPERBURUK dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang kurang berpihak kepada para petani tersebut, padahal, profesi petani, terutama dengan budi daya tanaman-tanaman produktif, sangat mulia*.

ISLAM MEMOSISIKAN BERTANI DAN BERKEBUN SEBAGAI PEKERJAAN YANG TERHORMAT.

📧
–. Sebuah kitab klasik besutan Abu Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Umar al-Habasyi al-Wishabi yang berjudul
al-Harakah fi Fadhli as-Sa’yi wa al-Harakah

*mencoba menguraikan urgensi bercocok tanam dan perhatian Islam dalam pengelolahan hasil bumi dari berkebun dan bertani*.

Ulama yang wafat pada 782 H itu menegaskan bahwa secara garis besar, ada tiga profesi utama, yaitu
bercocok tanam,  industri, dan
perdagangan.

Manakah yang paling istimewa?

Beragam respons muncul.

*Ada yang menilai industri paling bagus, sebagian besar menganggap perniagaan, tetapi pihak lain beranggapan bercocok tanamlah yang paling terhormat*.

Mengapa?

Mengutip perkataan Imam al-Mawardi, bercocok tanam adalah profesi paling terhormat.

Ini lantaran pekerjaan tersebut menuntut dedikasi yang tinggi dan sikap tawakal penuh terhadap Allah SWT.
Al-Mawardi pun menukilkan sebuah hadis tentang keutamaan bertawakal.

“Orang yang bertawakal akan masuk surga tanpa hisab,”
sabda Rasulullah SAW dalam hadis itu.

Imam an-Nawawi menambahkan, *pekerjaan ini diposisikan terhormat karena memberikan manfaat yang sangat banyak bagi kelangsungan hidup manusia*.

*Bahkan, faedah bercocok tanam tidak hanya terbatas untuk manusia, tetapi juga berguna bagi makhluk hidup lainnya*.

*Binatang-binatang yang hidup di bumi juga merasakan dampak dari bercocok tanam, seperti sapi, kerbau, kuda, ataupun burung*.

Al-Wishabi menegaskan,
*Hukum BERTANI adalah FARDHU KIFAYAH*.

Kewajiban tersebut gugur jika telah dilaksanakan oleh sekelompok orang.
Bila tak ada satu pun pihak yang melaksanakan tuntutan ini, sanksi dosa akan ditujukan ke semua orang.

*Penempatan profesi ini dalam kategori fardhu kifayah disebabkan urgensi dan ketergantungan segenap umat manusia terhadap hasil bercocok tanam*.

Kedua imam terkemuka, yakni Imam al-Haramain dan an-Nawawi, menyatakan,

*ada kalanya fardhu kifayah bisa lebih utama ketimbang fardhu’ain, karena, tanggungan fardhu kifayah bila tak terpenuhi oleh satu pun orang, dosanya akan dipikul secara kolektif*.

*Berbeda dengan FARDHU’AIN yang seandainya tak dikerjakan dampak hukumnya kembali ke individu saja*.

(Rn)